Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
191. Langit Dan Bumi


__ADS_3

"Jangan khawatir Bu, kalau untuk Iis, acara resepsi dan sebagainya itu tidaklah penting, sejak dulu Iis memang tak pernah membayangkan menikah dengan pesta mewah yang berlebihan. Pokoknya asal sah, lalu ada walimatul ursy, sudah cukup rasanya untuk Iis."


Kata Iis pada Ibunya Ridwan, manakala Ibunya Ridwan mengajak berbincang tentang rencana pernikahan Iis dan Ridwan kelak.


Tentu saja, Ibu belakangan mulai khawatir akan membuat Iis dan keluarganya kecewa, apabila ternyata pernikahan keduanya tak bisa diadakan dengan pesta yang meriah.


"Syukurlah nak Iis, meski Ibu tetap mengusahakan agar pernikahan kalian bisa dilaksanakan sewajarnya yang lain, tapi ya Ibu tentu dengan segala keterbatasan ini tak bisa menjanjikan banyak hal, dan bahkan mungkin malah jelas jauh sekali dari harapan kebanyakan keluarga mempelai wanita."


Ujar Ibu,


Iis di tempatnya duduk tampak tersenyum menatap calon Ibu mertuanya,


"Tidak Bu, inshaAllah, Iis dan keluarga Iis memiliki konsep berpikir yang tidak jauh berbeda, bahkan beberapa sepupu Iis juga ada yang menikah hanya akad saja lalu membagikan nasi berkat."


Ujar Iis.


Ibu cukup terkejut saat mendengar penuturan Iis,


Tampak Iis tersenyum,


"Mereka sudah tidak terfokus pada urusan-urusan yang remeh temeh Bu, tidak juga pusing dengan penilaian manusia, bagi mereka yang terpenting memang hanya tak menyalahi hukum Allah saja."


Ibu terlihat mantuk-mantuk,


"Iis mungkin belum sampai ke situ, tetap akan ada acara selamatan, tapi tidak berlebihan, itu saja Bu."


Ibu kembali mantuk-mantuk mendengar kata-kata Iis.


Bersamaan dengan itu, Ajeng terlihat membawa nampan isi dua cangkir teh yang mengeluarkan aroma melati dari kepulan asap wedangnya yang panas.


Iis yang tak tega, tentu saja langsung berdiri menyambut untuk membantu Ajeng membawa nampan berisi dua cangkir teh itu.


"Pelan-pelan, nanti tumpah."


Kata Iis sambil mengambil alih membawakan nampan berisi dua cangkir teh dari tangan Ajeng.


Ajeng nyengir pada Ibu Gurunya yang sebentar lagi akan jadi Bibiknya.


Yah, Bibik...


Ajeng rasanya sudah tak sabar ingin membanggakan Iis yang begitu disukai teman-teman Ajeng yang banyak ikut les di tempat Iis.


Tentu saja, Ajeng ingin sekali bilang pada mereka, bahwa setiap hari Ajeng akan bisa belajar dengan Bibik Iis, lalu Ajeng akan selalu jadi juara pertama sampai SMA bahkan hingga nanti kuliah di universitas ternama.


Iis tampak membawa nampan berisi dua cangkir teh buatan Ajeng ke set meja kursi ruang tamu itu, lalu dengan gerakannya yang halus, Iis pun meletakkan cangkir bagian sang calon Ibu mertua, pun juga dengan cangkir teh bagiannya.


Ajeng sendiri tampak berdiri di samping Mbah nya, seraya bersandar manja.


"Paman mana?"

__ADS_1


Tanya Ibu pada sang cucu,


"Di belakang, lagi motong kue sama buah dari kulkas."


Kata Ajeng.


"Ajeng tidak bantu?"


Tanya Ibu,


"Itu, teh nya kan Ajeng yang bikin,"


Pongah Ajeng sambil menunjuk dua cangkir wedang teh yang benar tak diragukan lagi jika pastinya anak-anak yang menuang, karena yang satu penuh sekali, sedangkan yang satunya seperti sudah diseruput.


"Wah Ajeng pinter, hebat."


Tapi Iis tentu tak mau mengomentari apapun, apalagi hal yang hanya akan membuat Ajeng jadi kecil hati.


Tidak, tentu saja hal itu tidak perlu.


Yang paling penting saat ini bukanlah ukuran air di dalam cangkir yang tak seimbang, namun, yang jauh lebih penting adalah kemauan Ajeng belajar dan mau rajin tanpa harus dipaksa macam anak-anak sebayanya yang lain.


**-----------------**


"Kamu dan Wisnu katanya mengundang anak-anak panti asuhan juga di acara resepsi?"


Anisa menghela nafas, dari nada dan cara Mbak Faizah bertanya, sudah jelas ia dalam keadaan tidak suka.


"Kalau mengundangnya memangnya ada apa Mbak?"


Tanya Anisa.


"Lah, apa tidak membuat suasana terlalu penuh, terlalu ramai, nanti bisa-bisa malah jadi terlihat sumpek dan kumuh."


Kata Mbak Faizah,


"Ingat lho Nis, itu gedung dan semua ***** bengek yang untuk pelaminan saja dari pihak Bibik Sundari merogoh kocek di atas dua ratus juta, sudah macam artis Ibu Kota dong pastinya. Belum lagi chatering, makeup, kamu harusnya jangan memberikan ide pada Wisnu yang aneh-aneh."


Mbak Faizah pun menambahkan,


Anisa yang semula sudah akan mengambil satu potong ayam goreng di atas meja makan akhirnya terpaksa mengurungkannya,


"Aneh apanya? mengundang anak yatim memang sudah aku bicarakan dengan Wisnu sebelum undangan dibuat Mbak, lagipula bagian mananya yang salah jika mengundang mereka? Bukahkah malah itu jadi bagus, aku akan mendapatkan doa dari anak-anak yatim yang doa mereka langsung sampai ke langit."


Anisa terlihat menahan kesal, ia sungguh tidak memahami cara berpikir kakaknya, entah kenapa sang kakak ini tumbuh menjadikan pemuja uang dan kedudukan.


Tenggelam dalam lautan kesombongan dan ia seperti begitu menikmatinya.


"Ya kan kamu bisa lah Nis, cari tanggal dan hari yang berbeda dengan acara resepsi di gedung hari itu."

__ADS_1


"Mbak, istighfar Mbak, anak yatim itu dimuliakan baginda Nabi."


Anisa menatap Mbak Faizah dengan gemas sekali.


Andai saja menampar Kakaknya itu tak berdosa, tentu Anisa akan melakukannya tanpa harus berpikir lagi.


Ya...


Ia kesal bukan kepalang karena berani-beraninya Mbak Faizah seolah merendahkan anak-anak yatim.


"Lho kenapa jadi bawa-bawa Nabi, tidak usah bawa-bawa Nabi dong,"


Kata Mbak Faizah yang bukannya sadar malah tambah nyolot


Anisa yang enggan ribut lagi dengan kakaknya akhirnya memilih meletakkan piring nasinya di atas meja makan dengan kasar.


Brak!


"Hey!!!"


Mbak Faizah seolah tak terima dengan sikap Anisa yang demikian, dianggapnya Anisa itu telah bersikap tak sopan dan tak menghargai dirinya yang lebih tua.


Tapi...


Anisa jelas sudah malas rasanya menanggapi Mbak Faizah.


Ia memilih pergi saja dari ruang makan, tak apalah tak usah makan sore ini, batin Anisa.


Anisa berjalan kesal melewati sang kakak yang masih terus mengomel.


"Anisa! Hey, Anisa!!"


Mbak Faizah suaranya meninggi,


Anisa pun menghela nafas, meski ia tetap tak berhenti dan terus saja berjalan tanpa memperdulikan panggilan Mbak Faizah.


Yah...


Daripada akhirnya jadi tambah kesal, tentu saja lebih baik ia memilih tak menghiraukan lagi apa kata Mbak Faizah.


Nyatanya, meski mereka terlahir dari rahim yang sama, mengalir darah yang sama pula, tapi apa yang disukai dan dipikirkan Anisa serta Mbak Faizah jelas-jelas sangat jauh berbeda.


Anisa mungkin memang belum termasuk perempuan Sholihah, tentu saja masih jauh dari itu, ilmu nya pun tak banyak, bahkan baca Qur'an saja masih banyak kurangnya.


Tapi...


Paling tidak, Anisa tak gelap mata pada dunia, dan tak merasa bahwa apa yang ia nikmati selama ini adalah untuk disombongkan seperti yang dilakukan kakaknya dan juga Ayahnya.


**---------------**

__ADS_1


__ADS_2