
"Siapa Guru ngajinya?"
Tanya Pak Haji Syamsul pada Mbak Faizah manakala Mbak Faizah meminta ijin kepada Ayahnya untuk menggunakan ruangan kosong samping garasi rumah untuk nantinya menjadi tempat mengaji Suci anaknya dan juga beberapa teman Suci yang ingin ikut serta mengaji juga manakala Suci bercerita kepada mereka di grup chat.
Ya, anak-anak jaman sekarang tentu sudah tak asing lagi untuk berbagi informasi dengan temannya lewat aplikasi chat di hp mereka.
"Ridwan, adiknya Mbak Wening, Bah."
Jawab Mbak Faizah.
Anisa yang kebetulan tengah melewati ruangan di mana Abahnya dan kakaknya sedang berbincang tampak terkesiap mendengar nama Ridwan disebut.
Anisa pun reflek menoleh dan itu membuat pak Haji Syamsul melihat ke arah anaknya.
Menyadari sang Abah melihat ke arahnya, Anisa pun segera pura-pura mempercepat langkahnya menuju kamar, ia baru mengambil air teh hangat yang dicampur irisan lemon dibuatkan Mbok Rat.
Pak Haji Syamsul menghela nafas, lalu kembali memandang ke arah Mbak Faizah.
"Apa tidak ada Guru lain?"
Tanya Pak Haji Syamsul kemudian.
"Lho Abah kan tahu si Suci yang dari sejak Pak Ustadz Saleh berhenti dicarikan Guru baru susah sekali, lagi-lagi tidak mau, tapi saat tadi adik Mbak Wening ke sini, dia langsung mau Bah."
Kata Mbak Faizah.
"Apa alasannya?"
Tanya pak Haji Syamsul.
"Ya Suci bilangnya pasti tidak galak, seperti Ustadz Saleh yang kalau mengajari telaten dan tidak suka marah."
Kata mbak Faizah.
Pak Haji Syamsul menghela nafas lagi.
Mbok Rat tampak muncul dari arah belakang membawa secangkir teh untuk Pak Haji Syamsul dan juga satu piring goreng pisang dan tahu kesukaannya.
"Berapa bayarannya?"
Tanya pak Haji Syamsul.
"Tek buat seperti bayaran Mbak Wening, Bah. Bedanya kalau mbak Wening kan karena berangkat setiap hari kan dibayar setiap hari Sabtu, kalau Ustadz Ridwan nanti dibayar satu bulan sekali karena satu minggu hanya dua kali pertemuan, hari Senin dan hari Kamis."
Terang Mbak Faizah.
"Wening itu berapa to gajiannya? Masih satu juta dua ratus?"
Tanya Pak Haji Syamsul yang memang tidak pernah mengurusi gajian para pekerja di rumahnya karena biasanya itu urusan Isterinya semasa hidup dan begitu Isterinya meninggal, segala apa yang ada di rumah diambil alih Mbak Faizah, sedangkan di toko diserahkan pada Anisa.
__ADS_1
Pak Haji Syamsul sendiri terima beres saja, ia ke toko pun sekarang tidak setiap hari, kalau toh ia ke toko seperti hari ini, Pak Haji Syamsul biasanya hanya akan menyibukkan diri menghitung uang saja.
"Yo wis, terserah kamu saja."
Kata Pak Haji Syamsul kemudian.
Mbak Faizah tersenyum.
"Oh ya Zah, besok Abah mau ke Tanjung di Brebes tiga hari."
Kata Pak Haji Syamsul.
"Lho acara nopo Bah?"
Tanya Mbak Faizah.
"Itu Paman Warsito, buka cabang toko mas lagi, ya cuma ingin Abah datang saja katanya."
"Wah Paman Warsito sukses sekali ya Bah begitu dapat menantu pilot."
Kata Mbak Faizah.
Pak Haji Syamsul menganggukkan kepalanya.
"Ya anak-anak gadisnya podo manut, beda sama anaknya Abah, cari suami sesuka hatinya."
Kata Pak Haji Syamsul membuat Mbak Faizah langsung pura-pura cemberut.
Pak Haji Syamsul terkekeh.
"Lho ya bukan nyindir to, kenyataan. Dulu kamu di suruh menikah dengan anak teman Abah yang kerja di Pertamina tidak mau, sekarang Anisa juga sepertinya akan ikut jejakmu."
Kata pak Haji Syamsul yang kemudian mengambil secangkir teh yang baru saja disajikan Mbok Rat.
"Kalau aku kan waktu itu sudah tahu kalau anak teman Abah itu aslinya punya pacar Bah, takut lah menikah dengan laki-laki yang aslinya sudah punya pacar,"
Mbak Faizah beralasan.
"Halah, pacar opo, hubungan tidak halal begitu kok buat apa dipikirkan."
Pak Haji Syamsul menyeruput wedang teh nya.
"Yo bukan masalah halal dan haram hubungan Bah, itu kan masalah hati, kalau misalnya laki-laki sudah sayang sekali dengan pacarnya yo percuma menikah sama Faizah juga nanti ke Faizahnya jadi tidak ikhlas."
Ujar Mbak Faizah.
"Trus itu adikmu piye? Kasih tahu dia kalau misal nanti menikah bukan dengan Wisnu bisa-bisa hidupnya mblangsak."
Kata pak Haji Syamsul lagi.
__ADS_1
Mbak Faizah yang kali ini menghela nafas, ia ingat pagi tadi ribut masalah Wisnu dengan Anisa.
"Tidak tahulah Bah, dia itu tidak tahu lagi suka sama siapa sampai sensi sekali diajak bicara soal perjodohannya dengan Wisnu."
"Hmm dasar anak keras kepala, tapi biar saja, nanti Abah tetap akan paksa dia menikah dengan Wisnu, karena cuma Wisnu yang bisa menemani Anisa mengurus toko."
Ujar Pak Haji Syamsul.
**----------------**
[Kenapa orang tua selalu cenderung egois ya Is?]
Tulis Anisa di pesan singkat yang ia kirim lewat aplikasi chat pada Iis sahabatnya.
[Egois kenapa Nis?]
Balas Iis.
[Ya suka memaksa, baik itu pendapat dan juga keputusan]
[Sebetulnya tidak boleh sih Nis kita berburuk sangka pada orangtua, karena seperti yang kita tahu, jika kita itu kan tidak pernah bisa melihat isi hati manusia yang sebetulnya]
[Tapi kita kan bisa melihat dari apa yang mereka katakan dan paksakan pada kita Is]
Anisa tampak bersikeras.
[Iya memang kita bisa melihat sikap dan juga tutur kata manusia lain, tapi kalau niat kan kita tidak tahu Nisa. Macam kita hanya bisa melihat laut hanya dari permukaan saja kan, di mana kita hanya bisa melihat ombak saja, tapi kita tidak tahu di dalam sana ternyata banyak sekali terdapat banyak sekali yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia. Hati juga begitu, bahkan jauh lebih rumit]
[Lalu bagaimana menurutmu ketika orangtua kita merendahkan laki-laki yang kita sukai hanya karena status sosial saja?]
[Tak kenal maka tak sayang Nisa, bisa jadi bukan berniat merendahkan, tapi karena khawatir anaknya nanti akan hidup susah, maka orangtua ingin anaknya mendapatkan calon pendamping yang jelas secara materi. Ya, apapun itu Nis, berbaik sangkalah saja pada orangtua]
[Tapi bahagia itu tidak selalu harus dari materi kan Is?]
[Ya memang, tapi orangtua mah intinya tak mau anaknya susah Nisa, apalagi jika posisinya seperti kamu, yang jelas dari kecil tidak pernah hidup susah, takutnya kalau dapat suami yang tidak bisa memberikan nafkah seperti orangtuamu, kamu akan nuzus, itu kan juga berbahaya Nisa, kecuali... kamu memang sungguh-sungguh bisa niat karena Allah saat memilih suami yang tak sepadan dengan orangtuamu.]
Tulis Iis panjang lebar.
Anisa menghela nafas membaca tulisan Iis.
[Jika kamu siap ikhlas mencuci baju dengan tangan silahkan, jika kamu ikhlas memasak dan makan seadanya silahkan, jika kamu sungguh mampu mengabdikan diri di dalam rumah dengan penghasilan suami yang seadanya juga tidak apa-apa, silahkan. Intinya, memang lebih baik jika perempuan tidak matre, tapi kata matre di sini adalah yang melebihi kemampuan orangtua, itu menurutku Nisa. Misal kamu biasa menikmati hidup dari orangtua dengan posisi punya toko emas, lalu kamu ingin cari yang punya pabrik emas, itu namanya berlebihan. Tapi jika masih seimbang, menurutku itu untuk meminimalisir nantinya kamu akan banyak mengeluh ketika sudah berumahtangga. Meski catatannya, jika kamu sudah sungguh-sungguh bisa meniatkan karena Allah memilih laki-laki yang secara ekonomi kurang namun ia sholeh, maka silahkan]
[Jadi, misal aku sudah punya pilihan dan aku bisa meniatkan semuanya karena Allah sementara pilihan orangtua berbeda, aku tidak lantas dicap anak durhaka kan Is?]
[Sampaikan dengan baik Nisa, jika disampaikan dengan baik, diiringi dengan doa, dan jangan berburuk sangka pada orangtua, inshaAllah kan Allah yang Maha membolak balikkan hati]
Tulis Iis.
Anisa menatap rinai hujan di luar sana dari balik kaca jendela kamar di depan meja belajarnya yang kini ia gunakan untuk memeriksa pembukuan toko sambil menikmati wedang teh sambil berbalas chat dengan Iis sahabatnya.
__ADS_1
Hhh... Anisa menghela nafas, memikirkan Abahnya akan semarah apa jika Anisa tetap menentang perjodohannya dan malah memilih Ridwan saja.
**-----------------**