Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
53. Terhempas


__ADS_3

Senin pagi di awal pekan ini matahari bersinar tak terlalu cerah.


Ada sedikit mendung-mendung kelabu bergelayut meskipun tak sepenuhnya memenuhi langit.


Ridwan keluar dari rumahnya diikuti Ibunya yang ingin mengantar putranya berangkat mengajar.


Ibu tampak begitu terharu menatap Ridwan yang kini terlihat sudah naik ke atas motor dan bersiap menyalakan mesin motornya.


Sungguh bagi Ibu, rasanya ada kebanggaan tersendiri bisa melihat Ridwan sampai di titik ini.


Menjadi Guru, ya, ini benar-benar kebanggaan baginya.


Ibu yang hanyalah orang kampung sederhana, tentu saja rasanya sangat bahagia bisa memiliki putra menjadi seorang Guru, apalagi yang diajarkannya adalah ilmu agama.


Ilmu yang bukan hanya berguna dan bermanfaat untuk dunia, namun juga akhirat.


Ini tentu adalah salah satu cita dan mimpi Ridwan sejak kecil, pun juga termasuk harapan Ibu sebagai orangtua sejak dulu kala.


"Bu, Wening berangkat sekalian."


Kata Mbak Wening tiba-tiba mengagetkan Ibu yang tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri sambil memandangi Ridwan di atas motor.


Mbak Wening menyalami Ibu, diikuti Ajeng juga yang menyalami embahnya.


"Keripiknya dititipkan di warung akhirnya?"


Tanya Ibu melihat Mbak Wening juga membawa satu kresek ukuran cukup besar berisi bungkusan keripik pisang buatannya sendiri.


"Ini sebagian pesanan Bu, yang sebagian lagi diminta warung depan rumah Pak Haji Syamsul untuk dititip di sana, dulu pernah cobain kan katanya enak, dan beberapa pelanggan warung dia sempat pada tanya lagi, cuma Wening belum sempat buat."


Kata Mbak Wening.


Ibu menganggukkan kepalanya.


"Yo wis, semoga laris, nantinya kalau semakin banyak yang suka mungkin akan lebih baik kamu produksi keripik saja supaya kerjanya dari rumah."


Ujar Ibu, Mbak Wening pun mengaminkan.


Yah... Tentu saja Mbak Wening wajib mengaminkan, karena buat Mbak Wening memang keinginan terbesarnya adalah bisa mendapatkan jalan rejeki yang tidak perlu ia jemput sampai keluar rumah.


Bagaimanapun sebagai perempuan, akan lebih baik jika semua hal bisa ia lakukan di dalam rumah bukan?


Ajeng setelah menyalami Embahnya lantas berjalan menyusul Ridwan dan kemudian naik ke boncengan.


Ridwan maju sedikit lagi agar Mbak Wening bisa naik ke boncengan juga, kantong berisi keripiknya ia tetap tenteng dengan tangan karena jika digantung di motor takutnya keripiknya akan remuk.


"Sampun Mbak?"


Tanya Ridwan yang kemudian memakai helm.


"Iya."


Sahut Mbak Wening.


Ridwan dan Mbak Wening serta Ajeng menoleh pada Ibu di depan rumah, sebelum akhirnya motor dibawa laju Ridwan meninggalkan halaman rumahnya.


"Hari ini jadwal mengajar sampai jam berapa Wan?"


Tanya Mbak Wening begitu mereka sudah di dalam perjalanan menuju sekolah Ajeng yang tak jauh setelahnya adalah rumah pak Haji Syamsul.


"Belum tahu Mbak, soalnya kan aku juga masih baru, jadi belum dapat jadwal."

__ADS_1


Kata Ridwan.


"Iya juga,"


Mbak Wening mantuk-mantuk.


"Pripun sih Mbak?"


Tanya Ridwan.


"Itu ingin tahu harga pisang kalau di pasar sekarang berapa, keripik pisang juga berapa."


Kata Mbak Wening.


"Ooh cuma itu to Mbak?"


"Iyo, cuma itu, kalah misal antara harga mentah dan matangnya masih bisa diambil untung lumayan, Mbak ingin punya sampingan."


Kata Mbak Wening.


"Nggih Mbak Wening lho memang haruse wis cukup di rumah saja, kan aku sudah bilang nanti aku wis jelas dapatnya berapa sebulan, lalu aku bisa bantu kebutuhan di rumah, yo wis Mbak Wening tidak usah kerja jadi asisten rumah tangga lagi."


Ujar Ridwan.


"Jangan to Wan, kamu itu lho harus nabung buat masa depanmu sendiri, buat nanti kamu nikah, buat kamu nanti membahagiakan anak isteri."


Kata Mbak Wening.


Mendengarnya Ridwan tertawa kecil,


"Lho kok tertawa to?"


Mbak Wening protes sambil nabok punggung adiknya.


Kata Ridwan tertawa yang lebih kepada menertawakan dirinya sendiri yang seolah sedang terlalu tinggi bermimpi.


"Eh sopo? Kamu wis ono sing di senengi to? Oh pasti, wis pasti to yo Mbak paham orangnya."


Mbak Wening kumat sotoynya,


"Bu Guru Iis,"


Tiba-tiba Ajeng nyeletuk, tepat saat Iis melewati mereka dengan motornya dan mengklakson mereka.


**--------------**


"Apa?"


Mbak Faizah dan Abah menatap Anisa yang duduk di depan mereka seraya menunduk sambil berurai air mata.


Di atas meja sebuah surat jaman dulu tergeletak.


Abah baru pulang tadi sebelum subuh, dan langsung seketika naik darah begitu Mbak Faizah pagi ini menuturkan semua yang terjadi di rumah Bibik Sundari.


Anisa yang harusnya sudah berangkat ke toko walhasil harus disidang lebih dulu, harus duduk di depan kakaknya dan Abahnya seperti seorang penjahat yang harus menerima sangsi.


"Abah mendapatkan surat itu saat kamu masih SMA."


Kata Abah sambil menunjuk surat yang ada di atas meja.


"Umi mu bilang ia melihat surat itu kamu simpan, ia tidak mau kamu pacaran, maka surat itu diperlihatkan pada Abah."

__ADS_1


Ujar Abah lagi.


Anisa tak berani sama sekali menatap wajah Abah, ia sangat tidak menyangka jika surat yang ia cari seharian dulu itu tak ketemu ternyata ada di tangan Abahnya.


"Itu makanya, Abah tidak bisa percaya jika laki-laki yang datang ke pasar itu benar hanya berteman denganmu."


Tandas Abah.


"Maksudnya Ridwan juga? Ridwan dalam surat ini sama dengan Ridwan yang aku kenal?"


Mbak Faizah butuh memastikan lagi.


Abah mengangguk.


"Berarti..."


Mbak Faizah tampak menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi sambil memijat keningnya karena kepalanya langsung muter-muter.


"Jam berapa biasanya Wening berangkat?"


Tanya Abah pada Mbak Faizah.


Anisa yang begitu mendengar nama Mbak Wening disebut Abahnya sontak menatap Abah dan kakaknya.


"Sebentar lagi paling Bah."


Jawab Mbak Faizah.


"Kalau sampai, suruh dia ke sini, biar Abah akan bicara pada Wening."


"Apa yang akan Abah lakukan?"


Anisa panik.


Abah menatap tajam Anisa.


"Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri, hanya karena tergila-gila pada adik Wening, lalu kamu memilih mempermalukan kakakmu sendiri."


Marah Abah.


Anisa menangis,


"Demi Allah, Anisa tidak ada niatan seperti itu Abah, sungguh Anisa hanya Mbak Faizah tidak terlalu berlebihan saja pada Bibi Sundari dan Wisnu. Sungguh Anisa tidak mau kita jadi keluarga yang ingin mengambil untung dari sebuah hubungan pernikahan Abah."


Kata Anisa disela tangisnya.


Abah menghela nafas,


"Sejak kapan kamu pandai berkata-kata?"


Abah begitu tajam, Mbak Faizah tersenyum miring menatap Anisa yang kini tertunduk,


"Sejak Ridwan akhirnya muncul di sini, kamu merasa dia takdirmu? Begitu?"


Abah mendengus kesal,


"Kamu adalah anak perempuan, Abah lah yang berkuasa untuk menentukan kamu boleh menikah dengan siapa. Kamu tidak akan bisa menikah dengan siapapun jika Abah tidak jadi walinya!!!"


Kata Abah dalam suara yang bernada tinggi, dan terdengar begitu arogan.


Anisa yang mendengarnya langsung merasa begitu lemas, ia seolah di hempas ke tempat yang begitu jauh saat ini, hingga ia tidak tahu harus bagaimana.

__ADS_1


**---------------**


__ADS_2