Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
93. Pagi Hari


__ADS_3

Pagi hari, Ridwan selepas sholat subuh tampak langsung sibuk merendam baju-baju kotor yang ia habis pakai ke Jakarta.


Suara timba terdengar khas memenuhi pagi hari yang hening, ayam jantan milik Mbak Wening yang tidak suka di kandang dan lebih memilih bertengger di atas dahan pohon Mangga dekat kandang berkali-kali berkokok.


"Kukuruyuuuuk..."


"Kukuruyuuuuk..."


Mbak Wening tampak dengan matanya yang masih mengantuk berjalan keluar dari arah rumah, mendapati adiknya sedang menimba untuk mengisi air ke dalam ember, Mbak Wening pun mendekat.


"Wan."


Panggil Mbak Wening,


"Oh, nggih Mbak,"


Ridwan menoleh ke arah Mbak Wening yang kini duduk di sisi sumur,


"Wis biar nanti Mbak yang cuci, kamu itu lho baru juga sampai dari Jakarta tadi malam, hari ini kan juga berangkat mengajar to?"


Tanya Mbak Wening.


"Nggih Mbak."


Ridwan mengangguk.


"Makanya, wis tinggal wae, nanti Mbak yang cuci."


Ujar Mbak Wening, lalu buru-buru ke kamar mandi karena kebelet.


Ridwan menghela nafas, sungguh sejak kecil ia merasa Mbak Wening itu menjadi kakak yang sangat baik, kasihan sekali tapi nasibnya, karena diusia yang masih muda sudah menjadi janda dan akhirnya harus banting tulang menghidupi anaknya sendirian.


Ridwan setelah merendam baju kotornya, akhirnya memutuskan untuk menyapu halaman saja, ia menyapu halaman belakang dan juga halaman depan rumah yang biasanya memang dipenuhi daun-daun kering pepohonan yang banyak tumbuh di sana.


Ridwan menyapu dengan sapu lidi, mengumpulkannya ke dalam "blumbang" (tanah yang digali untuk membuang sampah, yang biasanya dibuat di halaman rumah, agar di sana bisa langsung dibakar).


Ridwan menyapu di halaman depan dengan rajin, beberapa remaja putri yang lewat tampak tersenyum malu-malu manakala Ridwan tak sengaja melihat ke arah mereka saat mereka lewat.


Tentu saja, Ridwan pun hanya mengangguk dengan santun saja, tidak ada acara menyapa sok kenal, apalagi menggoda mereka.


Sungguh, Islam adalah agama yang selalu menjunjung kehormatan perempuan, baik itu Ibu, saudara perempuan, isteri, ipar, bahkan yang bukan mahrom.


"Waaan, Mbak mau goreng nasi sisa semalam masih banyak sekali, tapi kalau kamu mau sarapan yang lain, nanti Mbak buatkan, mau sarapan apa?"


Tanya Mbak Wening dari teras,


Ridwan yang semula tengah menyapu lantas menghentikan aktifitasnya sejenak, didekatinya sang kakak agar tidak perlu bicara dengan suara keras, karena tentu ini bisa mengganggu tetangga.


"Sawontene mawon to Mbak, kalau Mbak Wening mau buat nasi goreng yo Ridwan manut wae, podo sama yang lain saja."


Kata Ridwan.

__ADS_1


Mbak Wening mengangguk,


"Yo barangkali kamu ingin sarapan yang lain to yo, kemarin kan wis makan di hotel bintang lima si Apa Sentuni Hotel itu to."


Ujar Mbak Wening, membuat Ridwan mengulum senyum,


"Alpha Centauri Hotel Mbak."


Ridwan meralat,


"Oh salah to? Hihihi..."


Mbak Wening pun cekikikan.


"Oh kemarin Ridwan sempat melihat pemiliknya Mbak, orangnya masih muda, ramah sekali orangnya, dan kalau mendengar cerita dari asisten pak Bagas, beliau juga salah satu pengusaha paling dermawan di Indonesia, bahkan di Asia, seperti Pak Jusuf Kalla itu Mbak, yang masuk daftar orang paling dermawan di Asia."


Kata Ridwan.


"Masya Allah, ada to orang kaya di Ibu kota begitu? Kok di sinetron tidak ada ya yang begitu-begitu."


Kata Mbak Wening.


Ridwan jadi tertawa.


"Sinetron kan bukan dunia nyata Mbak, yang jadi orang kaya di sinetron kan belum tentu sekaya yang ditampilkan di sinetron."


Ujar Ridwan.


Mbak Wening cekikikan lagi,


"Buuuu... Ajeng mau kue."


Ajeng tiba-tiba muncul di pintu, ia mengucek matanya yang masih sepet, bekas Iker yang kering di sisi kiri bibirnya juga masih tampak jelas.


"Iyo, mandi dulu, air hangatnya sudah Ibu siapkan."


Mbak Wening akhirnya meraih tubuh Ajeng untuk dirangkulnya masuk ke dalam rumah lagi.


Ajeng melingkarkan kedua tangannya pada pinggang sang Ibu.


Ridwan menghela nafas, hatinya sungguh bertekad untuk membahagiakan mereka, Kakak perempuan satu-satunya dan juga keponakan satu-satunya.


Setelah Ibu, mereka adalah yang menjadi kewajiban Ridwan mengurus dan membahagiakan.


Ridwan berjalan kembali ke tempat semula di mana ia tadi sedang menyapu halaman.


**-----------**


Sieeeeeng...


Suara sesuatu digoreng terdengar dari dapur, tampak Ibu yang keluar dari kamar mandi membawa ember melewati dapur di mana Iis sedang menggoreng tempe.

__ADS_1


"Nanti pulang mengajar beli selang baru saja Is, lama-lama kok capek yo kalau nyiram tanaman pakai ember dan gayung."


Ujar Ibu.


"Nggih Bu, nanti Iis beli selang yang baru."


Sahut Iis seraya kemudian mengupas bawang merah.


"Selangnya harus disimpan di dalam rumah, itu soalnya kucing-kucing Mbak Wini makin lama lho makin nakal, itu selang pada bolong digigiti."


Ibu tampak kesal.


Iis yang mendengarnya tersenyum,


"Kucing itu kan binatang kesayangan Rosulullah Ibu, dia nakal itu buat ujian kita, kalau benci ingat Rosulullah sayang pada mereka, kalau suka ya sayang karena Rosulullah juga."


Ibu terdengar menghela nafas,


"Tidak apa-apa nanti Iis beli selang baru, tidak usah dipersoalkan, Mbak Wini sedang menjadi penerus Abu Hurairah, sahabat Nabi yang mengurus banyak sekali kucing, kita yang tidak bisa seperti beliau cukup membantu dengan tidak berkomentar jahat. Kita belum bisa meniru Rosulullah, ya cukup jangan membenci mahluk yang beliau sayang, apalagi hanya karena perkara selang.".


Ujar Iis.


Ibu pun menghela nafas lagi, lalu baru akhirnya berkata,


"Iyo, Ibu juga bukan berniat membenci, Ibu hanya sedang mengeluh itu kucing-kucing Mbak Wini membuat selang kita pada bolong."


Iis tampak membalik tempe di atas penggorengan,


"Nggih Ibu, Iis juga hanya ingin kita jangan sampai ikut ke dalam golongan orang-orang yang membenci perkara yang dicintai Rosulullah, semoga kita bisa nggih Bu."


Kata Mbak Wening,


Ibu pun akhirnya mengangguk, lalu meneruskan langkahnya membawa ember dan gayung untuk menyirami tanaman-tanaman di depan rumah.


Sambil menunggu Iis selesai membuat sarapan, tempe dan sambal terasi serta petai kukus, Ibu pun menyibukkan diri mengurus tanaman dan juga menyapu halaman.


Di luar seorang putri tetangga yang sedang hamil tampak tengah berjalan-jalan dengan sang suami, mereka lewat di depan halaman rumah Iis.


Mereka adalah adik kelas Iis beda lima tingkat, Kabarnya hamil di luar nikah saat masih pada kuliah. Itu sebabnya, baru tiga bulan tapi perutnya sudah cukup besar.


Ah Ibunya Iis tiba-tiba jadi sadar...


Astaghfirullah... Ucapnya dalam hati, karena masih pagi malah sudah mengotori hatinya.


"Bu... Monggo."


Putrinya sang tetangga itu menyapa ramah dan santun, Ibunya Iis pun tersenyum manis.


"Oh nggih, monggo... monggo..."


Kata Ibunya Iis.

__ADS_1


**-------------**


__ADS_2