Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
43. Adik Laki-laki Baik


__ADS_3

"Is... Makan yuk."


Anisa menyingkap tirai pintu kamar Iis sambil tersenyum lebar pada Iis yang menoleh ke arahnya.


Iis tampak duduk selonjor di atas tempat tidur sambil membaca buku Totto-Chan yang baru ia beli sore kemarin.


Ah baca?


Benarkah?


Sejatinya matanya membaca tapi pikirannya ke mana-mana. Apalagi perasaannya, sulit sekali ia coba tata ulang.


Padahal Iis baru saja merasakan cinta sendirian, apalagi jika sudah ada hubungan dengan Ridwan, pastinya tak bisa dibayangkan rasanya.


Pantas saja, perempuan yang telah menjadi pasangan sah dari seorang laki-laki akan hancur sehancur-hancirnya, begitu laki-laki itu tiba-tiba diketahui memiliki wanita idaman lain.


Ya, Iis lebih suka menyebut dengan kata wanita idaman lain, daripada dengan sebutan perebut suami orang seperti yang sedang viral.


Karena sejatinya, kata rebut adalah sesuatu yang dipaksa, padahal laki-laki itu dengan suka rela melakukannya. Suka rela menghianati pasangannya.


Aduh Iis malah jadi ke mana-mana.


Iis lantas mencoba membalas senyuman Anisa.


"Ya, baiklah Nis."


Sahut Iis yang lantas menutup bukunya dan meletakkannya di atas bantal sebelah ia duduk.


Ia lalu turun dari tempat tidur, memakai sandal jepit bersih yang memang selalu ia pakai di dalam rumah.


Anisa yang melihat Iis sudah turun langsung menuju ruang makan untuk ambil tempat dengan Ibunya Iis.


Buat Anisa, rumah Iis yang kecil dan sederhana jauh lebih nyaman dibandingkan rumahnya yang besar dan dipenuhi perabotan kayu mahal.


Di rumah Iis selalu terasa hangat, karena ada kasih sayang seorang Ibu yang setiap kali Anisa berada di sana, Ibunya Iis selalu memperlakukannya sebagaimana anak sendiri.


"Kalau mau minum air hangat ambil sendiri Nis, seperti biasa."


Kata Ibu.


Anisa mengangguk.


Iis melintasi ruang makan untuk menuju dapur, tampak ia cuci tangan di wastafel dan kemudian baru ke ruang makan bergabung bersama Ibu dan Anisa.


Di atas meja makan terlihat menu ceker ayam pedas dan sayup sop baso, ada gorengan tahu satu piring dan kerupuk udang ukuran kecil.


Anisa memberikan piring pada Iis, tampak Iis menerimanya sambil tersenyum tipis saja,


"Terimakasih,"


Kata Iis.


"Ini yang bikin gorengan tahu Anisa lho Is, sudah lumayan mahir sepertinya."


Ujar Ibu, yang langsung disambut Anisa dengan tertawa kecil.


"Ibu yang bikin adonan tepungnya, Nisa mah tinggal goreng doang."

__ADS_1


"Lho, menggoreng juga butuh keahlian lho, kalau yang tidak bisa itu biasanya akan mentah di dalamnya, sementara di luarnya justeru gosong."


Anisa tampak makin tertawa.


"Ada ya Bu, yang begitu?"


Tanya Anisa di sela tawanya.


"Ada, dulu Ibu kalau bikin gorengan begitu, hehehe..."


Ibu terkekeh-kekeh seolah menertawakan dirinya sendiri, Anisa pun jadi ikut tertawa dibuatnya.


Iis duduk di kursi yang ada di seberang meja berhadapan dengan Anisa.


Iis mengambil satu gorengan tahu dan mencicipinya.


"Enak."


Kata Iis tersenyum pada Anisa yang tentu saja semakin senang.


Iis lantas mulai menikmati makan siangnya, dan mencoba bersikap seperti biasa.


**--------------**


Sekitar jam dua siang, Ridwan akhirnya baru keluar dari rumah Pak Haji Imron, setelah banyak hal yang dibicarakan dengan ketiga ahli waris Pak Suhadi dan juga Pak Haji Imron.


Ridwan belum mampu mengiyakan, ia masih terlalu takut bukan karena tak mau membantu, melainkan karena ia memang butuh waktu untuk mempertimbangkan.


"Saya akan istikharah lebih dulu, ijinkan saya minta waktu tiga hari."


Begitulah Ridwan menjanjikan.


Pak Haji Imron, sejak dulu memang dikenal sebagai orang yang amanah, saat menjadi kepala desa, dikabarkan beliau sama sekali tak pernah meminta uang dari masyarakat.


Keluarga Pak Haji Imron sudah kaya sejak kakek buyutnya, selain itu mereka juga cukup alim hingga tak heran banyak orang yang menghormati keberadaan beliau lebih dari tokoh sekitar lainnya.


Sama seperti keluarga Pak Suhadi, yang sudah menetapkan pilihan kepada Pak Haji Imron untuk membantu mereka melaksanakan wasiat sang Bapak, ditunjuknya Ridwan oleh Pak Haji Imron membuat mereka pun akhirnya yakin jika Ridwan akan mampu amanah seperti Pak Haji Imron juga.


Apalagi melihat sikap Ridwan tidak langsung senang begitu mendapatkan kesempatan mengelola tanah wakaf serta yayasan yang akan mereka dirikan atas nama Pak Suhadi.


Ridwan justeru seperti takut jika nantinya amanah yang ia emban tak sepenuhnya bisa ia laksanakan dengan baik.


Pulangnya Ridwan dari rumah Pak Haji Imron yang sudah cukup siang akhirnya membuat Ridwan memutuskan untuk ke rumah Pak Haji Syamsul lagi.


Ia ingat Mbak Wening minta dijemput pulang selepas dzuhur karena ini hari Sabtu, dan dia akan mulai bersiap.membuat keripik pisang.


Sampai di rumah Pak Haji Syamsul, terlihat Mbak Wening sudah menunggu di warung rujak seberang rumah Pak Haji Syamsul.


"Dari mana Wan? Lama sekali."


Kata Mbak Wening seraya menghampiri Ridwan.


Ia tampak membawa kresek berisi bungkusan rujak, tentu tak enak ikut duduk tapi tidak beli apa-apa.


Menunggu di rumah Pak Haji sebetulnya bisa saja, tapi Mbak Wening malasnya kadang Suci suka menyuruhnya melakukan ini itu lagi dan jadi pekerjaannya tidak selesai-selesai.


"Tadi habis dari rumah Pak Haji Imron, Mbak. Belum pulang ke rumah malah aku."

__ADS_1


Kata Ridwan.


"Oalah, pantas saja, Mbak telfon tidak aktif, Mbak telfon Ajeng juga katanya kamu belum pulang."


Ridwan mengangguk,


"Iya memang, aku belum sempat pulang karena ada urusan di rumah Pak Haji Imron."


"Urusan apa lagi Wan?"


Mbak Wening kepo.


Ridwan menghela nafas,


"Ceritanya panjang Mbak, nanti saja, kita pulang dulu."


"Yo wis, ayok pulang."


Mbak Wening naik ke boncengan, lalu motor Ridwan pun melaju.


Hari ini tidak terlalu panas, tapi juga tidak hujan, hanya mendung saja bergelayut tipis-tipis.


Motor Ridwan menyusuri jalanan kampung yang tak seberapa bagus.


"Nanti hari senen kan kamu sudah mulai mengajar di sekolah, Mbak bisa naik sepeda ontel lagi untuk berangkat kerja, jadi kamu tidak repot."


Kata Mbak Wening dalam perjalanan.


"Repot opo to Mbak, tidak apa-apa aku antar dan jemput wong aku berangkat kan bisa sekalian antar, nanti Mbak pulang kerja sore aku kan sebelum aku ngajar ngaji."


"Yo tapi kan kamu nya jadi harus muter lewat sini, padahal kan lebih dekat kalau lewat gang rumah sendiri."


"Wis tidak apa-apa Mbak, kewajiban saudara laki-laki adalah menjaga dan mengurus kakak adik perempuannya yang sendirian. Sebagai pengganti Bapak, aku harus memastikan Mbak di jalan aman. Nanti kalau penghasilanku sudah cukup, tidak usah bekerja lagi Mbak, kebutuhanmu sebagai saudara perempuanku adalah kewajibanku."


Kata Ridwan.


Mbak Wening yang mendengarnya tentu saja jadi berkaca-kaca.


"Kecuali kalau Mbak Wening kelak menikah lagi."


"Ah tidak Wan, Mbak hanya ingin membesarkan Ajeng sebagai anak sholihah dan sukses. Cukuplah Bapak nya Ajeng yang menjadi suami Mbak."


Kata Mbak Wening.


"Barangkali Mbak, namanya manusia tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti."


Ujar Ridwan.


Mbak Wening akhirnya terdiam.


Ya...


Memang banyak orang yang selalu mendorong Mbak Wening menikah lagi, bahkan di pasar, jika Mbak Wening jadwal belanja untuk kebutuhan masak di rumah Pak Haji Syamsul ada duda penjual Cabe yang terang-terangan ingin menikahinya.


Tapi...


Ah Mbak Wening rasanya memang tidak memikirkannya. Mau seperti apapun orang biasanya menjadi Janda dikata ini itu, Mbak Wening tak mau ambil pusing.

__ADS_1


**--------------**


__ADS_2