
Seperti yang direncanakan, sepulang mengajar, Ridwan pergi ke supermarket untuk belanja dan kemudian membawanya ke pondok.
Sampai di pondok, Ridwan disambut Salwa dan dua pengurus pondok yang semuanya perempuan.
Mereka tampak membantu membawakan bahan belanjaan dari Ridwan.
Dua pengurus yang satu seorang Ibu berusia sekitar lima puluh tahunan, dan satunya lagi masih cukup muda.
Dua-duanya adalah janda tidak mampu yang merupakan masih warga sekitar pondok.
Sebagaimana masukan dari Pak Haji Imron, yayasan memang sengaja memberikan pekerjaan pada warga setempat agar menjadi jalan untuk mereka nantinya bisa merubah nasib.
Selain memperkerjakan mereka yang kini jadi pengurus pondok, yayasan juga merekrut beberapa orang lagi untuk menjadi penjaga pondok, menjadi tukang kebun, tukang sampah dan juga memberikan kesempatan pada para pedagang makanan, atau jajanan mengisi kantin saat sore hari jika rumah tahfidz dan madrasah serta TPQ mulai berjalan.
"Suami ke mana?"
Tanya Ridwan pada Salwa.
"Ke pasar Pak Ustadz, beli keranjang untuk anak-anak menyimpan baju kotor."
Jawab Salwa.
Ridwan mengangguk,
"Kalau begitu saya langsung pamit saja ya, itu semua bahan masakan disimpan untuk beberapakali hari, kalau habis kabari saya."
"Nggih Pak Ustadz."
Salwa mengerti.
"Anak-anak di pondok sudah dibuatkan jadwal kan Mbak?"
Tanya Ridwan saat akhirnya keduanya keluar dari bangunan pondok, tak jauh dari bangunan pondok ada masjid dan juga kantor yayasan yang sepi.
__ADS_1
"Jadwal sedang dibuatkan suami, nanti kalau sudah katanya pasti laporan dengan panjenengan Pak Ustadz. Anak-anak untuk sementara masih hanya melakukan kegiatan biasa saja, sholat subuh, mengikuti kajian sebentar, lalu belajar bersih-bersih, lalu sholat Dhuha, ngaji, ya sudah lumayan sih Pak Ustadz, paling ini lagi nunggu proses pindah sekolahnya mereka saja."
Ridwan mantuk-mantuk.
"Ya, semoga mereka betah, dan benar-benar belajar dengan baik di sini. Mumpung ada kesempatan seperti ini."
Ujar Ridwan.
Salwa mantuk-mantuk setuju,
"Benar Pak Ustadz, mumpung ada kesempatan baik bagi mereka bisa tinggal dan sekolah gratis bahkan belajar ilmu agama juga."
Ridwan lantas berjalan ke arah motornya yang terparkir di depan gedung yayasan.
"Nanti kalau sudah mulai ramai, pasti akan banyak sekali yang daftar Pak Ustadz, kita harus punya standar untuk menerima mereka."
Ujar Salwa.
"Ya nanti pastinya begitu,"
"Oh, yang katanya keluarga Pak Karto bagaimana? Apa sudah datang?"
Tanya Ridwan.
"Oh katanya besok Pak, tadi Pak Karto ke sini hanya ambil formulir lalu pergi."
"Hmm begitu, yo wis, paling besok beliau akan cerita."
Kata Ridwan.
Salwa mengangguk,
"Sudah Mbak, saya pamit nggih, salam untuk suaminya,"
__ADS_1
"Nggih Pak Ustadz, hati-hati di jalan."
Kata Salwa.
Ridwan tersenyum sekilas, lantas naik ke motor dan menyalakan mesin motornya.
Sampai ketika Ridwan akhirnya melesat menjauh, Salwa masih tampak berdiri di teras.
Ia memandangi pohon besar yang ada di halaman pondok, yang sedikit menyeramkan baginya.
Ah sebetulnya ia sudah berniat sekali akan bicara pada Ridwan agar pohon itu nantinya bisa ditebang, tapi lagi-lagi lupa.
"Mbak..."
Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang Salwa berdiri, membuat Salwa menoleh ke arah asal suara.
Tampak kemudian salah satu pengurus pondok yang usianya muda tersenyum ke arah Salwa.
"Bu... Tadi itu..."
Salah seorang pengurus pondok itu senyum-senyum sambil tersipu sendiri.
Salwa mengerutkan keningnya,
"Apa?"
Tanya Salwa jadi curiga melihat pengurus pondoknya itu senyum-senyum tidak jelas.
Si pengurus pondok itupun jadi memilih tak jadi menyampaikan apa-apa pada Salwa karena malu.
"Tidak jadi Bu, nanti saja."
Ujar si pengurus pondok.
__ADS_1
**------------------**