
"Kapan Ibu harus menemui orangtua Iis?"
Tanya Ibu.
Sejenak Ridwan terdiam, mencoba berpikir apakah ia bisa ke tempat Iis dalam waktu dekat.
Ah tapi...
Ridwan tiba-tiba ingat saat tadi bertemu Wisnu dan Anisa, yang dalam waktu dekat mereka akan melaksanakan acara pernikahan juga.
Anisa...
Gadis itu sama sekali tak menyapa Ridwan, bahkan langsung masuk ke dalam rumah Iis siang tadi.
Apa kira-kira yang terjadi?
Ridwan baru terpikir kemungkinan Iis dan Anisa ada kesalahpahaman lagi.
Ah tidak, tidak!
Anisa akan segera menikah, untuk apa ia salah paham dengan Iis lagi? Tentu itu sudah tidak benar, bahkan untuk Ridwan pun, tak lagi ingin ada satupun rasa tersisa untuk Anisa karena mengingat ia akan segera menjadi isteri Wisnu.
Ya...
Jangankan nanti setelah menjadi isteri Wisnu, saat inipun, di mana ia telah dipinang Wisnu, tentu Ridwan tak berani sama sekali menyimpan rasa untuk Anisa lagi meskipun itu hanya sedikit saja.
Meski melupakannya sepenuhnya adalah mustahil, tapi sebagai manusia tentu saja Ridwan memiliki akal yang di mana dengan akal itulah, serta imanlah, Ridwan mampu mengendalikan apa yang bisa menjadi salah di dalam dirinya.
"Bagaimana Wan? Kapan Ibu harus datang untuk menemanimu meminang Iis?"
Tanya Ibu mengulang karena Ridwan tak juga kunjung menjawab.
Ridwan seolah tengah memikirkan sesuatu yang pelik.
"Apa, Ibunya Iis keberatan juga dengan hubunganmu dengan Iis?"
Tanya Ibu pula hati-hati.
Teringat Ibu akan peristiwa sebelumnya, ketika Ridwan mencintai Anisa, putri bungsu Pak Haji Syamsul yang akhirnya berakhir dengan caci maki dan hinaan.
Tampak Ridwan menggeleng pelan,
"Tidak Bu..."
Jawab Ridwan.
"Lantas, apa yang membuatmu seperti bingung?"
Tanya Ibu lagi,
Ridwan sekilas tersenyum pada sang Ibu.
"Ridwan sedang memikirkan waktu yang tepat Bu, kira-kira kapan kita sebaiknya menemui Ibunya Iis."
__ADS_1
Lirih Ridwan.
Ibu menepuk-nepuk bahu Ridwan dengan lembut,
"Ya, nanti kamu pikirkanlah baik-baik, kapan kita bisa soan, tentu jangan mendadak, semisal kamu sudah menemukan waktunya, katakan pada Ibu beberapa hari sebelum waktu yang kamu inginkan, supaya Ibu bisa menyiapkan semuanya."
Kata Ibu.
Ridwan mengangguk.
"Ibunya Iis, apa dia tidak ada masalah dengan hubungan kalian?"
Tanya Ibu lagi, khawatir jika Ridwan akan mengalami hal yang sama sebagaimana sebelumnya.
Meskipun Ibu pernah bertemu dengan Ibunya Iis dan jelas sekali ia bukanlah sosok orang yang sombong, arogan dan juga tampaknya pada Ridwan sangat menghargai, tapi...
Tentu kita tak bisa memungkiri, bahwa jika untuk urusan menerima seseorang menjadi menantu itu tidaklah semudah itu.
Ridwan terlihat tersenyum tipis, meski setengah tertunduk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah karena malu.
"Se... sebetulnya, Ridwan justeru karena memang Ibunya Iis yang meminta pada Ridwan, Bu."
Lirih Ridwan.
"Lho, maksudnya bagaimana?"
Ridwan sejenak menghela nafas, lalu...
"Beliau merasa sering sakit-sakitan, beliau khawatir jika tiba-tiba tidak ada dan Iis akhirnya harus tinggal sendirian."
Kata Ridwan.
Kata Ibu yang tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Nggih Bu, sebetulnya Ibunya Iis sudah menyampaikan hal itu sejak kemarin dulu, namun Ridwan masih bingung untuk bicara pada Ibu soal ini, sampai hari ini Iis sakit, tadi Ridwan ke rumahnya dan bertemu Ibu Iis yang kembali menyampaikan keinginan beliau lagi."
Ibu mengangguk,
"Iis, sejatinya Ridwan merasa kecil hati dengannya, dia gadis yang sangat cerdas Bu, dia adalah Guru yang paling disukai murid di sekolah, dari murid kelas satu hingga kelas enam. Pak Kepala sekolah saja sering sekali memuji Iis, karena sejak Iis masuk ke sekolah mereka, anak-anak didik yang semula sama sekali tidak suka sejarah jadi menyukai belajar sejarah. Dan dari suka sejarah, mereka jadi rajin belajar pelajaran lainnya karena Iis selalu berusaha anak-anak didiknya kagum dengan tokoh yang dalam pembahasan."
Kata Ridwan,
"Iya, Mbak mu juga cerita Ajeng tadinya tidak suka sejarah, sekarang jadi hafal sejak ikut les di tempat Iis."
Ridwan mengangguk,
"Banyak orang mengagumi sosoknya, Ridwan juga begitu, rasanya ia seharusnya bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dan hebat daripada Ridwan, ya kan Bu?"
Ridwan menatap Ibunya yang menggeleng,
"Jangan bicara begitu, Allah telah mengirimkannya untukmu, tentu sosok perempuan istimewa adalah rezeki juga, kamu tidak boleh bicara seharusnya ia bisa menjadi milik laki-laki yang lebih baik, daripada untuk laki-laki lain yang lebih baik, kamulah yang harus menjadi laki-laki yang semakin lebih baik daripada saat ini agar kamu bisa semakin layak mendapatkan perempuan seistimewa Iis."
Kata Ibu memberi nasehat.
__ADS_1
Ridwan yang mendengar nasehat Ibu jadi merasa malu, ia tersenyum.
"Semoga memang Allah memberikan jalan jodoh untuk kalian,"
Kata Ibu pula.
"Aamiin... Nggih Bu, mungkin memang ini sudah jadi jalan dari Allah, Ridwan diberikan jalan bertemu dan mengenal sosok Iis."
Ibu mengangguk menanggapi kata-kata Ridwan.
"Iis sakit apa Wan?"
Tanya Ibu.
"Hanya kelelahan Bu, tidak apa-apa, tadi Ridwan menjenguk dia habis minum obat jadi masih tidur."
Kata Ridwan.
Ibu mantuk-mantuk.
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di halaman depan.
"Siapa itu Wan, coba tengok."
Kata Ibu,
Ridwan berdiri dari duduknya, ia lantas berjalan menuju ruang depan dan membuka pintu utama rumah saat terdengar suara Mbak Wening tengah bicara dengan seseorang.
Ridwan tampak sedikit curiga saat begitu membuka pintu melihat Mbak Wening sedang bicara dengan laki-laki yang dulu sempat bertemu Ridwan saat mengantar sate untuk Ajeng.
Dari cara mereka bicara dan saling memandang, entah kenapa Ridwan merasa bahwa ada hubungan yang istimewa di antara keduanya
Hubungan yang pastinya bukan hubungan biasa antara penumpang dan tukang ojek langganannya.
"Ehm..."
Ridwan pura-pura berdehem, membuat dua orang yang saking asiknya bicara berdua sambil tertawa-tawa kini melihat ke arah Ridwan.
"Oh Wan, kamu..."
Mbak Wening meski sempat sedikit salah tingkah, namun dengan cepat berusaha kembali tenang.
Ridwan turun dari lantai teras, menghampiri Mbak Wening yang tampaknya baru saja belanja begitu akhirnya si tukang ojek menurunkan dus dan dus kresek besar.
"Mau bawakan apa Wan?"
Tanya Mbak Wening begitu Ridwan menghampiri.
Ridwan tentu saja mengangguk, yang lantas begitu telah berada di dekat Mbak Wening, Ridwan langsung mengambil
Tukang ojek yang tak lain adalah Mas Amin itupun juga kemudian turun dari motornya untuk membantu membawakan salah satu kresek yang tak terbawa oleh Ridwan.
"Tadi ada yang kasih tahu supermarket dekat bank sedang diskon minyak, jadi sekalian saja beli "
__ADS_1
Kata Mbak Wening.
**--------------**