Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
15. Kesibukan Pagi


__ADS_3

Ridwan masih membaca Alquran manakala adzan subuh terdengar berkumandang.


sudah menjadi kebiasaan sejak di pesantren, Ridwan akan bangun jam tiga dini hari, lantas ia akan sholat tahajud, berdzikir dan kemudian membaca Alquran sampai subuh.


Setelah subuh, ia segera menutup Alqurannya, dan kemudian bersiap pergi jamaah ke masjid.


Ridwan,


Di saat banyak pemuda memilih menghabiskan waktu malam mereka dengan main games bahkan menonton video tak pantas, Ridwan memang lebih memilih untuk tidak melakukannya.


Ridwan bukan merasa dirinya sok suci, atau lebih berhak atas syurga kelak setelah mati.


Tidak, bukan begitu.


Untuk Ridwan, menghabiskan waktu untuk hal yang tidak membawa manfaat untuk dirinya, takutnya kelak Ridwan akan menyesal sementara waktu tak akan bisa diputar ulang.


Jika Ridwan menonton video yang tidak pantas, Ridwan juga takut misal kedua matanya lantas kehilangan penglihatan, sementara mata itu belum banyak dipakai untuk menbaca ayat-ayat Allah, malah justeru melihat aurat orang lain.


Tidak, Ridwan berusaha menjaga apapun yang dititipkan Allah padanya. Dan ia juga ingin berusaha tetap memperbaiki diri dan terus memperbaiki diri.


Ridwan keluar dari kamar, dan nyaris bersamaan dengan mbak Wening yang juga baru keluar dari kamarnya yang memang bersebelahan dengan Ridwan.


"Mbak, aku mau ke masjid dulu ya."


Pamit Ridwan.


"Ooh, iyo Wan..."


Kata Mbak Wening yang matanya masih sepet.


"Nanti tidak usah masak sarapan Mbak, aku pulang Subuhan mau jalan-jalan sebentar, sekalian nanti tek cari nasi buat sarapan."


Ujar Ridwan.


Mendengarnya tentu saja Mbak Wening senang, karena pagi ini ia tak perlu capek masak,


Ridwan berjalan keluar rumah,


"Bismillahirrahmanirrahim..."


Ridwan melangkahkan kakinya menuju masjid.


Udara subuh begitu dingin namun begitu segar. Angin berhembus tipis-tipis sedikit lembab membawa embun dan aroma dedaunan serta aroma tanah yang basah karena sempat diguyur hujan semalam.


Ridwan berjalan dengan langkahnya yang tenang, menyusuri jalanan kampung ke arah masjid Uswatun Hasanah.


"Ridwan sudah berangkat Ning?"


Ibu muncul di pintu belakang, di saat mbak Wening terlihat sedang mencuci piring dan peralatan makan bekas makan semalam di sumur.


Tampak Mbak Wening duduk di kursi plastik kecil berwarna hijau, yang dulu adalah kursi Ajeng saat masih TK.

__ADS_1


Di sebelah Mbak Wening tampak satu ember bak terisi penuh air yang pastinya sudah dipenuhi Ridwan tadi malam karena tahu Mbak Wening akan mencuci piring.


Mbak Wening menggosok panci dengan serabut kelapa yang dicampur abu gosok dan juga sabun cuci piring.


Ibu meraih sapu lidi untuk menyapu sebentar daun mangga yang jatuh oleh angin dari arah pintu belakang sampai ke sumur di mana di sana juga ada dua ruangan yang tak lain adalah kamar mandi dan toilet.


Saat terdengar kemudian iqomah dari masjid dan juga Mushola-mushola di kejauhan, Ibu segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi sebentar dan bersiap sholat subuh.


**------------**


"Is, kamu tidak sholat subuh?"


Tanya Ibu saat akan ke kamar mandi untuk ambil wudhu malah melihat Iis sibuk di dapur,


"Iis sedang berhalangan Bu, semalam dapat tamu bulanan."


Kata Iis.


"Oh ya sudah."


Ibu mantuk-mantuk.


"Bahan masakan habis, Iis beli sarapan saja nggih Bu."


Ujar Iis.


"Ya terserah kamu saja Is, Ibu kan makan apa saja tidak masalah."


Iis mengangguk.


Alhamdulillah memang, Iis merasa beruntung karena Ibunya termasuk orang yang tak banyak maunya dan tidak juga rewel.


Apapun yang Iis suguhkan Ibu selalu memakannya tanpa banyak protes.


Sangat jarang rasanya Ibu meminta makanan lain jika Iis sudah menyiapkan lauk untuk makan.


"Baiklah, nanti setelah menyapu dan mengepel, Iis akan beli nasi uduk atau nasi megono saja di warung Bu Wirjo."


"Oh iya, warung dekat masjid Uswatun Hasanah itu enak Is, kalau ada tahu isi dan pisang goreng, Ibu juga mau."


Ibu melongok dari kamar mandi, Iis tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


Ibu masuk ke dalam kamar mandi lagi dan menutup pintu kamar mandinya, sementara Iis berjalan ke arah mesin cuci, ia merendam pakaian kotor sepuluh menit yang lalu di sana.


Tampak gadis itu mengucek sebentar beberapa pakaian miliknya dan milik Ibunya, setelah dirasa cukup, baru Iis kemudian menyetel mesin cuci itu.


Suara mesin cuci yang khas pun terdengar, Iis lantas meraih sapu yang digantung di dekat pintu dapur, lalu menyapu lantai rumahnya.


Biasanya jika sedang sholat, Iis akan sholat subuh lebih dulu dan baru bebenah rumah, tapi karena sedang tak sholat, maka Iis memilih bebenah rumah lebih awal.


Sekitar lima belas menit Iis menyapu di dalam rumah sambil mengelap meja, lemari dan kaca dengan telaten.

__ADS_1


Setelah itu ia keluar rumah dan menyapu halaman rumahnya sebentar, baru melanjutkan mengepel lantai.


Tirai jendela dan jendela-jendela rumah dibukanya lebar-lebar, begitu juga pintu rumah, agar udara pagi yang segar bisa menggantikan udara di dalam rumah.


Di sebelah timur, matahari sudah mulai terlihat mengintip dengan cahayanya yang keemasan.


Iis di dalam rumah kembali menilik mesin cucinya, membuang air sabun lalu kemudian mengisi dengan air yang baru.


Setelah dirasa cukup, Iis kembali menyetel mesin cucinya untuk membilas.


"Bu, Iis mau keluar dulu nggih..."


Kata Iis di depan kamar tidur Ibunya.


"Iya, hati-hati."


Sahut Ibu.


Iis masuk kamar untuk memakai jilbab dan mengambil switer, dompet serta kunci motor.


Di kampung di mana Iis tinggal, memang jarang orang berjualan nasi saat pagi hari dikarenakan masih banyak Ibu-Ibu yang rajin memasak di rumah.


Itu sebabnya, jika mereka yang tak sempat masak, atau berhalangan karena kehabisan bahan masakan, maka akan lari ke daerah yang lebih dekat dengan jalan raya.


Dulu, saat di pondok belum dibuat kantin-kantin sendiri, sebetulnya masyarakat sekitar pondok sudah mulai menggeliat membuka warung-warung makan dan jajanan.


Tapi, begitu pondok kemudian membuat kantin-kantin di dalam pondok sendiri, dan mewajibkan santrinya untuk beli makan dan jajan di kantin yang disediakan pondok saja, maka masyarakat mulai kembali menutup usahanya karena sepi.


Sebetulnya bisa dimengerti pondok membuat keputusan demikian, karena banyaknya kasus anak santri menjadikan beli makan sebagai alasan untuk membolos dari pondok.


Meminimalisir juga para santri nantinya lepas dari pengawasan dan ngerinya akan ada pertemuan mereka yang bukan muhrim lalu pacaran dan sebagainya.


Iis naik ke atas motornya, seorang tetangga yang baru keluar rumah membawa satu ember cucian yang akan dijemur menyapa Iis.


"Mau ke mana Is?"


Tanya si tetangga.


"Ke Waru kidul Bu, beli nasi."


Jawab Iis.


"Ooh iyo, hati-hati."


Kata si tetangga.


Iis mengangguk sambil tersenyum manis.


Ia lantas melajukan motornya keluar dari halaman, dan menjauh pergi.


**-------------**

__ADS_1


__ADS_2