Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
25. Sang Ustadz


__ADS_3

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh..."


Ridwan mengucap salam begitu sampai di depan pintu tempat mengajar ngaji di rumah Pak Haji Imron.


Tempat itu sepertinya dulu adalah sebuah warung yang kemudian tidak dipakai dan akhirnya digunakan untuk mengajar mengaji.


Tentu ini adalah sumbangsih Pak Haji Imron dan keluarga yang sangat besar untuk masyarakat sekitar, di mana bagian dari rumahnya ia hadiahkan sebagai tempat anak-anak belajar dan mengenal agama mereka lebih dekat, belajar membaca ayat-ayat Allah dengan lebih baik.


"Waalaikumsalam warrohmatullahi wabarokatuh..."


Terdengar suara Pak Haji Imron menjawab salam Ridwan yang kini berada di ambang pintu seraya menyunggingkan senyumannya.


Pak Haji Imron yang tengah menemani anak-anak membaca Alquran sendiri tampak berdiri menyambut kedatangan sang ustadz muda.


"Monggo ustadz Ridwan... Monggo."


Pak Haji Imron mempersilahkan dengan santun, Ridwan mengangguk dan kemudian masuk ke dalam ruangan belajar tersebut.


Ridwan dan Pak Haji Imron bersalaman, lalu Pak Haji Imron meminta anak-anak untuk menyalami ustadz baru mereka.


Ketiganya nampak senang, meski ada yang malu-malu.


Mereka bersalaman dengan ustadz,


"Duduk lagi nggih..."


Kata Ustadz Ridwan, anak-anak menurut.


"Anak-anak, saya mulai hari ini inshaAllah akan menggantikan Pak Ustadz Saleh menemani kalian mengaji, bismillahirrahmanirrahim, semoga kegiatan kita ini diridhoi Allah Subhanahu wata'ala."


Kata Ustadz Ridwan,


"Aamiin..."


Ketiga anak yang hadir itu mengaminkan kata-kata Ridwan yang sebagai doa.


Ridwan lalu meminta ijin kepada Pak Haji Imron untuk langsung memulai kegiatan belajar mereka, pak Haji Imron pun mempersilahkan dengan senang hati.


Ridwan memulai dari mengetes bacaan huruf Hijaiyah satu persatu dari mereka, memastikan bahwa mereka memang paham akan apa yang mereka baca tentu adalah yang penting untuk anak-anak.


Setelah itu Ridwan menanyakan sampai mana mereka mengaji terakhir kali bersama Ustadz Saleh,


"Saya sampai surah An-naml."


Kata seorang anak laki-laki yang duduk paling depan.


"Saya masih Al-Baqarah."


Kata satu murid perempuan.


"Saya masih Al-fatihah."


Kata seorang anak laki-laki lainnya."


Ridwan yang mendengar jawaban anak-anak tersenyum,


"Baiklah, Ustadz minta ijin lebih dulu untuk satu persatu dari kalian membaca Alfatihah lagi ya."


Kata Ustadz Ridwan.


"Lho, kenapa harus balik lagi baca alfatihah Ustadz?"


Tanya murid laki-laki yang paling depan,


"Karena Alfatihah adalah surah wajib yang dibaca manakala kita sholat."


Kata Ridwan.


"Kita harus memastikan bacaan Alfatihah kita memang benar dan bagus. Bukan Ustadz tidak percaya kalian sudah pintar, tapi karena sekarang ustadz lah yang bertanggung jawab atas kalian, maka ustadz ingin benar-benar yakin jika sudah mendengarnya secara langsung."

__ADS_1


Tambah Ridwan pula.


"Al-fatihah juga kata Ustadz Saleh bisa kita hadiahkan untuk orangtua atau saudara yang telah meninggal, apakah itu betul Ustadz?"


Tanya murid perempuan.


Ridwan mengangguk.


"Enggih, betul itu..."


"Hafsah tadz..."


Anak perempuan itu memperkenalkan diri.


"Nah Hafsah, betul kata Ustadz Saleh, bahwa surah Al-fatihah juga bisa kita hadiahkan untuk orang-orang yang telah wafat, untuk orangtua kita, untuk saudara kita, nenek kita, kakek kita."


Anak-anak murid mantuk-mantuk.


"Itu sebabnya, ayo kita sama-sama belajar membaca Al Fatihah dengan baik, supaya nanti saat sholat juga bacaannya baik, dan saat kita mengirimkannya sebagai hadiah juga baik."


Ujar Ustadz Ridwan.


**-------------**


Di rumah tampak Ajeng masih menangis sambil berbaring di lantai karena tidak dibangunkan ikut mengaji Pamannya.


Mbak Wening yang lelah membujuk akhirnya membiarkan saja Ajeng menangis sesenggukan di lantai yang dingin.


"Ajeng, ayo sudah jangan menangis lagi to, lantainya dingin itu lho nanti Ajeng sakit."


Si Mbah Putri mencoba kembali membujuk Ajeng, tapi tampaknya anak itu terlalu kecewa, ia sungguh-sungguh menantikan momen berangkat mengaji lagi, dan yang lebih istimewanya kali ini yang mengajar adalah Pamannya sendiri.


"Biar Bu, biar saja ngambek, kalau dibujuk terus nanti kolokan."


Kata Mbak Wening melongok dari pintu pembatas dapur dan ruang tengah.


Ibunya menghela nafas, mengusap kepala Ajeng sang cucu satu-satunya, baru kemudian berdiri.


Kata Ibu.


"Cuma nambahi goreng mendoan sama nyambel terasi Bu, ini ada pete sekalian saja dikukus kan Ridwan suka."


Jawab mbak Wening.


"Oh yo wis."


Ibu lantas berjalan ke arah ranjang besi depan TV, mencari wadah sirih yang terbuat dari anyaman bambu.


Bersamaan dengan itu, terdengar di depan rumah Ridwan mengucap salam beriringan dengan terdengarnya derit pintu yang terbuka.


"Assalamualaikum..."


Ridwan masuk ke dalam rumah, lalu membuka payungnya lagi yang basah dan diletakkan di dekat sepeda yang terparkir di ruangan depan.


"Waalaikumsalam..."


Jawab Ibu.


Ridwan masuk ke dalam ruang tengah, ia akan menyalami Ibunya, namun betapa kagetnya Ridwan karena melihat Ajeng berbaring di lantai sambil menangis.


"Ngambek itu bangun kamu sudah berangkat."


Kata Ibu.


Ridwan tersenyum, lalu berjongkok untuk mengusap kepala keponakannya.


"Waduh keponakan Paman kok ngambek, ayo bangun."


Ridwan menarik lembut tubuh Ajeng yang mulai dingin karena berada di atas lantai.

__ADS_1


"Sudah sholat asar belum?"


tanya Ridwan.


Ajeng yang sesenggukan menggeleng.


Ridwan mengusap air mata keponakannya,


"Maafkan Paman, tadi Paman melarang Ibu membangunkan Ajeng yang ketiduran saat belajar,"


Kata Ridwan halus.


"Bukan Paman tidak mau ajak Ajeng, tapi Paman tidak mau Ajeng bangun kaget nanti kepalanya pusing, apalagi di luar hujannya juga deras sekali."


Tambah Ridwan lagi.


"Tapi... Tapi Ajeng jadi tidak mengaji."


Kata Ajeng sedih sekali.


Ridwan tersenyum.


"Kan Ajeng bisa mengaji dengan Paman hari ini, Paman akan sholat di rumah saja hari ini, supaya Ajeng bisa langsung ngaji dengan Paman."


Mendengarnya Ajeng menatap Pamannya,


"Paman tidak ke masjid? Tidak dimarahi Allah?"


Tanya Ajeng.


Ridwan tertawa kecil, ia mengelus kepala Ajeng.


"Allah kan Maha Pengasih dan Penyayang, Allah tidak akan marah jika Paman hari ini tidak ke masjid karena ada alasannya."


Ajeng tampak tersenyum,


"Sekarang Ajeng mandi yah, ini sudah hampir jam lima sore, Ajeng sholat asar, habis itu kita belajar boleh sambil menunggu maghrib."


Kata Ridwan.


Ajeng mengangguk.


Ajeng berdiri dari duduknya di atas lantai, bertepatan dengan Mbak Wening yang masuk ke dalam ruang tengah untuk mengambil tumis daun pepaya yang siang tadi dibuatkan Ridwan.


"Dari tadi itu Wan guling-guling seperti Risol, nangis kejer tidak bisa dibujuk."


Kata Mbak Wening pada Ridwan yang kini berjalan ke arah Ibunya untuk salaman.


Ajeng sendiri masuk kamar untuk ambil handuk karena akan menuruti Pamannya pergi mandi sore.


"Tidak apa Mbak, namanya juga anak-anak, kalau nangis jangan dimarahi, nanti jadi kecil hati."


Kata Ridwan.


"Tapi nanti jadi manja, sedikit-sedikit nangis."


Kata Mbak Wening.


"Menangis kan ekspresi normal anak saat sedih, kecewa, marah. Ditanya kenapa dan kasih pengertian pelan-pelan, nanti anak juga paham kok."


"Ah Mbak mah tidak sabar, kesel kalau lihat anak cengeng."


Ridwan menggelengkan kepalanya.


Ibu mengusap lengan Ridwan.


"Sudah biasa, Mbak mu bisa sabar, nanti ayam opor hidup lagi."


Ujar Ibu terkekeh.

__ADS_1


**-------------**


__ADS_2