Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
71. Tak Kenal Maka Tak Sayang


__ADS_3

"Is, kamu punya nomor hp nya Mbak Wening tidak?"


Tanya Ibu pada Iis yang sedang membereskan kamarnya.


"Ada tapi nomor yang lama Bu, nomor yang baru belum minta lagi Bu."


Ujar Iis.


"Duh, apa minta ke Mbok Rat ya? Sejak Nisa pergi dari rumah, Mbok Rat kayaknya juga tidak di rumah Pak Haji Syamsul lagi, terkahir itu yang si Mbok ke sini itu kan,"


Kata Ibu.


Iis yang sudah selesai merapihkan rak buku, akhirnya beranjak ke pintu di mana Ibu berdiri,


"Memangnya Ibu ada perlu apa to sama Mbak Wening?"


Tanya Iis.


"Itu, Ibu mau pesen keripik pisang lima kilo."


Kata Ibu.


"Lho, buat apa to Bu, banyak sekali."


"Lah kamu ini kok yo malah lupa, itu lho minggu depan kan Bu Le Sri mau mantu to, dia ditanya mau disumbang opo lho mintanya jajan keringan wae, beras sama telur katanya wis akeh."


"Nopo mau cuma keripik pisang Bu?"


"Yo ndak to, nanti saya peyek, itu peyeknya wis pesen sama Mbak Dasih lima kilo juga."


"Mau buat sekalian sesarahan Yono nggih Bu?"


Tanya Iis,


Ibu tampak mengangguk.


"Iyo Is, ben sekalian buat tambahan sesarahan."


Kata Ibu.


Iis tampak melihat ke arah jam dinding di atas TV yang memang ruangannya lurus dengan pintu kamar Iis.


"Masih jam sepuluh, nanti Iis ke rumah Mbak Wening wis Bu, sekalian beli gulai nggih Bu."


"Oh iyo Is, Ibu juga lagi pengin makan gulai."


Kata Ibu.


Iis mengangguk,


"Tek cuci muka dulu Bu, sama bersihin rak sabun di kamar mandi sebentar, nanti langsung ke rumah Mbak Wening."


Kata Iis yang kemudian menuju ke belakang, untuk ke kamar mandi.


Ibu sendiri menuju kamarnya, untuk mengambil uang yang akan ia berikan pada Iis guna membayar pesanan keripik pisang.


Iis di kamar mandi tampak membereskan rak sabun dengan telaten, setelah rak sabun bersih dan peralatan mandi terlihat rapi, barulah Iis cuci muka lalu kembali ke kamar untuk ganti baju.


Iis yang merupakan gadis yang tidak suka bersolek, maka ia pun cukup dengan penampilan biasa saja dan juga wajah polos tanpa make up.


Ia tampak hanya mengenakan jilbab, lalu mengganti daster rumahnya dengan gamis polos warna abu-abu.


Iis keluar dari kamar dengan menenteng dompet tangan berwarna hitam yang biasa ia bawa ke mana-mana.

__ADS_1


Dompet hitam yang selain untuk tempat uang, juga sekaligus untuk tempat hp.


"Is, ini uangnya is."


Ibu keluar dari kamarnya sambil membawa uang seratus ribuan tiga lembar.


"Nopo Bu?"


Tanya Iis.


"Ini uang untuk bayar keripik."


Kata Ibu.


Iis tampak menggeleng.


"Mboten usah Bu, pakai uang Iis saja."


"Lho jangan to Is, wis biar sajapakai uang Ibu, kan kebetulan juga akhir bulan kemarin kan Ibu dapat arisan, tidak apa-apa ini dipakai."


Kata Ibu memaksa memberikan uang pada Iis karena memang yang butuh pesan adalah Ibu.


Karena Ibu memaksa agar Iis mau menerima uang darinya, maka Iis pun demi menghargai Ibu akhirnya uang Ibu diterimanya.


"Kalau ada yang sudah jadi beli satu bungkus yang isi setengah kilo boleh Is, buat isi toples di rumah."


Ujar Ibu.


"Nggih Bu, nanti Iis tanyakan pada Mbak Wening, siapa tahu ada yang sudah dibungkus."


**------------**


Anisa menatap dua gambar yang disodorkan Wisnu padanya.


Dua gambar rumah di dua kota yang berbeda tentu saja.


Kata Wisnu.


Anisa terdiam, lalu...


"Yang ini tempatnya di Kuningan, rumahnya sedikit masuk perkampungan, ada kolam ikan yang kamu bisa mulai buka usaha dari situ. Memelihara ikan untuk diantar ke rumah makan juga boleh, atau untuk kamu mau buka usaha kecil-kecilan sendiri juga tidak apa-apa."


Kata Wisnu.


Anisa lagi-lagi terdiam, ia tak bisa memutuskan tempat mana yang dari kedua pilihan itu yang akan ia jadikan tujuan pelarian berikutnya.


"Sampai nanti kamu siap pulang ke rumah Abah mu lagi, aku akan mendukungmu asal jangan pergi ke tempat yang aku tidak tahu Nis, karena itu terlalu berbahaya, aku pasti tidak akan bisa memaafkan diriku jika kamu sampai kenapa-kenapa nantinya."


Kata Wisnu.


Anisa tampak memaksakan senyuman tipis mendengar kalimat yang dikatakan Wisnu.


Sungguh Anisa bahkan tidak pernah menyangka jika Wisnu bisa melakukan semua untuknya setelah sebelumnya Anisa jelas menolak perasaan Wisnu.


"Jangan khawatir soal Abah dan Mbak Faizah, mereka sudah tidak akan melibatkan polisi lagi untuk mencarimu, aku sudah bilang kamu bersamaku, hanya saja aku tidak bisa memberitahu tempatnya."


Kata Wisnu.


Anisa menatap Wisnu,


"Sungguh kamu mengatakan itu pada Abah dan Mbak Faizah?"


Tanya Anisa.

__ADS_1


Tampak Wisnu mengangguk.


"Aku juga sudah bilang pada kedua orangtuaku,"


"Mereka tahu aku di sini?"


Tanya Anisa.


Wisnu menggeleng,


"Abah kamu dan Mbak Faizah tidak, tapi Ibuku iya tahu."


"Dia tidak marah? Setelah kejadian di rumahmu malam itu?"


Tanya Anisa.


Wisnu menggeleng,


"Kenapa harus marah? Kamu berusaha jujur dan kamu ingin saat pernikahan dilaksanakan adalah jangan untuk bisnis tentu itu malah membuat Ibuku merasa senang mendengarnya."


Ujar Wisnu.


"Dengan sikapmu, kamu memperlihatkan bahwa pernikahan adalah peristiwa yang seharusnya disakralkan oleh kedua orang yang menikah dan juga oleh keluarga masing-masing,"


Tambah Wisnu pula.


Anisa mengangguk pelan,


"Nanti setelah semua tenang, Ibu ingin bicara denganmu,"


Kata Wisnu.


"Aku?"


Anisa menatap Wisnu yang menganggukkan kepalanya,


"Putuskanlah besok Nisa, setelah diputuskan, katakan padaku, nanti aku yang akan antar sendiri kamu ke sana."


Anisa sekali lagi menatap Wisnu,


"Nu,"


Panggil Anisa,


"Ya Nis,"


Sahut Wisnu,


"Kenapa kamu melakukan semua ini untukku? Kenapa kamu begitu baik dan peduli padaku Nu?"


Tanya Anisa dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.


Tampak Wisnu tersenyum,


"Apa kamu keberatan Nisa? Jika memang keberatan, aku bisa membatalkan semuanya.".


Kata Wisnu.


Anisa menghela nafas,


"Aku takut hutang budi terlalu banyak padamu Nu, sedangkan mungkin saja aku tak akan bisa menebusnya."


Lirih Anisa.

__ADS_1


Wisnu menghela nafas, ia tampak menggeleng, lalu...


**-------------**


__ADS_2