
Langit masih tampak cukup cerah, namun di mata Iis semburat senja telah tampak dengan jelas sebagaimana wajahnya yang kini terlihat bersemu kemerahan.
Mengendarai motornya yang melaju di atas jalanan kampung yang seperti jalan hidup yang tak mulus, Iis pun terus tersenyum ke siapapun yang berpapasan dengannya di sepanjang jalan menuju pulang.
Sudah jelas bilamana memang suasana hatinya tengah berbunga-bunga, bahagia dengan semua yang baru saja terjadi.
Oh oh... capung terlihat terbang dari area sawah pun kini terlihat macam peri-peri kecil yang beterbangan dengan serbuk emas.
"Apa boleh saya bertukar pikir dengan Bu Iis bilamana ada kendala ketika mengajar?"
Tanya Ridwan ketika tadi mengiring Iis yang akan pulang, yang tentu saja Iis langsung mengangguk tanpa harus mempertimbangkan lagi.
"Saya masih butuh banyak sekali belajar juga Bu, sebagaimana cita-cita Bu Iis yang ingin anak-anak mencintai negaranya dengan melihat dan mengenali negaranya dari sejarah, saya sebagai guru agama juga begitu. Saya ingin mereka sungguh memegang nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, mencintai Rasulullah shalallahu alaihi wasallam beserta para sahabat beliau dengan sungguh-sungguh kecintaan yang kelak mereka juga bisa mentauladani sosok beliau."
Mendengarnya Iis tentu saja sangatlah setuju,
"Tentu saja harus begitu Pak Ridwan, pada dasarnya, kenapa dulu para tokoh besar negara kita bisa cerdas, hebat, dan lurus, juga pada akhirnya kita akan menemukan mereka adalah sosok-sosok yang sholeh. Bung Hatta, Jendral Soedirman, KH. Agus Salim, Tjokroaminoto, dan masih banyak yang lain, adalah tokoh bangsa kita adalah orang-orang sholeh."
"Nggih Bu Iis, termasuk juga KH. Ahmad Dahlan dan juga KH. Hasyim Asy'ari."
"Tepat Pak Ridwan."
Iis mengangguk seraya tersenyum.
Dan senyuman Iis pun terus merekah bahkan sampai saat ini di mana keduanya sudah tak lagi mengobrol, saat Iis sudah berada di atas motornya dan berkendara menuju rumah.
Hingga kemudian akhirnya ia sampai di halaman rumahnya, yang tampak Ibu tengah menyapu teras dan langsung berhenti manakala melihat kedatangan putrinya.
"Sore sekali lho."
Kata Ibu.
Iis yang mendengar Ibu mengeluh tampak tersenyum saja, ia membuka helm, lalu turun daru motor.
Dihampirinya sang Ibunda untuk kemudian Iis bersalaman.
Tolet... Tolet... Tolet...
Bersamaan dengan itu, seorang pedagang siomay keliling yang memakai sepeda ontel lewat.
"Paaak... Siomaaaay..."
Panggil Iis, yang kemudian setelah mencium punggung tangan Ibu dulu, lantas bergegas turun dari teras lagi untuk kembali ke jalan depan di mana ada bakul siomay berhenti.
"Ibu mau siomay juga to?"
Tanya Iis seraya menoleh pada Ibu yang sebetulnya sedang bertanya-tanya, kenapa wajah Iis terlihat begitu berseri-seri, kira-kira ada apa yang terjadi? Begitulah yang dipikirkan oleh Ibunya Iis.
"Ada pare lho Bu."
Kata Iis lagi, yang kini tampak berdiri di depan dandang siomay yang mengepul panas.
Beberapa tetangga juga jadi ikut mendekat, termasuk beberapa anak kecil yang tinggal di sekitar rumah.
"Ibu ambil piring dulu."
Sahut Ibu akhirnya, Iis mengangguk,
"Saya ambil piring dulu nggih Pak, ini buat anak-anak dulu, nanti sekalian saja saya yang bayar Pak buat anak-anak."
Kata Iis pada si Bapak penjual siomay,
__ADS_1
"Anak-anak nanti Bu Iis yang bayar, uangnya ditabung ya yang buat beli siomay."
Kata Iis lagi yang kali ini pada anak-anak tetangganya, yang tentu saja langsung disambut suka cita oleh anak-anak tersebut.
Sebetulnya, Iis melakukan itu karena dua a di antara lima anak yang sedang jajan siomay itu adalah kakak adik yang merupakan anak yatim piatu.
Iis sudah terbiasa jika jajan bareng mereka, pasti Iis yang akan membayar untuk tagihannya.
Setiap bulan, juga Iis biasanya menyisihkan dua ratus ribu untuk mereka yang nantinya Ibunya Iis lah yang menyampaikan pada Ibunya anak-anak yatim itu.
"Maturnuwun Bu Guru Iis..."
Kata mereka, Iis tampak tersenyum pada anak-anak itu.
"Sama-sama sayang."
Jawab Iis sambil mengusap kepala anak-anak yatim dengan lembut penuh kasih, yang memang kebetulan berdiri paling dekat dengan Iis.
Ya, bukankah Rosulullah juga begitu? Setiap kali beliau bertemu anak-anak yatim, maka beliau senang mengusap kepala anak-anak yatim itu dengan lembut dan penuh kasih.
Perlakuan sederhana ini mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang, namun nyatanya, usapan tangan yang lembut di atas kepala, dapat membuat anak-anak merasakan hati mereka menjadi hangat. Mereka akan merasa di kasihi, di sayangi, diperdulikan, di anggap dan jadi tak berkecil hati.
Anak-anak yang tak memiliki orangtua lengkap seringkali mudah rendah diri, lebih mudah sedih, dan takut jika ada orang yang galak pada mereka, sementara mereka tak ada tempat untuk meminta perlindungan.
Iis berjalan menuju bangunan rumah untuk menyusul Ibunya yang sudah lebih dulu masuk.
Sampai di ruang tamu, Ibunya tampak sudah akan keluar lagi membawa dua piring kosong.
"Iis saja Bu."
Kata Iis mengambil dua piring di tangan Ibundanya.
Ujar Ibu.
Iis pun memberikan helm dan tas miliknya pada Ibu.
"Ibu pake saos tidak?"
Tanya Iis sebelum keluar lagi.
"Pakai sedikit saja, tidak usah pakai kol, pare saja sama siomay dan tahu."
Pesan Ibu.
"Kentang mboten?"
Tanya Iis lagi, tampak Ibu menggeleng.
"Tidak usah Is, kalau makan kentang lho jadi kenyang."
Kata Ibu.
Iis tertawa kecil.
"Kan kentang mengandung karbohidrat Bu, makanya kenyang."
"Lha itu makanya, tidak usah pakai kentang, nanti malah malas makan malam."
Sahut Ibu.
Iis pun mengangguk, setelah itu keluar rumah lagi untuk beli siomay.
__ADS_1
Beberapa tetangga juga sudah mulai menggerumut membawa piring untuk jajan siomay,
Langsung terlihat wajah bakul siomay yang berseri-seri karena dagangannya langsung banyak yang beli.
"Aslinya mana Pak?"
Seorang tetangga tanya pada si bakul siomay.
"Oh, saya aslinya Petarukan Bu, di sini ngontrak di kontrakannya Pak Haji Imron."
"Eh pak Haji Imron yang dermawan itu bukan?"
"Enggih leres Bu, baik sekali beliau itu, setiap bulan yang ngontrak dijatah sembako."
Jawab bakul siomay.
"Kontrakan Pak Haji Imron berarti yang sebelah mana sih? Kan di situ banyak sekali kontrakan kayaknya."
Tanya salah satu Ibu tetangga lainnya, Iis tampak hanya ikut mendengarkan saja, sambil menunggu bakul siomay yang sedang meracik pesanan Iis di piring.
"Yang belakang masjid ada di situ sebelas pintu, kalau yang agak jauh itu sekitar delapan pintu dan juga ada lagi yang lima belas pintu sepertinya tak jauh dari SD Waru dua Bu."
Jawab si bakul siomay lagi.
"Wealah luar biasa yo."
"Lha iya itu Pak Haji Imron kan yang kalau lebaran Haji saja nyembelih Sapi sampai lima ekor lho, dagingnya kan sampai sini."
Para Ibu akhirnya jadi membicarakan Pak Haji Imron.
"Anak-anak yang mengaji di tempat beliau juga kalau ramadhan itu selalu dikasih uang seratus ribu untuk beli baju baru."
Kata bakul siomay lagi.
"Oh iya benar, anak saya dulu waktu masih SD kan ngaji di sana, waktu yang ngajar ngaji masih adiknya Pak Haji Imron, siapa namanya Ustadz Ahmad kalau tidak salah."
"Lho ya sudah ganti lama kalau Ustadz Ahmad, kan sudah ganti Ustadz Soleh, yang Ramadhan tahun kemarin ngisi kuliah subuh di masjid sini."
"Weh bukannya ustadz Soleh juga sudah pindah sekarang, ya kan pak?"
Seorang Ibu pada bakul siomay yang kini sedang memberikan bumbu kacang di atas racikan siomay pesanan Iis.
"Enggih Bu, sudah pindah lama yo, sudah hitungan bulan malah kayaknya."
Jawab si bakul Siomay.
"Oalah... padahal bagus to pas ngisi kuliah subuh itu."
"Iyo, tidak terlalu banyak bercanda jadi malah kita jadi paham."
Kata Ibu lainnya.
"Tapi sudah ada gantinya kok Ibu-Ibu, itu ustadznya ganteng sekali malah, namanya Ustadz Ridwan, masih bujangan, orang asli situ, wah sudah banyak Ibu-Ibu dan Bapak-bapak ramai membicarakan sosok beliau, pada ingin ngambil jadi mantu."
Dan...
Uhuk... uhuk... uhuk...
Iis yang mendengarnya pun langsung terbatuk.
**---------------**
__ADS_1