
Iis membuka surat undangan dari Anisa yang justeru dititipkan pada Ridwan, tampak Iis membacanya sejenak, lalu menyimpannya di laci meja kerjanya di kantor Guru.
Entahlah, rasanya sejak bertemu Anisa terakhir kali, Anisa memang seperti menjaga jarak.
Meski Anisa berkata ia tak masalah jika Iis bersama Ridwan karena hari itu memergoki Ridwan berada di rumah Iis, tapi nyatanya setelah itu Anisa menutup komunikasi dengan Iis. Bahkan sampai surat undangan tak ia berikan sendiri macam tak pernah dekat sebagai sahabat saja.
Tapi...
Tentu Iis tak ingin berburuk sangka pada Anisa. Ia tak mau berpikir macam-macam tentang sahabatnya itu.
Mungkin Anisa memang tak sempat, dan terlalu sibuk dengan acaranya yang akan segera diselenggarakan.
Iis berusaha mengerti dan memaklumi, karena memang sudah seharusnya sebagai sahabat ia begitu.
Iis lantas tampak menoleh pada Ridwan yang melakukan hal yang sama, membaca undangan dari Wisnu dan Anisa, lalu menyimpan undangan itu ke dalam laci meja kerjanya.
"Mas mau datang bukan?"
Tanya Iis pada Ridwan.
Sejenak Ridwan menoleh ke arah Iis juga, dan tampak Ridwan mengangguk,
"InshaAllah datang, Iis mau datang sama-sama?"
Tanya Ridwan.
Berhubung undangannya memang diperuntukkan acara resepsi di hotel pusat kota, mungkin memang lebih baik datang bersama-sama dengan menggunakan taksi.
Iis terlihat diam sejenak seperti berpikir, lalu...
"Ya nanti tanya Ibu, beliau sepertinya juga pasti dapat undangan sendiri."
Kata Iis.
Ridwan mengangguk,
"Hari ini aku tidak perlu ke kantor yayasan kan Mas? Aku ada jadwal les anak-anak."
Ujar Iis.
Ridwan menggeleng,
"Ya tidak apa-apa, ke kantor yayasan saat memang ada pekerjaan saja, kamu tidak bisa terlalu lelah juga kan kata Ibu."
Ujar Ridwan.
Iis tersenyum, lalu memutuskan kembali fokus menyiapkan materi yang akan ia ajarkan pada anak-anak.
"Bu,"
Bu Windi memanggil Iis seraya mendekat, bersamaan dengan itu bel sekolah terdengar berdentang beberapa kali.
"Ya Bu,"
"Keponakanku, anak Mbak Yu, pengin les privat ke Bu Iis, bisa tidak?"
Tanya Bu Windi.
"Lho, kan panjenengan juga buka les to Bu?"
Iis tampak menatap Bu Windi heran.
"Duh, macam tidak tahu saja anak sekarang Bu, kalau diajari keluarga sendiri susah, banyak maunya, yang ada malah ngajak ribut."
Ujar Bu Windi.
__ADS_1
Iis tersenyum,
"Les privat berarti saya datang ke rumah Mbak Yu nya Bu Windi nggih?"
Tanya Iis.
Ridwan yang duduknya tak jauh dari Iis, jelas jadi seperti tak sengaja mendengarkan.
"Ya lumayan memang Bu, makanya ini saya tanya dulu, barangkali panjenengan keberatan karena jarak tempuhnya agak jauh."
Kata Bu Windi.
Ridwan di tempatnya sebetulnya ingin sekali ikut bicara jika lebih baik Iis jangan dulu ambil pekerjaan yang terlalu melelahkan mengingat kondisi kesehatannya ternyata mudah drop sekarang ini.
Apalagi, Iis juga katanya ingin mulai mengikuti kuliah pasca sarjana dua bulan lagi, tentu banyak yang harus ia siapkan.
Ya...
Keinginan Iis untuk kuliah lagi, Ridwan dengar ketika tiga hari lalu Ibu dan Mbak Wening ternyata soan ke tempat Iis untuk bertemu dengan Ibunya Iis secara pribadi guna membicarakan soal hubungan Iis dan Ridwan ke depannya.
Acara pertemuan yang dilakukan mereka tanpa diketahui Ridwan sebelumnya itu, menghasilkan kesepakatan di antara Ibunya Iis dan juga Ibunya Ridwan, bahwa nanti lamaran akan dilaksanakan satu bulan lagi, setelah itu baru akan membicarakan pernikahan.
Kemungkinan waktu pernikahan yang inginnya Ibunya Iis adakan satu bulan setelah lamaran diminta Iis secara pribadi agar diundur setelah persiapannya masuk kuliah lagi selesai.
Iis juga tentu menyampaikan keinginannya untuk kuliah lagi pada Ibunya Ridwan dan Mbak Wening saat itu karena ingin mereka memintakan ijin pada Ridwan bilamana memang mereka berjodoh dan jadi menikah, maka Iis mungkin tak bisa sepenuhnya menjadi Ibu Rumah Tangga yang hanya di rumah saja mengingat banyaknya kegiatan di luar.
"Nanti saya pikirkan nggih Bu Windi, kalau sudah ada keputusan, nanti saya sampaikan ke Bu Windi."
Kata Iis akhirnya.
Bu Windi menganggukkan kepalanya,
"Mudah-mudahan bisa Bu, lumayan kalau nanti anaknya manut belajar, bulanannya bisa lebih besar dari gaji honorer."
Kata Bu Windi.
Bu Windi kemudian permisi pada Iis untuk lebih dulu keluar ruang kantor Guru untuk menuju kelasnya, Iis sendiri akan ada jam pelajaran nanti di jam kedua.
Ruangan guru dalam sekejap sepi, karena tinggal Iis dan Ridwan yang memang belum mendapatkan kelas yang mana mereka akan bertanggungjawab penuh sebagai wali kelas.
Iis menghela nafas, mendengar Bu Windi menyebutkan soal gaji les privat yang kemungkinannya akan lebih besar dari gajinya menjadi Guru honorer jelas cukup membuat Iis jadi tergiur.
Tak bisa dipungkiri, Iis memang butuh uang tambahan jika mau ikut program S2.
"Jangan kalau terlalu jauh Bu."
Tiba-tiba suara Ridwan terdengar mengejutkan Iis,
Iis menoleh ke arah Ridwan,
"Kenapa Mas?"
Tanya Iis.
"Kamu nanti lelah dan bisa sakit lagi."
Kata Ridwan.
Suaranya kini terdengar sangat lembut pada Iis, membuat Iis hatinya berdesir dan merasa hangat.
"Tapi, jika gajinya lumayan, tentu itu tidak masalah Mas, paling tidak jika biaya kuliah nanti ternyata membengkak, aku jadi tidak perlu merepotkan siapapun."
Kata Iis.
"Jika sudah bersamaku tentu biaya sekolah kamu kan jadi kewajibanku."
__ADS_1
Kata Ridwan.
Iis tampak menatap Ridwan,
Ah yah, menikah...
Kenapa rasanya jadi aneh sekali sekarang?
Batin Iis.
Ridwan tak pernah mengucapkan kalimat cinta atau semacamnya pada Iis sebelumnya, hubungan mereka pun dekat sebagaimana teman kerja saja.
Hati Iis yang memang telah lama tertambat pada sosok Ridwan pun bahkan rasanya sulit sekali percaya, rasanya macam mimpi di siang bolong yang masih tak bisa diterima akalnya saking tiba-tiba nya.
Ah ya Allah...
Sungguh mungkin memang ini yang namanya jika Allah telah berkehendak.
Tatkala Ibunya Iis mengatakan pada Ridwan tentang keinginannya menitipkan Iis, tak lama kemudian keluarga Ridwan benar-benar datang berkunjung dan tanpa menunggu waktu lagi langsung menyampaikan keinginannya meminang Iis untuk Ridwan.
"Maaf Iis, jika aku lancang, aku tahu bahwa kita belum resmi..."
"Tidak Mas, tidak apa..."
Iis memotong langsung kalimat Ridwan yang belum sempat selesai.
"Aku hanya belum terbiasa jika harus membebankan kebutuhan pada orang lain."
Lirih Iis,
"Orang lain?"
Ridwan mengerutkan kening.
Kenapa orang lain?
Jika sudah akan jadi pasangan, apakah itu masih saja namanya orang lain?
Batin Ridwan.
Iis yang merasa Ridwan salah sangka, tampak langsung berusaha meralat.
"Oh bukan Mas, maksudnya, aku terbiasa mandiri, apa-apa aku akan menyiapkan sendiri semuanya, memenuhi kebutuhan sendiri, aku kan yatim, jadi sudah terbiasa apapun berusaha sendiri."
Kata Iis.
Ridwan mengangguk mengerti, ia yang juga hidup sebagai yatim sejak lama tentu paham sekali pemikiran Iis.
"Ngg sebaiknya nanti saja kita bicarakan di luar tempat kerja nggih Mas, aku merasa di sini bukan tempatnya membicarakan masalah pribadi."
Ujar Iis, tampak Ridwan mengangguk lagi.
"Ya, nanti aku akan sempatkan mampir sebentar ke rumah sepulang dari yayasan."
Kata Ridwan,
"Iya."
Ridwan kemudian menyibukkan diri menyiapkan materi untuk ia mengajar, begitu juga dengan Iis.
Keduanya terlihat sibuk dengan kesibukan masing-masing, hingga bel ganti pelajaran berdentang.
Iis dan Ridwan sama-sama keluar dari ruang Guru menuju kelas masing-masing untuk membawakan materi pelajaran mereka di kelas sebagaimana jadwal dari sekolah.
Iis ke ruang kelas enam, dan Ridwan menuju ruang kelas empat.
__ADS_1
**-------------**