
Ridwan duduk termangu di teras depan, duduk di atas tembok keliling teras yang hanya setinggi pinggang orang dewasa.
Ia tampak duduk menatap jalanan dan juga hamparan sawah yang ada di depan rumah.
Tampak tatapannya nanar, jelas sekali banyak hal yang tengah berkecamuk dalam dirinya.
Mbak Wening mengintip dari balik kaca jendela kaca rumahnya, melihat Ridwan yang masih anteng di sana meski hari telah sore membuatnya yakin jika Ridwan tidak baik-baik saja.
"Ajeng, berangkat les sama Ibu naik sepeda ya hari ini."
Kata Mbak Wening akhirnya masuk lagi ke ruangan tengah.
Ajeng yang sudah siap berangkat les mengangguk.
"Nggih Bu."
Mbak Wening lantas masuk kamar untuk pakai jilbab dan ambil switer.
Ajeng ke kamar Mbah nya untuk pamit berangkat les.
Mbah tampak sedang mengaji,
"Berangkat les ya Mbah."
Kata Ajeng,
"Iya, hati-hati. Berangkat sama siapa?"
Tanya mbah,
"Sama Ibu,"
Sahut Ajeng.
Mbah mantuk-mantuk,
Ajeng lalu berjalan keluar kamar Mbah nya lagi, Ibunya terlihat sudah bersiap mengeluarkan sepeda dari dalam rumah.
Ajeng mengikuti Ibunya,
Ridwan yang kemudian baru sadar ketika mendengar suara gedubrak sepeda menabrak pintu saat dikeluarkan tampak menoleh dan segera berdiri,
"Astaghfirullah, Mbak mau ke mana?"
Tanya Ridwan.
"Wis tidak apa-apa Wan, ini Mbak mau sekalian tanya keripik di warung katanya mau pesan lagi."
Mbak Wening pura-pura,
"Tapi tidak apa Mbak biar Ridwan antar saja naik motor."
Kata Ridwan.
Mbak Wening menggeleng,
__ADS_1
"Sudah, tidak perlu, gampang besok lagi kan juga Ajeng les, kamu siap-siap saja mengajar di tempat Pak Haji Imron, kan sebentar lagi juga mulai sekolah ngajinya."
Kata Mbak Wening,
Ridwan menatap Ajeng yang nyengir ke arahnya dan kemudian mendekat untuk salaman,
"Berangkat dulu Paman."
Pamit Ajeng.
"Ah yah Ajeng, hati-hati ya."
Ujar Ridwan akhirnya,
Sejatinya ia memang tak sanggup pergi ke arah yang sama dengan arah rumah Anisa, karena apa yang diceritakan tentang kejadian pagi tadi membuat Ridwan cukup terluka pada akhirnya.
Mbak Wening naik ke atas sepedanya dan Ajeng menyusul naik ke atas boncengan.
Ridwan menatap kakak satu-satunya yang kini mulai mengayuh sepedanya menjauhi halaman memboncengkan anaknya untuk mengantar les.
Kembali dalam bayangan Ridwan bagaimana pagi tadi Mbak Wening mendapat perlakuan tak enak dari Pak Haji Syamsul dan Mbak Faizah karena dirinya, perih rasa hati Ridwan hanya membayangkannya saja.
Mbak Wening, ia yang sebetulnya sangat membutuhkan pekerjaan itu untuk penghasilannya sebagai orangtua tunggal yang harus menghidupi anaknya akhirnya malah lebih rela melepaskan jalan rezekinya.
Ridwan begitu sakit memikirkan nasib Mbak Wening dan Ajeng ke depan jika Mbak Wening tak juga mendapatkan pekerjaan baru sementara Ridwan belum bisa banyak membantu.
"Wan... Kamu tidak berangkat ngajar?"
Tiba-tiba, terdengar suara Ibu mengagetkan Ridwan.
"Ah iya Bu, ini Ridwan mau siap-siap."
Kata Ridwan gugup.
Ibu menghela nafas, sesunguhnya Ibu juga sangat sedih, tapi Ibu berusaha kuat dan tak juga menunjukan emosi yang meledak-ledak, karena itu akan membuat anak-anaknya juga jadi akan sama meledak-ledak juga.
Sementara, hal itu tak akan pernah bisa menyelesaikan apapun.
Buat Ibu saat ini adalah ia semakin mendoakan kesuksesan Ridwan, kebahagiaan Wening, dan pokoknya semua yang terbaik untuk kedua anaknya.
Ridwan berjalan masuk ke dalam rumah dan masuk kamar, ia salin baju koko bersih untuk ia berangkat mengajar ke rumah Pak Haji Imron.
**--------------**
Anisa menatap rumah milik keluarga Wisnu yang ada di desa Waru.
Rumah yang cukup besar dengan halaman luas yang asri penuh dengan pohon dan bunga.
Wisnu mengajak Anisa mengikutinya masuk ke dalam rumahnya itu.
"Di sini ada Pak Jalal dan isterinya, kamu bisa minta tolong pada mereka apa yang dibutuhkan, aku sudah bilang pada mereka untuk tidak bicara pada siapapun bahwa kamu ada di sini. Jadi intinya, kamu rehatlah Nisa, tak usah berpikir pergi sedangkan tak ada tujuan pasti. Kau tahu betapa banyak orang jahat di luar sana."
Kata Wisnu.
Anisa mengangguk,
__ADS_1
Pak Jalal dan isterinya menyambut kedatangan Anisa dan Wisnu.
Anisa diantar Isteri Pak Jalal ke kamar tamu yang sudah dibersihkan.
Wisnu sendiri bicara dengan Pak Jalal tentang hal-hal serius seperti keamanan rumah dan lain sebagainya.
Setelah semua dirasa telah diurus dengan baik, Wisnu pun pamit pada pak Jalal dan isterinya, pun juga pada Anisa.
"Kamu tahu nomorku kan Nis?"
Tanya Wisnu.
Anisa menggeleng.
"Kamu bawa hp?"
Tanya Wisnu lagi,
Anisa lantas memasukkan tangannya ke kantung rok panjangnya.
"Ya aku bawa, tapi sepertinya mati."
Kata Anisa.
Wisnu kemudian meminta pak Jalal untuk mengambilkan tas milik Wisnu di mobil.
Pak Jalal pun cepat menurut,
"Mbok Dar sudah memasak makanan untukmu, nanti kamu harus makan, setelah itu istirahat lah, aku akan kirimkan beberapa baju untuk kamu salin."
Kata Wisnu.
Anisa diam saja, ia tak tahu harus menyahut apa.
Pak jalal tak lama datang lagi membawa tas milik Wisnu, tampak Wisnu kemudian mengambil hp dari dalam tas.
"Pakailah hp punya ku yang ini, aku jarang pakai karena memang hanya untuk grup-grup anak sekolah saja."
Kata Wisnu sambil menyerahkan hp miliknya pada Anisa.
"Kamu bisa hubungi aku kapan saja. Biar itu hp mu sementara tak usah diaktifkan."
Kata Wisnu lagi.
Anisa kali ini mengangguk.
"Aku tinggal sekarang Nis, kamu baik-baik saja kan?"
Wisnu begitu perhatian.
Ia sungguh-sungguh khawatir dengan kondisi Anisa yang seperti sedang dalam masalah berat dengan keluarga atau apa.
Atau bisa jadi apa semua karena masalah makan malam di rumah Wisnu kemarin malam?
Wisnu tentu hanya bisa bertanya-tanya dan menerka-nerka, karena Anisa sama sekali belum cerita apa-apa.
__ADS_1
**---------------**