
Anisa baru akan menelfon Iis, manakala dilihatnya Iis datang dengan motornya mendekati toko emas di mana kini Anisa menunggunya di depan toko.
Toko mas milik orangtuanya itu sudah tutup, dan bahkan para karyawannya sudah pulang meninggalkan Anisa sendirian.
Iis menyunggingkan senyuman, saat motonya ia berhentikan di depan toko Anisa.
Anisa beranjak dari tempatnya duduk menunggu Iis, ia lantas berjalan menghampiri Iis yang lebih memilih menunggu Anisa yang mendekat.
"Kok lama Is?"
Tanya Anisa sambil bersiap naik ke boncengan.
"Iya, tadi antar Mbak Wening dulu pulang ke rumah."
Deg!
Mendengarnya Anisa langsung berekspresi sedikit kaget, jelas dalam bayangannya adalah Ridwan.
"Hey, kenapa bengong? Ayo naik."
Kata Iis.
Anisa tersenyum, lalu naik ke atas boncengan di belakang Iis.
"Kamu nganter ke rumah Mbak Wening, kamu tahu rumahnya? Sering ke sana?"
Tanya Anisa.
Iis tentu saja menggeleng.
"Aku baru lihat tadi, kalo cuma dengar cerita sih udah sering."
Ujar Iis.
"Ada siapa saja di rumah Mbak Wening? Suaminya kan katanya udah meninggal."
Tanya Anisa.
Iis kembali melajukan motornya pelahan,
"Tidak ada siapa-siapa tadi, aku hanya ketemu Ibunya, Ajeng juga tidak kelihatan, mungkin sedang mandi."
Kata Iis.
"Oh."
Anisa meng oh kan.
Iis kembali menambah kecepatan motornya begitu akhirnya keluar dari parkiran, tujuan pertamanya adalah toko buku.
"Bukannya Mbak Wening sekarang di antar jemput adiknya, kok tadi bisa kamu yang antar?"
Tanya Anisa lagi begitu mereka sudah dalam perjalanan.
"Maksudnya Pak Ridwan? Kamu kenal Nis?"
Tanya Iis.
Anisa tampak gugup ditanya Iis meskipun saat ini mereka tidak berhadapan.
"Ngg... Itu kan anu, apa, ngg nganter Mbak Wening."
Jawab Anisa tak jelas.
Iis mengerutkan kening, lalu,
"Tadi Mbak Wening ke rumah antar nasi berkat dari Mbak Faizah, karena kebetulan aku mau pergi dan Mbak Wening katanya mau pulang jalan kaki jadi aku tawarin tumpangan sekalian."
__ADS_1
Tutur Iis.
"Mbak Wening tidak dijemput maksudnya?"
Tanya Anisa bersamaan dengan motor dibawa Iis menyebrang ke arah toko buku,
"Iya, katanya ada acara sama Pak Haji Imron ke tempat sahabat beliau yang lagi sakit."
"Pak Haji Imron yang mantan lurah itu?"
Tanya Anisa lagi.
Iis mengangguk.
Motor masuk ke parkiran toko buku, setelah mencari tempat yang cukup dekat dengan pintu keluar, Iis memarkirkan motornya.
Toko buku itu bersebelahan dengan kedai yang menjual aneka makanan dan minuman, salah satunya adalah bakso yang nantinya Iis dan Anisa ingin makan-makan di sana.
Anisa turun dari boncengan, disusul Iis yang melepas helmnya, lalu juga turun dari motor.
"Mau cari buku sejarah perang dunia ke II dan juga penyebaran islam di Nusantara."
Kata Iis kala akhirnya menggandeng tangan Anisa untuk cepat berjalan menuju toko.
Anisa mengikuti langkah kaki Iis yang begitu bersemangat, Iis memang begitu sejak dulu, jika pergi ke toko buku, ia seperti mendapatkan energi dua kali lipat.
"Kamu mau beli buku juga Nis? Beli novel saja Nis, buat temen kalo lagi susah tidur, biar tidak melamun."
Kata Iis.
Anisa tersenyum, lalu mengangguk.
"Novel karya Dee Lestari, atau yang lucu Raditya Dika, biar kamu bisa banyak senyum."
Kata Iis menatap Anisa yang lagi-lagi hanya tersenyum simpul.
"Bagaimana menurut Ibu? Manis dan kelihatan sekali kan Bu, kalau dia perempuan yang baik?"
Tanya Mbak Wening setelah selesai mandi dan sholat asar.
Ajeng sedang belajar di kamar setelah sholat asar, sementara Ibu seperti biasa sedang menikmati sirih sambil nonton TV.
"Iya... Iya..."
Sahut Ibu.
"Pokoknya cocok itu Bu kalau sama Ridwan, bagaimana ya Bu biar mereka itu berjodoh?"
Mbak Wening duduk di sebelah Ibunya yang kini sedang menata daun sirih di wadah.
"Lha bagaimana, wong jodoh kan sudah ada yang mengatur, kok kamu mau ikutan sibuk ngatur itu bagaimana ceritanya?"
Ibu menggelengkan kepalanya.
"Duh Ibu, yo tetap kan kita itu manusia boleh ikhtiar."
"Yang ikhtiar yo adikmu to, ben wae Ridwan milih sendiri, kan sudah dewasa, sudah tahu mana yang cocok nantinya jadi isteri, jadi calon ibu yang baik untuk anak-anak yang dilahirkannya."
"Tapi Ridwan itu kan selalu menghindari teman perempuan Bu, selalu jaga jarak, susah nanti dapat jodohnya."
Ujar Mbak Wening.
Ibu mendengarnya langsung manabok paha Mbak Wening,
Plak!!
"Aduh, lho kok aku ditabok iki piye jal Ibu."
__ADS_1
Mbak Wening auto protes.
"Lha wong kamu kok malah ngomong nanti Ridwan susah dapat jodoh."
Kata Ibu.
"Yo maksudnya kan..."
"Wes... Uwis to, yang namanya jodoh kalau sudah waktunya ya nanti akan ada saja jalannya, lagipula siapa tahu Ridwan sebetulnya sudah ada pilihan, kalau dia selalu jaga jarak dengan perempuan, lha wong agama memang memerintahkan begitu, malah kamu salah-salahkan."
Ujar Ibu.
Mbak Wening tertawa kecil,
"Bukan menyalahkan Bu, hanya jadi pesimis."
Kata Mbak Wening di sela tawanya.
"Sudah sana kamu masak saja, Ibu ingin makan tempe goreng dipecak sambal Ning pakai lalab kemangi."
Ujar Ibu.
Mbak Wening akhirnya menurut beranjak dari duduknya.
"Tempe saja Bu?"
Tanya Mbak Wening.
"Iyo. Tapi anakmu yo ditanya maunya apa, kan selera anak-anak berbeda sama Ibu yang sudah tua."
Kata Ibu.
"Ajeng kan ada nasi berkat dari Mbak Faizah, sudah lengkap itu, ada ayam serundeng, ada ikan bandeng, ada perkedel, ada sambal goreng kentang, bihun pakai udang, tahu tempe, tauco lombok ijo."
Mbak Wening mengabsen lauk di nasi berkat pemberian Mbak Faizah.
"Oh iya, ada nasi berkat ya."
"Iyo Bu, tapi kalau Ibu mau tetap dibuatkan tempe goreng dipecak sambal ya tidak apa-apa."
Kata Mbak Wening.
Ibu tampak menggeleng,
"Yo wis tidak usah masak lagi nanti malah buang-buang makanan, dosa, makan saja yang sudah ada, jangan berlebihan."
Ujar Ibu.
Mbak Wening mengangguk.
"Bikin pisang goreng saja ya Bu, katanya pisang di pekarangan ada yang sudah mulai masak."
Mbak Wening berdiri.
"Nah iya itu cocok, Ajeng sama Ridwan juga pasti suka."
Kata Ibu.
Mbak Wening mengangguk, ia lalu ke dapur untuk ambil pisau, setelah memilih pisau yang cukup besar, Mbak Wening lantas keluar rumah lewat pintu samping di halaman belakang dekat sumur.
Ayam-ayam Mbak Wening tampak mondar-mandir sambil sesekali mematuk semut dan serangga lain.
Mbak Wening keluar dari pintu samping itu menuju pekarangan dan bersiap memilih pisang yang akan diolah.
Ada beberapa pohon pisang yang telah berbuah, dan di antaranya ada yang hampir matang.
Mbak Wening akan meminta Ridwan besok pagi memanen semuanya, lalu ia akan mengolah yang belum begitu masak untuk dibuat keripik, dan yang sudah matang akan dia olah jadi jajanan untuk setiap sore teman mereka minum teh.
__ADS_1
**-------------**