
Semilir angin dari area pesawahan terasa begitu sepoi-sepoi sampai merasuk ke dalam hati.
Ditambah hangat sinar matahari yang seolah mewakili senyuman alam semesta itu nyatanya membuat hati Iis seolah mengalami musim semi tiba-tiba.
Ya...
Meski ini bukan kali pertama ia dibonceng Ridwan, karena setelah sebelumnya dua kali ia terpaksa dibonceng Ridwan perkara motornya mogok, kini Iis akhirnya membonceng secara sengaja dari rumahnya sendiri, untuk berangkat dan pulang bersama Ridwan khusus hari ini.
Entah mimpi apa sebetulnya Iis semalam, yang pagi ini tiba-tiba saja mengalami semua hal yang membuatnya super duper bahagia.
Oh oh...
Nyatanya Iis sangat tidak bisa memungkiri bahwa pemuda sholeh ini telah mencuri hatinya sejak lama, betapapun ia mencoba mengelak perasaannya, tetap saja Iis tak bisa.
Iis menghela nafas, manakala motor Ridwan yang membawa mereka menyusuri jalan kampung untuk menuju jalan raya utama sempat berpapasan dengan beberapa orang yang mengenal mereka.
Sapa ramah mereka dan tatapan mereka atas keduanya jelas sekali memperlihatkan bahwa mereka seolah melihat Iis dan Ridwan adalah pasangan.
Ah...
Namun, di tengah rasa bahagia yang datang bertubi-tubi itu, terselip rasa tak enak di salah satu sisi hati Iis.
Rasa yang muncul tatkala Iis mengingat pesan-pesan singkat yang dikirimkan Anisa semalam dan pagi tadi.
Iis menatap nanar sawah yang membentang di sepanjang jalan yang mereka lalui, pikiran Iis kacau memikirkan kenapa Anisa akan menikah tapi sepertinya masih enggan melepaskan Ridwan sepenuhnya.
Jika...
Jika nanti tiba-tiba Iis dan Ridwan bersama, apakah Anisa masih akan tetap mempermasalahkannya?
Iis pun kembali menghela nafas, ingat lagi Iis dengan posisi Iis dulu saat pergi ke tempat Wisnu tanpa sengaja karena diajak Ridwan.
Bagaimana sikap sinis Anisa padanya karena merasa Iis adalah sahabat yang berani menikung Ridwan dari dirinya.
Padahal, Iis mengenal Ridwan bukanlah dari Anisa.
Iis mengenal Ridwan karena ia mengantar Ajeng Les dan kemudian jadi Guru agama yang baru di sekolah tempat Iis mengajar.
Tapi, Anisa pasti mana mau tahu, ia tetap akan berpikir bahwa Iis adalah seorang sahabat yang tega menikung sahabatnya sendiri.
Sibuk berpikir sendiri, Iis pun kemudian sampai tak merasa Ridwan telah membawa motornya keluar dari jalan kampung dan akan masuk ke jalan raya utama.
Saat motor Ridwan akan masuk ke jalan raya, di tikungan pertigaan, motor Ridwan berpapasan dengan sebuah mobil warna hitam, yang pengemudinya mengklakson seraya menghentikan laju mobilnya sejenak.
Ridwan menoleh, begitupun Iis, keduanya menatap mobil yang kini bersisian dengan motor mereka, dengan posisi motor Ridwan akan ke jalan raya, sedangkan sebaliknya, mobil itu akan masuk ke jalan kampung dari jalan raya utama.
__ADS_1
Kaca mobil pun tampak terbuka dan memperlihatkan sosok Wisnu duduk di sana menyapa Ridwan dengan senyumannya yang ramah dan hangat.
"Assalamualaikum, Tadz."
Suara Wisnu terdengar, tampak Ridwan balas tersenyum sambil menjawab salamnya,
"Waalaikumsalam..."
Wisnu akan bicara lagi, untungnya di belakang mobil Wisnu datang mobil lain dan mengklakson dengan keras, Wisnu pun karena tahu dia salah berhenti di jalan, akhirnya memilih pamit pada Ridwan.
Tampak Ridwan mengangguk, sambil dengan tetap tersenyum.
Wisnu melajukan mobilnya lagi, yang di belakangnya lain mengikuti lalu menyalip begitu sudah agak jauh.
Ridwan pun kembali menfokuskan diri membawa motornya ke arah jalan raya utama.
Iis melihat ketidak nyamanan dari gestur tubuh Ridwan karena bertemu Wisnu, Iis jadi merasa jika sebetulnya Ridwan juga belum sepenuhnya bisa melupakan Anisa.
Iis menghela nafas, ia tiba-tiba jadi takut jika nantinya ia hanya akan dijadikan pelarian Ridwan saja karena telah kecewa dengan Anisa.
Tapi...
Mungkinkah Ridwan melakukan hal itu?
Ah sungguh rasanya itu tidak mungkin bukan?
Orang sholeh juga tidak akan pernah main-main dengan perasaan sesama manusia dan juga mahluk lain, ia akan menjadi manusia yang hatinya sangat lembut, jadi tidak mungkin akan menyakiti hati manusia ataupun mahluk lainnya hanya demi kepentingannya sendiri.
**-------------**
"Jadi sudah bicara dengan Mbok Yem?"
Tanya Ibu pada Mbak Wening yang kini sedang menghabiskan sarapannya yang tertunda karena tadi ada tamu.
Ya tamu...
Ibunya Iis yang diajak mampir oleh Ridwan ke rumah, karena Ridwan akan mengantarnya pulang gara-gara tak tega melihat Ibunya Iis membawa barang belanjanya yang cukup banyak seorang diri.
"Sampun Bu, Mbok Yem senang pastinya Bu, karena memang untuk biaya sehari-hari kan beliau cukup kesulitan sebetulnya."
Ujar Mbak Wening.
"Apa anaknya itu sama sekali tidak mengurus Mbok Yem?"
Ibu seperti bergumam, ia terlihat tengah menata sirih.
__ADS_1
"Lah kalau anaknya mengurus Ibunya, harusnya rumah tidak dibangun begitu to Bu, masa Ibunya disuruh tinggal sendirian di bekas dapur, sedangkan dianya membangun rumah bagian depan untuk tinggal sendiri dengan keluarganya."
"Kasihan sekali Mbok Yem."
Kata Ibu yang jadi membayangkan kehidupan Mbok Yem yang pastinya sangat jauh berbeda dengan dirinya yang begitu beruntung memiliki anak macam Ridwan dan Mbak Wening.
Kedua anaknya ini jelas bukan hanya sangat baik padanya, berbakti padanya, perhatian padanya, tapi juga sangat mementingkan kebutuhan Ibunya.
"Kasihan Bu, Mbok Yem kan tinggalnya di bekas dapur to, atapnya wis banyak yang bocor, tempat tidurnya juga melaske, mana dekat dengan tempat mandi kan lembab, apalagi itu kan tempatnya juga jadi satu sama pawon lho Bu, bekas asap pembakaran kayu sama bekas minyak panas jadi satu dalam ruangan."
Mbak Wening menuturkan betapa menyedihkan kondisi Mbok Yem.
"Ya Allah, melaske."
Ibu sampai tak tega mendengarnya.
"Nggih kok Bu, wong Wening saja lihatnya rasane atine tidak tega, makanya ben ikut bantu goreng keripik saja di sini Bu, nanti setelah jualan, Mbok Yem ke sini, makan siang kan bisa sama kita, sore juga kita bawakan lauk sama nasi."
Ujar Mbak Wening,
Ibu mantuk-mantuk.
"Iyo Ning, bener, wis ngunu wae, jadi Mbok Yem juga ada tambahan uang untuk kebutuhannya. Kamu kasih bayarnya harian saja, mbok menawa hari itu juga Mbok Yem butuh kan jadinya tidak bingung."
Kata Ibu.
Mbak Wening mengangguk.
"Terus tukang urute piye? Wis ndang panggil?"
Tanya Ibu.
"Sudah Bu, tapi nanti bisanya sore, katanya wis banyak janji, nanti diantar Mas Amin."
Ujar Mbak Wening.
Ibu mengerutkan kening.
"Amin? Amin sopo?"
Tanya Ibu, membuat Mbak Wening tersadar dia malah menyebut nama.
"Eh nopo Bu? Ah itu Bu, tadi Ibunya Iis, gimana Bu, menurut Ibu? Baik, kan Bu? Cocok kan Bu jadi besan?"
Mbak Wening tentu saja selalu punya cara untuk mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Ibu pun hanya mengulum senyum, sudah tahu Mbak Wening tengah berusaha menghindari pembahasan sebuah nama yang tiba-tiba muncul di tengah mereka.
**------------**