
Pagi hari menjelang, Anisa bangun dari tidurnya saat alarm hp nya tepat jam lima pagi.
Anisa sejenak senyum-senyum sendiri, melihat sebentar aplikasi chatnya, dan melihat hasil chat nya dengan Ridwan semalam.
Ya chat yang bolak balik mengetik itu, akhirnya hanya berakhir dengan, Assalamualaikum dan Waalaikumsalam.
Tentu tak akan bisa kita bayangkan bagaimana orang-orang yang pemalu itu hidup. Tapi ini sungguh-sungguh ada, wkwkw...
Anisa meletakkan hp nya di atas meja dan kemudian turun dari tempat tidur, ia akan pergi mandi lalu sholat subuh.
Setelah itu ia akan sarapan dan bersiap ke toko emas lagi.
Ya, setelah kemarin ia sibuk mencari keberadaan surat lama dari Ridwan di gudang dan tidak ketemu, untungnya ada momen di mana ia dan Ridwan akhirnya tetap bisa bicara lalu berakhir dengan bertukar nomor hp.
Mungkin ini bisa jadi akan membuat proses dekatnya mereka harus dimulai dari awal lagi.
Tapi tentu itu bukanlah masalah.
Ada keyakinan dalam diri Anisa bahwa Ridwan masih memiliki ketertarikan padanya, masih menyimpan rasa yang sama seperti dulu padanya, dan kelak pasti Ridwan akan mengungkapkannya lagi kepada Anisa. Begitulah batin Anisa.
Anisa pun akhirnya seperti rencananya ia pergi mandi, lalu setelah itu ia sholat, baru kemudian ia turun dari lantai atas menuju ruang makan.
Di meja makan sudah tersaji sarapan buatan Mbok Rat, dan juga...
Ah' Anisa langsung terlihat malas mendekati meja makan, manakala matanya melihat parcel pemberian Wisnu.
"Kenapa parcelnya harus di letakkan di sini to Mbok?"
Tanya Anisa terlihat sangat terganggu dengan keberadaan si parcel yang tal salah apa-apa.
Mbok Rat yang baru muncul lagi dari dapur membawa sepiring gorengan terlihat memberikan isyarat pada Anisa bahwa ada seseorang di belakang Anisa.
Anisa pun menoleh, dan dilihatnya Mbak Faizah yang sedang mendekat.
"Mbak yang letakkan di sana? Kenapa?"
Mbak Faizah ketus.
Malas ribut lagi dengan kakaknya, Anisa pun diam saja, enggan menyahut.
Anisa memilih duduk di kursi ruang makan.
"Nanti malam kita diundang ke rumah Bibi Sundari."
Kata Mbak Faizah.
"Lah, Abah juga belum pulang, buat apa?"
Anisa menatap Kakaknya heran,
"Lho memangnya apa salahnya, hanya undangan makan kekeluargaan,"
"Mbak sajalah yang datang, aku..."
"Kamu ini, selalu saja semau sendiri, kapan sebetulnya benar-benar memikirkan kepentingan keluarga?"
Mbak Faizah langsung marah melihat reaksi sang adik yang menurutnya adalah bentul awal sebuah pembangkangan.
"Lho, apa salahnya aku bilang Mbak Faizah saja, aku mau ke rumah Iis."
Kata Anisa.
"Apa tidak ada alasan yang lebih penting dari ke rumah Iis ?"
"Buatku rumah Iis itu penting, di sana aku bisa mendapatkan sebuah keluarga."
__ADS_1
"Lancang, kamu mau bilang tidak merasakan adanya keluarga di sini? Kamu tidak sadar yang membuat kita tidak seperti keluarga lain yang punya Umi itu adalah kamu!! Kamu yang bunuh Umi, kamu yang membuat Umi meninggal!"
Mbak Faizah suaranya tinggi sekali di pagi ini.
Anisa menatap kakaknya nanar, kedua matanya seketika langsung berurai air mata.
"Kenapa Mbak Faizah begitu jahat padaku? Selalu mengatakan aku membunuh Umi?"
Tanya Anisa di tengah tangisnya yang akhirnya pecah.
"Selalu begini sejak kecil, cengeng, manja, kolokan!"
Mbak Faizah kesal. Sangat kesal.
Niatnya untuk sarapan akhirnya menguap, ia meninggalkan ruang makan sambil memanggil Suci.
"Ciii... Suciiii... Kita cari bubur ayam saja yuk, makan di luar."
Kata Mbak Faizah.
Anisa di ruang makan masih menangis, Mbok Rat yang tak tega hanya bisa menepuk-nepuk lembut bahu Anisa.
**---------------**
"Semalam bagaimana? Sudah ada hasil?"
Tanya Mbak Wening sambil mengulek sambel di dapur saat Ridwan ke dapur dan menyeduh kopi.
"Kalau lewat mimpi belum, tapi biasanya kalau tidak diberi petunjuk lewat mimpi ya misal memang itu tidak baik untukku nantinya pasti Allah buat mereka menjauh, tapi kalau baik ya ndilalah nanti Allah mudahkan semuanya."
Kata Ridwan.
"Kalau Mbak sih optimis kamu sanggup Wan."
Ridwan tersenyum sambil mengaduk kopinya, aroma kopi asli tercium semerbak, uap panasnya seolah memenuhi ruangan dan menjadikan dapur seolah beraroma kopi yang khas.
"Jangan begitu Mbak, nanti dinilai sebuah kesombongan."
Kata Ridwan.
Mbak Wening nyengir,
"Mbak mau buat gorengan, ini dibawakan Wan ke ruang makan."
Kata Mbak Wening.
Ridwan mengangguk, lantas meraih cobek berisi sambel dari tangan Mbak Wening untuk ia pindahkan ke meja ruang makan.
Bersamaan dengan itu Ajeng dan Mbah nya baru saja pulang dari jalan-jalan. Setiap sabtu dan minggu, Ajeng memang senang mengajak Mbah nya jalan-jalan dan begitu juga si Mbah pun senang jalan- jalan bersama Ajeng.
Meskipun, saat jalan-jalan dengan Ajeng, maka Mbah harus siap dengan semua pertanyaan Ajeng yang kadang susah-susah untuk ukuran Mbah.
Seperti,
"Mbah lihat itu burung ada di atas kabel, kenapa manusia kesetrum dan burung tidak?"
"Mbah, apa jadinya kalau tidak ada sawah lagi?"
"Mbah, kata Bu Guru di sekolah, penjajah Belanda di Indonesia itu lamaaaa sekali, dan mereka menyebar ke sepenjuru Nusantara. Apa di sini ada Belanda Mbah?"
"Mbah, kenapa lambang sila ke lima padi dan kapas?"
Ya begitulah selama jalan-jalan dengan Ajeng akan selalu saja ada pertanyaan yang membuat kepala Mbah jadi cenat-cenut.
Yang harusnya pulang jalan-jalan ia fresh, malah akhirnya jadi harus minum obat sakit kepala.
__ADS_1
Tapi...
Jika Ajeng sedang tidak terlalu cerewet seperti hari ini, sudah jelas Mbah sangat senang.
Mbah pulang dengan keadaan segar, karena menghirup udara pagi di desa yang masih asri.
"Naaah kan Mbah, pas sarapannya mateng."
Kata Ajeng yang begitu masuk rumah melihat Pamannya membawa cobek sambal buatan Ibunya Ajeng.
"Eh Ajeng udah pulang."
Sambut Ridwan dengan senyuman manis.
Ajeng tentu saja membalas senyuman sang paman dengan senyuman lebih manis lagi.
"Paman... Paman..."
Ajeng mendekati Pamannya yang sedang menata meja.
Sementara itu terdengar suara menggoreng dari arah dapur.
Mbah berjalan terus menuju dapur, melihat Mbak Wening yang sedang membuat gorengan tempe dan tahu.
"Paman, tebak Ajeng tadi jalan -jalan sampai mana?"
Tanya Ajeng.
Ridwan terdiam, seolah berpikir untuk menebak kemungkinan yang benar, lalu...
"Ke masjid?"
Kata Ridwan akhirnya, membuat Ajeng terpingkal.
"Itu terlalu dekat dong Pamaaaan, aduh Paman nih,"
Ajeng geleng-geleng kepala.
Ridwan nyengir.
"Ke pertigaan lampu merah?"
Kata Ridwan lagi.
Ajeng menggeleng cepat,
"Tidak ke jalan raya Paman, jalan-jalan ke jalan raya kan bahaya."
Kata Ajeng.
"Ooh iya, Paman lupa, maaf, maaf."
Ridwan mengusap kepala Ajeng, lalu...
"Berarti ke sawah?"
Ridwan menatap Ajeng yang cekikikan,
Lalu baru menjawab,
"Sampai ke rumah Bu Guru Iis."
Jawab Ajeng yang kembali cekikikan.
**---------------**
__ADS_1