Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
50. Tegas


__ADS_3

Anisa turun dari mobil bersama Suci, sementara Mbak Faizah yang mengemudikan mobil sendiri turun setelahnya.


"Senyumlah, sejak tadi kamu terus menerus cemberut, jangan memalukan keluarga."


Kata Mbak Faizah sedikit berbisik.


Anisa hanya tersenyum kecut,


Mbak Faizah berjalan mendekati pintu utama rumah besar itu.


Salah satu rumah paling besar di komplek pusat kota mereka tinggal.


Seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuk mereka tak lama setelah Mbak Faizah menekan bel pintu.


Mbak Faizah dan Anisa pun dipersilahkan masuk.


Pertama masuk ke dalam rumah, di mana di ruang depan itu tampak ruang tamu yang luas dan perabotan yang full furniture Jati mahal dari Jepara, mereka juga langsung disambut foto seorang jendral.


Anisa tampak menatap foto laki-laki gagah di foto itu, saat tiba-tiba Bibi Sundari muncul dari ruang dalam.


"Bi..."


Mbak Faizah jelas langsung menyapa Bibi Sundari dengan ramah tamah, senyumnya terkembang sempurna, sebagaimana Bibi Sundari menyambut mereka pula.


Mbak Faizah bersalaman dengan Bibi Sundari, Suci juga mengikuti, dan baru kemudian Anisa.


Bibi Sundari mengajak mereka masuk ke ruang keluarga, karena tentu untuk Bibi Sundari, mereka sudah bukan lagi orang lain.


Mereka duduk di ruang keluarga yang ruangannya jauh lebih besar dari ruang tamu.


Berbeda dengan ruang tamu yang dihiasi foto seorang Jendral yang konon itu adalah Kakek dari Wisnu, di ruang keluarga mereka disuguhi foto-foto aneka perhiasan.


Ya, keluarga Wisnu memang memiliki usaha di bidang produksi perhiasan pengrajin lokal. Belum sekelas pabrik perhiasan besar macam UBS apalagi HWT yang bahkan sudah bisa mensponsori ajang sekelas Putri Indonesia di mana mahkota sang Putri itu dari perusahaan mereka.

__ADS_1


Produksi perhiasan di rumah Bibi Sundari yang merupakan usaha turun temurun dari pihak suami Bibi Sundari sudah di geluti sejak lama, sudah terhitung generasi kedua dan akan turun yang ketiga begitu Wisnu meneruskan usaha tersebut.


Beberapa produk yang di produksi oleh mereka masuk ke beberapa toko emas sekitar kota sendiri dan bahkan sudah ada sekitar empat kota lain yang toko emas nya mulai bekerja sama dengan keluarga Wisnu.


Produk anting bayi, cincin plat, kalung rantai, gelang rantai, dan anting merica yang dikenal dengan nama anting saridewi, termasuk adalah produk abadi yang selalu banyak dipesan toko-toko emas dengan pelanggan yang kebanyakan adalah pengusaha tani.


Toko milik Pak Haji Syamsul adalah termasuk toko yang paling sering memesan kalung rantai dengan berat gram cukup besar-besar, dari yang lima belas gram hingga setengah ons atau lima puluh gram.


Para pengusaha tani, di kala musim panen, biasanya mereka memang akan memborong perhiasan dalam jumlah gram banyak untuk sebagai investasi mereka.


"Wisnu masih di pabrik, ada pesanan mendadak dari Batang, anting bayi dua model dua ons, Wisnu sedang bantu mengawasi."


Kata Bibi Sundari,


"Wah luar biasa memang kalau laki-laki sukses itu bekerja tanpa mengenal waktu."


Ujar Mbak Faizah.


Dan malam itu, Mbak Faizah menghiasi pertemuan keluarga itu seperti menjadi ajang ia benar-benar cari muka, yang tentu saja apa yang dilakukan Mbak Faizah itu selalu dianggap baik oleh banyak orang.


Mbak Faizah memang pandai merangkai kata manis hingga siapapun akan menyukai dirinya, sangat berbeda dengan Anisa yang pendiam dan cenderung kurang bisa basa basi.


Hingga makan malam tiba, dan Wisnu sudah bergabung dengan mereka, Mbak Faizah makin memuji terus sosok Wisnu yang dianggapnya sangat serasi jika nanti bersama Anisa.


"Pokoknya, kalau nanti kalian menikah lalu membuka toko emas sendiri, pasti akan langsung rame, ya kan Bibi Sundari..."


Mbak Faizah pada Bibi Sundari yang tampak mengangguk mengiyakan saja apa yang dikatakan Mbak Faizah karena posisi mereka memang sebetulnya dalam keadaan sedang makan.


Anisa yang lama-kelamaan akhirnya tak tahan dengan cara Mbak Faizah menjilat Bibi Sundari dan Wisnu akhirnya memutuskan untuk menghentikan acara makannya.


"Mbak Faizah, kita sedang makan, apa tidak lebih baik Mbak Faizah biarkan Wisnu dan Bibi Sundari menikmati makan malam mereka dulu?"


Anisa menatap sebal kakaknya.

__ADS_1


"Ya ini kan sambil makan..."


Kata Mbak Faizah seraya tersenyum seperti menahan malu dengan kata-kata Anisa yang menurutnya sedikit menyinggung dan mempermalukan dirinya.


"Lagian ini nantinya juga kan buat kamu, buat masa depanmu, biar kamu bisa bahagia, dan itu bisa terjadi kalau kamu dan Wisnu..."


Anisa tiba-tiba berdiri, membuat Mbak Faizah kaget dan akhirnya menghentikan kalimatnya,


"Kenapa?"


Mbak Faizah menatap Anisa yang berdiri dari duduknya,


"Bibi Sundari, Wisnu... Maaf sebelumnya, saya rasa, saya harus mengatakannya sekarang, sejatinya saya tidak menginginkan dan belum menerima perjodohan ini, saya harap Wisnu dan Bibi Sundari bisa mempertimbangkannya lagi. Saya, tidak ingin perjodohan ini bukan untuk menjadikan tertautnya silaturahmi menjadi lebih erat, malah hanya untuk keuntungan bisnis semata."


Anisa membungkuk memberi salam,


"Saya pamit Bibi, Wisnu, saya berterimakasih untuk undangannya, saya mohon maaf karena harus pulang lebih dulu."


Anisa setelah itu beranjak pergi,


"Nisa! Anisa!!"


Mbak Faizah memanggil dengan bentakan keras, tapi Anisa seolah tak peduli.


Mbak Faizah yang akan mengejar ditahan Wisnu.


"Biar saya saja mbak, monggo Mbak Faizah teruskan santap malam nya dengan Ibu."


Kata Wisnu.


Wisnu lantas setengah berlari mengejar Anisa.


**---------------**

__ADS_1


__ADS_2