
Ridwan sedang bersiap untuk berangkat mengajar ke sekolah, saat terdengar di luar kamar Mbak Wening menyuruh agar Ajeng cepat berangkat.
"Iyaaaa Ibu... Sebentar, Ajeng lagi nyari kaos kaki yang warna putih."
Kata Ajeng dengan suara keras dari dalam kamar,
"Lhaaaa yang ada saja itu, sudah siang Ajeeeng."
Mbak Wening mengomel tak karuan.
"Tidak mau Ibuuu, itu kaos kaki warna coklat untuk seragam batik coklat,"
Sahut Ajeng.
"Ya pakai yang hitam, kan kamu ada to warna hitam."
"Warna hitam lho ya buat seragam pramuka."
"Wealaaaah, kakimu ndak jadi kutu airen kalo pakai kaos kaki ndak serasi sama seragam."
Mbak Wening benar-benar tidak habis pikir dengan anak-anak jaman now, kelakuan selalu ada-ada saja.
Beberapa waktu lalu masalah jilbab harus serasi, sekarang kaos kaki.
"Opo to Ning?"
Ibu yang baru selesai sholat Dhuha menyingkap tirai pintu kamarnya, lalu keluar menghampiri Mbak Wening yang terlihat meletakkan kedua tangannya di pinggang sambil melihat ke dalam kamar dengan kesal.
"Itu Bu, Ajeng, sudah begini siang lho masih ngotot pakai kaos kaki harus putih. Dari kemarin main terus, sekarang ribut nyari kaos kaki, berapa kali Ibu bilang kalau sekolah itu semuanya disiapkan dari sehari sebelumnya apa saja yang mau dibawa dan dipakaaaai..."
Mbak Wening gemas sampai ingin makan pintu.
"Uwiiis, uwis Niiing, tidak patut kamu mengomel begitu pagi-pagi, bagaimana jika ada yang dengar kan tidak enak."
Kata Ibu.
Bersamaan dengan itu, Ridwan juga keluar dari kamar, ia sudah tampak rapi dengan kemeja warna biru langit dan celana hitam.
Ridwan yang tubuhnya tinggi proporsional tampak begitu mantes kalau kata orang Jawa bilang.
"Naaaah ini ketemu kaos kakinya, nyelip di gamis buat ngaji, hihihi..."
__ADS_1
Ajeng cekikikan di dalam kamar, lalu buru-buru membawanya keluar sambil menggendong ransel Elsa Frozennya.
Ajeng melewati sang Ibu dan si Mbah untuk kemudian menuju rak sepatu, ia memakai kaos kaki dengan terburu lalu memilih sepatu berwarna hitam.
"Lihat itu Wan keponakanmu, ampuuun rasanya macam punya bisul tiga belas."
Kata Mbak Wening membuat Ridwan mesem tipis, sementara Ibunya terkekeh-kekeh.
Mbak Wening berjalan ke meja makan lalu meraih dua kantong kresek berisi keripik tempe pesanan beberapa Ibu tetangga dan juga warung depan rumah Pak Haji Syamsul yang akan Mbak Wening antar.
"Sekalian berangkat sama saya saja Mbak si Ajeng, biar Mbak Wening tidak gugup."
Kata Ridwan.
"Nanti kamu telat Wan."
Ujar Mbak Wening.
"Tidak Mbak, masih ada waktu cukup untuk ngejar ikut upacara bendera."
Kata Ridwan.
Mbak Wening melirik jam dinding yang bergerak meninggalkan angka setengah tujuh pagi.
Kata Ajeng.
Haiiish... Mbak Wening mendesis.
"Berangkat sama Paman yuk Ajeng, nanti biar Ibu antar pesanannya tidak gugup."
Kata Ridwan pada Ajeng, tampak kemudian Ajeng mengangguk cepat dan semangat,
"Siap Paman."
Jawab Ajeng, lalu gadis kecil itupun segera menyalami sang Ibu untuk kemudian berangkat bersama sang Paman.
"Jangan minta uang saku sama Paman lho, Ajeng sudah dikasih tadi."
Kata Mbak Wening mengingatkan, tampak Ajeng nyengir yang kini naik ke atas boncengan motor Ridwan.
"Baca doa dulu."
__ADS_1
Kata Ridwan.
"Doa apa Paman?"
Tanya Ajeng,
Ridwan jadi tertawa mendengar Ajeng bertanya bingung harus membaca doa apa.
Lalu Ridwan pun mengajarkan pada sang keponakan,
"Bismillahirrahmanirrahim... Allahumma Aghnini bil ilmi, wa jayyidni bil hilmi, wa akrimni bil taqwa, wa jamilni bil 'afiah."
"Ya Allah, dengan menyebut namaMu yang maha Pengasih lagi Maha penyayang. Ya Allah, berikanlah hamba kecerdasan intelektual, ya Allah, berikanlah hamba kecerdasan emosional, ya Allah, berikanlah hamba kecerdasan spiritual, ya Allah, berikanlah hamba kecerdasan ketangguhan."
"Aamiin..."
Ajeng mengaminkan, lalu mengusapkan kedua telapak tangannya pada wajahnya.
Ridwan tampak tersenyum,
"Kita sebagai umat muslim, harus membiasakan diri berdoa lebih dulu sebelum melakukan apapun, karena sejatinya tidak ada satupun hal yang bisa mutlak manusia lakukan tanpa diberikan kemampuan oleh Allah. Dan dengan kita berdoa, semoga Allah bukan hanya memberi kemampuan, tapi juga keberkahan dan Ajeng kelak bisa meraih cita-cita Ajeng dalam keridhoan Allah."
"Aamiin... Terimakasih Paman."
Ajeng tersenyum, memeluk Pamannya dari belakang.
"Sudah siap berangkat, ayuk, bismillahirrahmanirrahim..."
Ridwan menyalakan mesin motornya, dan melajukan motornya meninggalkan halaman.
Di teras rumah Mbak Wening tanpa terasa menitikkan air mata mendengarkan Ridwan mengajari Ajeng membaca doa.
Selama ini, Mbak Wening mungkin kurang terpikirkan untuk mengajari Ajeng membaca doa saat akan pergi dari sekolah.
Pikir Mbak Wening, toh Ajeng sejak dulu sudah ngaji di Ustadz Sholeh, pasti sedikit banyaknya Ajeng pasti sudah tahu harus bagaimana ketikan akan berangkat sekolah.
Tapi nyatanya, memang pentingnya menjadi orangtua harus tahu banyak ilmu adalah karena anak tetaplah harus diajari oleh orang tua juga. Kalau toh anak-anak telah diajarkan, paling tidak orangtua bisa terus mengingatkan manakala mereka lupa melakukannya.
Ya, maka benarlah kalimat ini,
"Al-ummu madrasatul ula, iza a'dadtaha a'dadta sya'ban thayyibal a'raq."
__ADS_1
Di mana yang artinya kurang lebih adalah, Ibu adalah sekolah yang utama, bila engkau mempersiapkannya, engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.
**------------**