
Ibunya Ridwan baru akan menutup pintu rumahnya ketika ia mendengar suara motor mendekat.
Ibunya Ridwan keluar lagi menuju teras agar pandangannya bisa lebih leluasa melihat ke arah jalanan kampung di depan sana yang memang sedikit tertutup pohon dan juga tanaman perdu yang membentang sepanjang sisi jalan depan rumah yang kemudian terhubung dengan pagar bambu.
Dan sebagaimana yang diharapkan Ibu, tampak kini benar yang tampak di sana adalah Ridwan.
Ridwan pulang dengan motornya, yang mendekati rumah lalu masuk ke dalam halaman.
Gerimis yang sempat turun telah berhenti, angin sore berhembus semilir dari arah hamparan sawah di depan sana.
Cahaya keemasan matahari yang telah condong ke barat menyilaukan mata meskipun sudah mulai beringsut menuju peraduan.
Ridwan menghentikan motornya di halaman rumah, lalu tersenyum ke arah sang Ibu.
Laki-laki muda nan berparas tampan itu lantas turun dari motornya, melepas helm, dan melangkah tenang menuju Ibunya yang berdiri di teras untuk menyambutnya pulang.
"Assalamualaikum..."
Ridwan mengucap salam, lalu menjabat tangan Ibu, mencium punggung tangannya.
"Waalaikumsalam..."
Jawab Ibu dengan bibir tampak menyunggingkan senyuman.
"Mau makan dulu apa mau mandi dulu Wan?"
Tanya Ibu pada Ridwan yang kini menggandeng Ibunya masuk, di tangan kirinya tampak satu kresek berisi buah jeruk yang sama dengan yang ia bawakan untuk Iis tadi siang.
"Ridwan mau mandi Bu, lalu mau langsung ke masjid, sekarang anak-anak ngajinya pindah habis Maghrib, kasihan."
Kata Ridwan.
Ibu terlihat mengangguk,
"Iya, katanya banyak yang bilang pada Mbak Wening supaya jadwal mengaji anak-anak bisa kembali ke jadwal sebelum Maghrib saja, supaya yang rumahnya agak jauh juga tetap bisa mengaji."
Kata Ibu.
"Enggih Bu, inshaAllah nanti kalau urusan di pondok sudah selesai, Ridwan akan atur jadwal lagi."
Ridwan lantas berjalan mendekati meja makan, ia terlihat celingak-celinguk kemudian mencari sosok Mbak Wening yang tidak terlihat.
"Mbak Wening pergi nopo Bu?"
Tanya Ridwan setelah meletakkan kresek isi jeruk yang ia bawa.
"Iya, mengantar pesanan Bu Dewi dan Bu Haji Maryati,"
Ujar Ibu,
"Ajeng ke mana Bu?"
Tanya Ridwan,
Ibu tampak menunjuk ke arah kamar Mbak Wening dan Ajeng yang pintunya terbuka namun dihalangi tirai coklat plisket gambar burung merak model jaman dulu.
"Tadi sih lagi belajar, kasihan katanya sudah ingin berangkat les di Bu Guru Iis."
__ADS_1
Tutur Ibu,
Ridwan terlihat tersenyum.
Iis...
Ya Iis...
Ridwan tampak memandang Ibunya sebentar, lalu,
"Bu."
Panggil Ridwan dengan ekspresi sedikit malu-malu namun dipaksanya untuk tetap akan mengatakan semuanya sekarang dengan tidak menunda lagi.
"Ada apa Wan?"
Tanya Ibu,
"Boleh Ridwan bicara sebentar dengan Ibu? mumpung masih ada waktu menunggu datang waktu maghrib."
"Bicara soal apa? Tentu saja boleh Wan, bicaralah."
Kata Ibu.
Ridwan lantas mengajak Ibu untuk duduk di kursi kayu ruang TV.
"Ada apa to Wan? Sepertinya kok serius sekali."
Ibu jadi terlihat agak cemas, karena tak biasanya Ridwan bersikap demikian.
Ridwan sejenak menunduk, ia berusaha menenangkan diri karena degup jantungnya kini benar-benar terasa jauh lebih cepat dari sebelumnya, sampai kemudian...
Ridwan akhirnya kembali memberanikan diri memandang ke arah Ibunya yang jadi tersenyum melihat putranya tampak seperti begitu salah tingkah.
"Bu, apa... apa, ah bukan, ngg... bagaimana menurut Ibu tentang Iis?"
Ridwan akhirnya bisa juga mengatakannya, setelah rasanya begitu sulit keluar kalimat itu dari mulutnya,
Ibu yang sepertinya telah mengira-ngira jika Ridwan akan mengatakan hal itu kini terlihat berusaha menyembunyikan senyuman lebarnya.
Ibu tidak ingin Ridwan nantinya tak melanjutkan apa yang harusnya ia ungkapkan.
Tampak Ibu kemudian mengusap lengan anaknya,
"Iis adalah gadis yang baik, sangat baik. Dia santun, dia baik, dia sholihah, dia anak yang berbakti pada orangtua."
Kata Ibu.
Ridwan mengangguk setuju.
Lalu...
"Bu..."
Panggil Ridwan lagi,
Ibu menganggukkan kepalanya,
__ADS_1
"Iya Wan, kenapa?"
Tanya Ibu, ia memberikan kesempatan untuk anaknya bisa bicara secara terbuka tanpa harus ada yang ditutup-tutupi.
"Jika Ridwan berniat meminang Iis sebagai isteri, apakah Ibu tidak keberatan? Apa Ibu merestui? Karena tentu saja restu dan ridho Ibu lah yang sesungguhnya Ridwan butuhkan untuk apapun yang Ridwan lakukan Bu."
Ujar Ridwan.
Mendengar Ridwan menyampaikan keinginannya untuk meminang Iis, tentu saja Ibu sama sekali tidak merasa keberatan.
Ibu malah sungguh bersyukur jika benar nantinya Iis dan keluarga Iis bisa menerima sosok Ridwan di tengah-tengah mereka.
Dengan kondisi Ridwan yang masih belum sukses, yang semuanya masih harus dimulai dari NOL, yang semuanya benar-benar harus dikerjakan sendiri, Ibunya Ridwan tentu saja juga sangat bahagia jika saja keluarga Iis bisa menerima sosok Ridwan sepenuhnya.
"Kalau Ibu, apapun yang membuat kamu bahagia, tentu saja Ibu akan dukung Wan."
"Tapi Bu, tapi apakah Ibu sungguh-sungguh ridho dan merestui?"
Tanya Ridwan lirih, yang lantas langsung melihat Ibunya mengangguk.
Ibu meletakkan telapak tangannya di atas ubun-ubun kepala Ridwan.
"Iis adalah gadis yang baik, jika kau memang telah memilihnya, Ibu jelas merestui."
Kata Ibu, yang langsung membuat Ridwan berkaca-kaca.
"Memang usiamu sudah sepantasnya mulai memikirkan pernikahan, setidaknya ada pendamping yang akan selalu bersama dalam suka maupun duka."
Ridwan mengangguk, lalu...
"Sebetulnya, untuk Ibu, kamu akan menikah dengan siapapun Ibu tidak akan melarang. Ibu percaya, kamu sudah dewasa tentu sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kamu juga pastinya sudah tahu saat akan memutuskan satu perkara penting harus melibatkan Allah agar keputusan tidak diambil secara serampangan."
"Nggih Bu,"
Ridwan mengangguk, Ibu tampak tersenyum.
"Jika memang kamu telah benar-benar siap untuk berumahtangga, jika memang kamu merasa telah benar-benar mantap, tugas Ibu tentu adalah memberikanmu doa restu."
Ridwan meraih tangan Ibunya, lalu menggenggamnya dan menciumnya sambil menangis.
"Bu, terimakasih untuk semuanya, untuk setiap detik yang telah Ibu habiskan mengurus Ridwan, mendoakan Ridwan, hingga sampai di titik ini."
Lirih Ridwan sedikit terbata-bata karena ia mulai berlinang air mata.
Ibu tersenyum dengan kedua mata yang jadi ikut berkaca-kaca.
"Sudah menjadi kewajiban Ibu Wan, kadang Ibu malah merasa sangat sedih, karena belum bisa menjadi Ibu yang sempurna, selama ini Ibu belum bisa memberikanmu banyak hal, sejak kecil kamu juga sudah susah sendiri. Hidup prihatin dalam segala keterbatasan namun tak sekalipun kamu mengeluh."
Ibu pun juga jadi mulai berlinang air mata.
"Ibu lah yang harusnya mengucapkan banyak terimakasih karena kamu benar-benar telah menjadi anak yang sholeh sebagaimana cita-cita almarhum Ayahmu."
Kata Ibu pula,
Ridwan pun menyeka air matanya yang telah membasahi pipi.
Lalu...
__ADS_1
**----------------**