Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
176. Secuil Nasehat


__ADS_3

Ridwan sepulang dari rumah Iis langsung menuju ke pondok yang hari ini dijadwalkan kedatangan dua orang Ibu pengurus pondok, sedangkan yang akan tinggal, atau ikut bertempat dengan anak-anak dari pihak yayasan memang dijadwalkan akan bergantian tiga bulan sekali.


Untuk di awal ini, bendahara dua yayasan yang merupakan pengantin baru, mengajukan diri untuk bertempat di pondok.


Pasangan yang masih ada hubungan saudara dengan Pak Haji Imron ini, terlihat sangat antusias akan bertempat di pondok bersama banyak anak yatim dan duafa.


Pasangan bernama Arif dan Salwa ini juga lulusan pesantren macam Ridwan, hanya saja mereka tidak sampai sedalam Ridwan menguasai ilmu saat belajar di pesantren.


Mereka hanya berada di pesantren sekitar tiga tahun saja, selebihnya mereka keluar dari pesantren, satu tahun di rumah lalu dijodohkan dan menikah.


Usia mereka masih sangat belia, tapi memang pernikahan mereka dilangsungkan demi menghindari kegiatan pacaran dan lain hal, agar sama-sama terjaga tentunya.


Arif, yang merupakan keponakan Pak Haji Imron adalah bendahara dua yang masuk ke dalam yayasan untuk dikhususkan mengelola keuangan yang khusus disalurkan untuk pondok.


Ketika Ridwan tiba di pondok, Arif dan isterinya yang memang sudah menempati gedung sejak kemarin tampak menyambut dengan senang.


"Anak-anak akan mulai masuk besok pagi, ada baru sekitar sebelas anak, datanya apa sudah diterima?"


Tanya Ridwan.


Arif dan isterinya mengangguk,


"Sampun Pak Ustadz."


Jawab Arif, yang kemudian mempersilahkan Ridwan duduk untuk dibuatkan teh hangat karena kebetulan di luar mulai tampak gerimis.


"Pak Ustadz barangkali belum santap siang, mau disiapkan sekalian nopo? Di sini atau di ruang makan saja?"


Tanya Salwa.


"Oh iya betul, disiapkan di sini saja dik."


Kata Arif.


"Aduh, tidak usah repot, nanti gampang saya bisa makan di rumah, ini yang penting saya datang untuk memastikan semuanya memang sudah siap saja, sekaligus ingin bertemu dua pengurus yang akan membantu Mas Arif dan Mbak Salwa mengurus anak-anak dan pondok."

__ADS_1


Ridwan menolak halus tawaran makan siang yang sebetulnya saat ini sudah cukup sore.


"Tidak apa-apa Pak Ustadz, kami malah merasa terhormat sekali kalau Pak Ustadz bersedia santap siang di sini, kebetulan juga tadi kami masak sengaja agak banyak agar bisa para calon pengurus bisa makan langsung juga begitu tiba."


Kata Salwa.


"Enggih lho Pak Ustadz, saya sampai ikut terjun ke dapur bantu mengulek sambel segala."


Ujar Arif membuat Ridwan tertawa kecil.


"Tapi sebetulnya memang pekerjaan rumah itu yo masuk kewajiban dan tanggungjawab suami, jadi di sini yang membantu sebetulnya Mbak Salwa to Mas Arif?"


Ridwan ke arah Arif yang jadi ikut tertawa sambil mantuk-mantuk.


"Bukannya urusan rumah adalah tugas saya sebagai isteri Pak Ustadz?"


Tanya Salwa pada Ridwan yang jadi tertarik, Arif tampak deg degan menatap isterinya yang jelas langsung antusias.


Ia sampai harus duduk di samping Arif suaminya, karena ingin mendengar penjelasan Ridwan lebih dahulu.


Tentu saja, pandangan mata Ridwan tidak berhak ke arah perempuan yang merupakan isteri laki-laki lain, Ridwan sangat berusaha menjaga pandangannya, apalagi di hari ini ia merasa telah bermaksiat dengannya di rumah Iis.


"Tidak Mbak Salwa, sebetulnya tugas isteri hanyalah melayani suami dan mengurus anak-anak saja."


Kata Ridwan.


"Melayani suami, bukankah mengurus rumah juga bagian dari mengurus suami juga Pak?"


Tanya Salwa.


Ridwan menggeleng pelan,


"Dalam sebuah kitab yang membahas tentang hak dan kewajiban suami isteri, disebutkan bahwa sebetulnya tugas dan kewajiban laki-laki sebagai suami bukan hanya mencari nafkah, tapi juga mengurus semua pekerjaan rumah, dari mencuci baju, bebenah hingga memasak untuk menyenangkan isterinya."


Kata Ridwan.

__ADS_1


"Hah? benarkah? Aku baru tahu."


Salwa tersenyum lebar,


"Tapi..."


Ridwan tersenyum begitu menambahkan kata tapi, yang kemudian membuat Salwa tak jadi menggoda Arif suaminya,


"Tapi, jika laki-laki yang menjadi suami telah melakukan semuanya dengan sempurna, maka perempuan sebagai istri tidak boleh sama sekali membantah apa yang diinginkan suami saat minta dilayani. Jadi isteri benar-benar hanya boleh di dalam rumah, melayani suami kapanpun ia membutuhkan dilayani. Perempuan hanya berhias mempercantik diri di dalam rumah saja hanya untuk suami."


Salwa terdiam, gantian Arif yang tersenyum,


"Nah, dalam sebuah rumah tangga, apalagi di Indonesia yang sudah menjadi hal lumrah mengurus rumah dan lain-lain adalah tugas perempuan, tentu hal ini akan jadi aneh dilihat orang lain. Terkadang kita hidup juga tidak bisa sekaku itu, meskipun sebetulnya seharusnya begitu. Apalagi, misalnya pihak laki-laki yang sebagai suami belum mampu membayar asisten rumah tangga, karena sebetulnya yang dimaksud dengan suami berkewajiban bebenah, masak, mencuci tentu bukan semata-mata ia melakukannya dengan tangannya sendiri, karena mustahil jika laki-laki sudah lelah bekerja seharian, ia masih ada waktu untuk mengurus rumah."


Ujar Ridwan.


Arif mantuk-mantuk setuju.


"Agama kita itu sangat adil dan bijak dalam mengatur semua hal, bahkan untuk urusan rumah tangga. Kita ambil tengahnya, isteri yang sholihah, ia akan mengambil alih tugas dan kewajiban suaminya yang bisa ia lakukan di dalam rumah, mengurus anak sambil mengurus rumah, memasak dan mencuci, semua itu adalah ladang pahala baginya. Bahkan disebutkan, jika ia mencucikan baju suaminya, selama satu hari itu baju sang suami dijemur, maka setiap tetesan air dan juga air yang menguap akan menjadi rohmat baginya, menjadi jalan diampunkannya dosa-dosa dari sang isteri, begitu juga saat ia memasak dan lain sebagainya, selama ia melakukannya dengan ikhlas dan ridho lillahi ta'ala."


Salwa tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Rumah tangga sejatinya adalah seperti sebuah tim untuk menuju syurganya Allah, mengetahui hak kewajiban masing-masing sebetulnya juga untuk mempermudah kita menempatkan diri dalam porsi yang tepat, bukan untuk saling mengintimidasi. Banyak pasangan yang seringkali salah menggunakan kata hak dan kewajiban saat berumahtangga, semacam suami yang selalu dengan mudah mengatakan isteri durhaka hanya perkara tidak mau melayani saat menginginkan di tempat tidur, padahal bisa jadi isteri sudah membantunya menyelesaikan kewajibannya mengurus rumah karena suami belum bisa membayar asisten rumah tangga untuk menggantikannya mengurus rumah, apalagi isteri juga telah lelah melakukan tugasnya dan kewajibannya sendiri sebagai isteri sekaligus ibu mengurus anak-anak."


"Ya Allah, iya juga ya."


Arif seolah menyadari betapa banyak suami yang egois sebetulnya.


"Maka, isteri-isteri yang memiliki suami secara ekonomi lebih dari cukup, telah memanjakannya dengan semua fasilitas di rumah, ia tidak lelah sama sekali, maka sebetulnya ladang pahalanya adalah hanya berhias diri di dalam rumah untuk suaminya saja, dan jika ia menolak permintaan suami, barulah itu bisa dikatakan nuzus."


"Intinya kita masing-masing laki-laki dan perempuan pertama harus tahu hak dan kewajiban dulu, setelah itu niatkan apa yang dilakukan jadi ibadah. Nanti akhirnya bisa jadi berkah. Seperti tim, tentu harus tahu tugas masing-masing, jika salah satu kesulitan, maka yang lain membantu, tak boleh saling memberatkan satu sama lain."


Kata Ridwan.


Arif dan Salwa mengangguk, mereka sangat senang berbincang dengan Ridwan, seperti kembali berada di pondok, mereka mendengarkan dengan sungguh-sungguh apa yang disampaikan Ridwan.

__ADS_1


**-------------**


__ADS_2