
Bulan malam ini tak bercahaya seterang kemarin, mungkin karena mendung sebetulnya bergelayut di hamparan langit malam yang menghitam.
Ridwan mengayunkan langkahnya menuju pulang setelah cukup lama ikut duduk bersama anak-anak remaja di masjid.
Mereka banyak bertanya pada Ridwan tentang beberapa masalah yang belakangan sering ada di media sosial,
Ridwan berjalan menyusuri jalan kampung yang sepi, sampai akhirnya ia memasuki halaman rumah dan dilihatnya ada sebuah sepeda motor terparkir di sana.
Bukan hanya sepeda motor yang terparkir di halaman rumah, pintu rumahnya pun juga tampak terbuka lebar,
Ibunya Ridwan terlihat duduk di kursi tamu dekat pintu yang untuk masuk ke ruang dalam.
Ada tamu rupanya. Batin Ridwan.
Ridwan pun mempercepat langkahnya menuju rumah, hingga sampai di pintu, diucapnya salam sebagaimana biasa,
"Assalamualaikum..."
Mendengar suara Ridwan mengucap salam, Ibu, Mbak Wening dan sang tamu lantas langsung menjawab sambil kompak melihat ke arah pintu di mana Ridwan berdiri,
"Waalaikumsalam..."
Ibu terlihat tersenyum menyambut, Ridwan lantas masuk ke dalam,
"Mas..."
Tampak tamu yang duduk berdiri, tamu yang tak lain adalah Mas Amin dan di sebelahnya tampak seorang anak kecil seusia Ajeng.
Ridwan pun mendekat, lalu bersalaman dengan Mas Amin dan juga anak kecil di sebelah Mas Amin, yang sepertinya adalah anak Mas Amin.
"Duduk Wan."
Kata Ibu.
Mbak Wening begitu Ridwan datang, tampak langsung berdiri dan kemudian permisi masuk ke ruang dalam untuk membuatkan wedang teh lagi sebagai suguhan Ridwan menemani tamu.
Ridwan sendiri lantas menurut Ibunya untuk duduk di samping beliau, menggantikan posisi Mbak Wening yang kini berada di ruang dalam untuk menyeduh teh.
__ADS_1
"Ini Mas Amin sedang silaturahmi, sekalian meminta restu untuk hubungannya dengan Mbak Wening."
Kata Ibu pada Ridwan,
Ridwan tampak mengangguk mengerti, tentu saja, meskipun Ibu tak mengatakannya, Ridwan yang bukan lagi anak ABG jelas paham maksud kedatangan seorang laki-laki seusia Mas Amin ke rumah seorang perempuan yang di mana ia juga menemui orangtuanya.
"Beliau juga memperkenalkan putrinya, ini yang ikut Mbah nya nggih Nak Amin?"
Ibu pada Mas Amin, takut salah,
Mas Amin tampak mengangguk,
"Nggih Bu, ini ikut Mbah, tapi nantinya kalau masuk SMP, inshaAllah akan ikut saya saja, itu kalau Mbak Wening tidak keberatan misalnya kami nanti menikah."
Ujar Mas Amin.
Tampak Ibu tersenyum,
"Tentu tidak boleh keberatan,
"Masing-masing jika berniat menikah karena Allah, sudah seharusnya tidak keberatan dengan apa yang telah dibawa oleh masing-masing, baik Mas Amin dengan anak Mbak Wening, begitu juga Mbak Wening pada anak Mas Amin. Mereka anak-anak adalah kewajiban dari setiap orangtua mengurus hingga mereka kelak menikah."
Mendengar kalimat Ridwan, tampak Ibu mengangguk-anggukkan kepalanya setuju.
Mas Amin pun lantas menyampaikan lagi apa yang menjadi tujuannya datang, termasuk meminta maaf karena kedatangannya bisa dibilang seperti mendadak dikarenakan Mbak Wening juga menyampaikan pada Mas Amin cukup mendadak.
Mas Amin intinya tidak ingin keluarga Mbak Wening sampai khawatir jika Mas Amin hanya ingin main-main saja, sementara usia mereka juga bukanlah usia remaja lagi.
Mas Amin ingin meyakinkan pada keluarga Mbak Wening, bahwa keinginannya untuk nantinya menikahi Mbak Wening adalah sebuah kesungguhan.
"Kalau saya pribadi, sebagai adik laki-laki tentu saja tidak ada sama sekali rasa keberatan Mas."
Kata Ridwan, yang mana bersamaan dengan itu, Mbak Wening tampak muncul dari ruang dalam membawa nampan dengan satu cangkir wedang teh yang akan disuguhkan untuk Ridwan.
"Saya justeru ikut bahagia jika nantinya memang Mbak Wening ada yang akan menjaga lagi, melindungi lagi, karena bagaimanapun, seorang perempuan akan jauh lebih aman jika ia hidup dengan pasangan."
Ujar Ridwan.
__ADS_1
Mbak Wening meletakkan cangkir teh di atas meja tamu di depan Ridwan, lantas mengambil tempat duduk di dekat Ibunya sendiri juga.
"Yang penting, selama niat Mas Amin dan Mbak Wening menikah lagi adalah karena Allah saja, inshaAllah nanti semuanya akan berbuah kebaikan. Sejatinya pernikahan kan satu ibadah juga, di dalamnya juga banyak ibadah juga, jadi ya saya dan Ibu, tentu hanya berkewajiban untuk memberikan restu, mendoakan dan membantu hingga menuju hari pernikahan."
"Tapi kami ingin kamu dulu Wan, biarlah nanti kami akan menikah setelah kamu saja."
Mbak Wening menyela,
Ridwan menoleh pada Ibunya,
"Ya, tadi kami sedang membahas begitu Wan, bahwa Mbak Wening dan Mas Amin ini inginnya nanti setelah kamu menikah, baru mereka akan menyusul."
Ujar Ibu,
"Kami hanya akan akad nikah di KUA, lalu membagikan nasi berkat saja, jadi tidak akan butuh banyak persiapan Wan, jangan khawatir."
Kata Mbak Wening menambahkan,
Ridwan sejenak terdiam,
"Minggu depan kita kan ada acara lamaran ke rumah Iis, nanti sekalian saja tentukan harinya, kamu toh juga pastinya tidak mungkin berlama-lama menunda pernikahan."
Kata Mbak Wening pula,
Ridwan tampak menghela nafas.
Ya...
Tentu saja, Ridwan tidak ingin berlama-lama karena ia tahu bahwa sesuai dengan apa yang ia pelajari, tidak ada pacaran yang dibenarkan dari kacamata agama.
Ridwan tentu juga tak ingin tenggelam dalam maksiat mata dan hati.
"Nggih Mbak, inshaAllah."
Kata Ridwan akhirnya, membuat semuanya jadi tampak tersenyum mendengarnya.
**---------------**
__ADS_1