
Pagi menjelang, suasana Sekolah Dasar Waru Dua terlihat mulai ramai dipenuhi murid-murid berseragam merah putih yang berdatangan untuk menimba ilmu.
Guru-guru yang terlihat memakai motor juga kini mulai tampak datang satu demi satu, termasuk Bu Guru Iis.
Bu Guru Iis yang termasuk guru baru mengajar pelajaran IPS Sejarah, ia belum menjadi wali kelas manapun karena masih belum terlalu lama mengajar.
Mas Trisno yang bekerja menjadi penjaga sekaligus tukang kebun sekolah dan telah resmi diangkat menjadi pegawai negeri tahun lalu tampak menyambut kedatangan Bu Guru Iis yang memarkirkan motornya di parkiran sekolah.
Mas Trisno tengah menyapu dan membersihkan beberapa rumput liar yang tumbuh di sekitar lapangan parkir.
"Pagi Bu Guru."
Sapa Mas Trisno.
"Pagi..."
Jawab Bu Guru Iis ramah.
Bu Guru Iis bukanlah perempuan dengan paras biasa saja, namun karena attitude nya, ia sangat dihormati pemuda dan laki-laki manapun yang mengenalnya.
Bu Guru Iis melangkah dengan anggun meninggalkan parkiran, tas kerjanya tampak menggantung di bahu kirinya.
Jilbab segi empat berwarna kuning kunyit tampak di hias bros kecil berbentuk bunga mawar.
Ia terus berjalan ke arah kantor Guru. Beberapa murid yang berpapasan dengannya tampak berebut bersalaman dan mencium punggung tangannya.
Setiap kali menyambut uluran tangan muridnya, Bu Guru Iis mengusap kepala murid itu dengan lembut.
"Yang pinter sekolahnya, yang sholeh."
Begitu selalu doa Bu Guru Iis untuk anak-anak didiknya.
Bu Guru Iis adalah tipe pengajar yang sangat mengerti posisinya sebagai seorang Guru yang bukan hanya bertugas berbagi ilmu pengetahuan saja kepada anak-anak, namun juga ia menjadi orangtua mereka pula di sekolah.
Selayaknya orangtua, Bu Guru Iis akan menyayangi, mengayomi dan mendoakan mereka sepenuh hati, agar kehidupan para muridnya kelak bukan hanya bisa sukses, namun juga bermanfaat untuk dirinya sendiri, untuk orangtuanya, untuk keluarganya, dan untuk bangsa serta negaranya.
Setelah menyalami setiap anak murid yang berpapasan dan mereka memang ingin menyalami Bu Guru, tampak Bu Guru Iis akhirnya sampai di kantor para Guru.
Di sana sudah tampak ada dua guru perempuan yang lebih senior satu tahun di banding Bu Guru Iis, dan juga ada satu pegawai Tata Usaha Sekolah yang memang biasa berada di ruang guru di pagi hari untuk berkumpul dengan dua guru tersebut.
Kabar-kabarnya, mereka itu dulunya saat sekolah memang teman dekat, jadi tak heran dipertemukan dalam satu instansi membuat kedekatan mereka kembali terjalin.
"Assalamualaikum..."
Bu Guru Iis menguluk salam.
Ketiga perempuan di dalam ruang Guru menoleh ke arah pintu dan menjawab salam Bu Guru Iis.
"Waalaikumsalam."
Bu Guru Iis tersenyum, lalu berjalan menuju mejanya.
__ADS_1
Seorang Pak Guru yang usianya sudah sekitar lima puluh tahunan tampak masuk, ia juga sepertinya baru datang.
"Pak Kepsek belum datang ya?"
Tanya Pak Guru yang namanya Pak Guru Hasan.
"Oh belum Pak."
Sahut Bu Guru Lela, salah satu dari tiga serangkai yang sudah lebih dulu berada di ruang guru sebelum Bu Guru Iis tiba.
"Wah, bukannya hari ini katanya Guru Baru nya akan ke sekolah?"
Pak Guru Hasan bergumam.
Gumaman yang disambut bahagia oleh Bu Guru Lela dan kedua temannya.
"Maksudnya Pak Guru Ridwan, Pak?"
Tanya Bu Guru Pratiwi, teman Bu Guru Lela.
"Iya Bu, Pak Guru agama kita yang baru, Pak guru Ridwan."
Ujar Pak Guru Hasan.
Di tempatnya Bu Guru Iis hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya sambil mulai sibuk menyalakan komputer di mejanya, ia harus mencetak beberapa tulisannya sendiri untuk nanti menjadi bahan ia mengajar pada anak-anak di kelas.
Bu Guru Lela dan Bu Guru Pratiwi kasak kusuk sambil berjalan menuju meja mereka, sementara Aeny, yang merupakan pegawai Tata Usaha Sekolah pamit kembali ke ruangannya.
Padahal mereka belum melihat langsung bagaimana rupa Pak Guru Ridwan saja sudah heboh, apalagi nanti setelah melihatnya. Batin Bu Guru Iis melihat reaksi kedua teman Bu Gurunya.
Di rumahnya Ridwan tampak sedang melaksanakan sholat dhuha di kamarnya, saat Ibu melongok ke dalam kamar dari balik tirai yang menutupi pintu kamar.
"Assalamualaikum warrohmatullahi wabarokatuh..."
Ridwan menoleh ke kanan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh..."
Ridwan menoleh ke sebelah kirinya.
Setelah itu, ia tampak berdzikir sebentar, sebelum kemudian menengadahkan kedua telapak tangan lalu mengucapkan beberapa doa.
Setelah mengaminkan doanya, dan mengusap wajah, Ridwan bangkit dari duduk di atas hamparan sajadahnya seraya menarik sajadah itu untuk kemudian ia lipat dan di letakkan di sandaran kursi kayu depan meja belajarnya.
"Hari ini mulai ke sekolahan kan Wan?"
Suara Ibunya terdengar kemudian dari luar kamar.
Ibunya setelah melihat Ridwan sedang sholat dhuha memang memilih menunggu Ridwan di luar saja.
Duduk di kursi kayu jaman dulu yang masih terawat baik, yang diletakkan di samping meja panjang untuk menyimpan perabotan macam piring, mangkok, cangkir dan lain sebagainya yang biasanya hanya dipakai saat hari-hari tertentu di mana banyak tamu berkunjung.
__ADS_1
Ridwan melangkah ke arah pintu kamarnya yang terbuka namun masih ditutup tirai.
Disingkapnya tirai pintu tersebut dan Ridwan melihat Ibu duduk di dekat sana.
"Pripun Bu?"
Tanya Ridwan yang tadi tak begitu jelas menangkap pertanyaan sang Ibu.
"Hari ini, kamu sudah mulai ke sekolah?"
Tanya Ibu akhirnya mengulang.
"Oh Ridwan hari ini hanya diminta oleh Pak Kepsek untuk datang Bu, sepertinya untuk diperkenalkan pada rekan Guru dan juga pada para murid saja, sekaligus mungkin untuk mendapat jadwal mengajar."
Jawab Ridwan.
Ibu terlihat mantuk-mantuk, ia mengeluarkan dompet kecil yang selalu ada di pinggangnya.
Tampak Ibu mengambil uang lima puluhan dua lembar.
"Untuk pegangan nanti ke sekolahan."
Kata Ibu sambil mengulurkan tangannya ke arah Ridwan.
"Bu, tidak usah Bu, Ridwan sudah ada pegangan Bu."
Kata Ridwan.
"Lho kamu itu kan belum kerja to Wan, tidak apa-apa Ibu masih kasih uang."
Ridwan tersenyum mendengar perkataan Ibunya.
Ia meraih tangan sang Ibu dengan lembut.
"Ridwan sudah sangat berterimakasih untuk semua yang Ibu lakukan untuk Ridwan sejak masih dalam kandungan hingga hari ini Bu. Sudah saatnya Ridwan kini membalas semuanya. Berbakti pada ibu, merawat Ibu, melindungi Ibu dan semoga mampu membahagiakan Ibu pula secara materi."
Kata Ridwan dengan mata berkaca-kaca.
"Doakan saja Ridwan bisa menjadi Guru yang baik Bu, yang ilmunya bermanfaat dan nantinya Ridwan bisa menjadi pegawai negeri. inshaAllah, Ridwan ingin mengabdikan diri sepenuhnya untuk Ibu, agama dan negara dengan menjadi Guru."
Kata Ridwan.
Yah, ini memang adalah mimpi besar Ridwan, bisa mengajarkan ilmu yang ia miliki, dan juga ia bisa sekaligus berkarir.
"Doa Ibu tak pernah putus Wan, kau tahu bagaimana seorang Ibu setiap tarikan nafasnya adalah selalu hanya menginginkan anaknya hidup lebih baik daripada dirinya."
Kata Ibu.
Ridwan bersimpuh di kaki Ibu.
"Terimakasih Bu, terimakasih telah menjadi Ibu yang sangat baik untuk Ridwan."
__ADS_1
Lirih Ridwan mencium tangan Ibunya.
**----------------**