Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
124. Kembali Dari Awal


__ADS_3

"InshaAllah perkiraan nanti pembangunan rumah tahfiz dan untuk pondok satu bulan lagi sudah masuk tahap finishing Pak Bagas, sambil kita lengkapi beberapa peralatan di dalam gedung, inshaAllah saya akan tetap mencoba mengaktifkan kegiatan belajar mengajar lebih dulu."


Terang Ridwan lewat sambungan telfon dari hp nya, ketika ia berada di lokasi proyek.


Pak Haji Imron yang langsung mengawasi proses pembangunan tampak sedang sibuk bicara dengan mandor yang mengurusi pembangunan gedung di bawah naungan yayasan pak Sahudi tersebut.


"Kepengurusan tanah wakaf ke Kantor Urusan Agama berarti juga sudah selesai atau bagaimana Pak Ustadz?"


Tanya Pak Bagas dari Jakarta,


"Nggih Pak Ustadz, kami sudah mengurus untuk tanah yang diwakafkan, semuanya inshaAllah sudah rampung pekan depan."


"Alhamdulillah... Alhamdulillah sekali Pak Ustadz, terimakasih..."


Pak Bagas sangat lega.


"Sama-sama pak Bagas, niat baik almarhum inshaAllah akan jadi kemuliaan beliau di akhirat, ini yang dinamakan harta juga bisa menemani seseorang hingga liang kubur apabila hartanya digunakan di jalan Allah."


Kata Ridwan.


"Nggih Pak Ustadz, saya juga ingin mumpung masih hidup nanti akan mulai menitipkan beberapa aset pada Pak Ustadz untuk dikelola agar syiar islam bisa lebih luas lagi."


Ujar Pak Bagas, namun Ridwan yang mendengar itu jelas langsung buru-buru menolak.


"Nuwun Sewu Pak Bagas, bukan saya bagaimana-bagaimana, tapi sepertinya saya pikir panjenengan mungkin lebih baik untuk saat ini melihat kanan kiri lebih dulu Pak, ada tidak saudara dekat yang susah, kalau tidak ada diperluas lagi saudara jauh dari pihak Bapak dan Ibu panjenengan, mungkin ada yang baru saja kena PHK, atau ada yang sedang terbelit hutang untuk bertahan hidup karena misal usahanya hanya sol sepatu keliling yang sekarang sepi, atau penjual jajanan anak keliling yang juga mulai sepi."


Kata Ridwan.


"Tak lupa juga tetangga Pak, barangkali ada yang kesulitan juga, yang sedang banyak tanggungan, yang sulit makan, atau lain hal. Janda jompo yang anaknya juga sama susahnya, kakek yang sudah tak mampu usaha, atau marbot masjid di sekitar Pak Bagas tinggal, atau dekat kantor."


"Oh begitu nggih Pak Ustadz?"


"Nggih Pak Bagas, ini tah Nuwun Sewu sanget lho Pak, tapi jika kita masih hidup, lebih baik jika ingin harta kita bermanfaat alangkah lebih bagusnya jatuh ke orang-orang yang membutuhkan lebih dulu, baru setelah itu, jika masih tetap ada lebih, panjenengan bisa berikan ke panti yatim, ke tempat-tempat para ulama mendirikan pesantren untuk banyak orang menimba ilmu agama."


"Oh nggih Pak Ustadz, inshaAllah..."

__ADS_1


"Semoga Allah semakin memberikan keberkahan atas rezeki panjenengan sekeluarga karena memiliki niat baik dan juga amanah atas harta yang Allah titipkan."


Ujar Ridwan mendoakan.


"Aamiin ya Allah, maturnuwun Pak ustadz doanya."


Keduanya kemudian terlibat dalam pembicaraan tentang guru-guru baru yang telah masuk di Yayasan, termasuk pengurus pondok dan juga laporan Ridwan atas pendaftaran yang kini sudah dibuka dan disambut baik banyak kalangan.


"Pokoknya nanti untuk gaji guru dan pengurus yayasan di tahun pertama ini kami anak-anak Bapak yang akan sediakan, jadi tidak perlu khawatir Pak ustadz."


Kata Pak Bagas,


"Oh alhmdulillah Pak, kalau saya sama sekalu tidak memikirkan hal itu, bahkan inshaAllah jika tidak dibayar pun saya ikhlas."


"Oh tidak boleh begitu pak ustadz, ini adalah untuk waktu dan tenaga panjenengan yang telah dicurahkan."


Pak Bagas begitu semangat menjelaskan tentang leganya ia dan saudara-saudaranya kakak beradik karena wasiat terakhir almarhum ayah mereka akhirnya bisa mereka laksanakan berkat bantuan Ridwan.


**----------------**


Mbak Faizah tampak sibuk mengatur orang menata bunga yang dipasang di depan rumah maupun juga yang ada di dalam tempat acara.


Anisa yang hari ini ada jadwal diurut dan juga luluran memilih berdiri di balik kaca jendela kaca seraya mengawasi kakaknya sibuk mondar mandir.


Anisa menghela nafas, ada perasaan aneh menjalar dalam dirinya, perasaan lebih ringan dan... bahagia.


Ya, bahagia...


Anisa sendiri tak menyangka jika akhirnya ia bisa merasakan ini. Begitu ia telah pasrah atas apa yang Allah takdir kan untuknya. Setelah ia tak mencoba melawan dan memaksakan apapun yang ingin ia lakukan.


Mungkin inilah hidup yang dijalani Iis selama ini, hingga ia terlihat begitu tenang, hidup apa adanya tanpa harus sibuk menentang arus.


Anisa lantas mengalihkan tatapannya ke langit lepas, yang hari ini tampak cerah.


Doanya dalam hati jelaslah semoga ia akan terus merasakan semua ini, tidak akan ada masalah yang terlalu berat lagi.

__ADS_1


Anisa jadi ingat hari di mana ia akhirnya memutuskan untuk pulang lagi ke rumah, Wisnu mengantarkannya sekaligus menghadap Pak Haji Syamsul untuk menyampaikan keinginannya mempersunting Anisa.


"Setelah membatalkan perjodohan, sekarang kamu ingin menikahi anakku Anisa?"


Tanya Pak Haji Syamsul merasa aneh hari itu saat Wisnu menghadapnya kembali bersama Anisa yang memutuskan pulang ke rumah.


Tampak Wisnu berdiri dari duduknya, ia kemudian berjalan mendekati Pak Haji Syamsul untuk kemudian sungkem kepada Abahnya Anisa.


"Saya mohon maaf untuk sikap saya yang mungkin terkesan plin plan Pak Haji, tapi keputusan yang saya ambil tentu karena semuanya adalah untuk Anisa semata."


Kata Wisnu setelah melakukan sungkem, dan dengan posisi masih bersimpuh di atas karpet di hadapan Pak Haji Syamsul, lalu...


"Tujuan saya hanyalah tak lain untuk membuat Anisa bahagia Pak Haji, baik dulu maupun sekarang tujuannya adalah agar Anisa bahagia, karena tak ada yang lebih penting bagi saya selain membahagiakannya."


Pak Haji Syamsul tampak menatap Wisnu dan Anisa, seolah memastikan bahwa keduanya kini benar-benar telah serius dengan keputusan mereka.


Bagaimanapun Pak Haji Syamsul tak ingin kecewa lagi, apalagi sampai dipermalukan.


Anisa akhirnya ikut bersimpuh di belakang Wisnu dan ikut bicara,


"Abah, saat dulu Wisnu membatalkan perjodohan adalah karena Anisa belum bisa menerima kehadiran Wisnu, tapi sekarang inshaAllah Anisa sudah yakin bahwa Wisnu akan menjadi suami yang baik untuk Anisa."


Anisa lantas mendekati Abahnya, lalu melakukan sungkem juga, untuk meminta maaf.


"Kita mulai semuanya dari awal Nisa, apa kamu siap? Dan untuk mengawali semuanya adalah dengan meminta maaf pada Abah kamu dan juga nanti pada kedua orangtuaku."


Begitulah yang dikatakan Wisnu ketika akan mengantar Anisa pulang, dan karena inilah akhirnya Anisa melakukan sungkem pada Abahnya.


Tak lagi peduli siapa yang salah di awal, siapa yang selama ini di tekan dan diposisikan dalam kondisi tak enak.


"Kita minta maaf bukan hanya saat kita merasa salah, tapi juga saat kita tidak salah sekalipun, kita lakukan saja agar hidup kita kelak jadi berkah Nis."


Begitulah kata Wisnu, membuat Anisa merasa bahwa memang Wisnu juga adalah laki-laki yang baik, yang belum tentu Anisa akan bisa mengenal sosok macam dia lagi suatu hari.


**--------------**

__ADS_1


__ADS_2