Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
105. Menjadi Dekat


__ADS_3

Ruang makan di rumah keluarga Ridwan yang sederhana hari ini terlihat begitu istimewa dengan kehadiran Iis di tengah-tengah mereka.


Ajeng yang duduk di antara Iis dan Ridwan tampak terus berceloteh meski akhirnya harus rela kena marah Ibunya perkara mengganggu orang makan.


Bukan hanya bercerita tentang teman-temannya di sekolah, tapi juga bertanya ini itu pada Iis yang selalu dianggapnya tahu semuanya.


Pertanyaan Ajeng yang dilontarkan pada Iis juga tidak hanya terkait pelajaran, tapi hal-hal yang sedang ia ia lihat.


Misal,


"Bu Guru, siapa sih penemu sayur lodeh?"


"Kenapa cabe diuleg dinamakan sambal?"


"Kenapa tempe sama tahu rasanya beda?"


"Kenapa orang dewasa suka makan petai?"


Walhasil, Iis pun makan siang dengan kepala berat sebelah karena harus sambil berpikir keras agar bisa menjawab pertanyaan Ajeng.


Tentu, meskipun Iis tak bisa menjawab secara pasti pertanyaan Ajeng, setidaknya Iis berusaha agar Ajeng tak lantas jadi anak yang berhenti aktif dan kritis.


"Sudah Bu Guru, wong Ajeng ini memang suka kurang kerjaan, apa segala ditanyakan, dulu kan pernah siapa itu Bu yang teman Ibu."


Mbak Wening memandang Ibu yang duduk di sebelahnya,


"Sopo to?"


Ibu malah bingung,


"Itu lho, yang jualan ubi rebus sama kacang rebus keliling, dulu itu yang suka mampir ke sini kalau habis jualan."


Kata Mbak Wening.


"Ooh Bu Kulsum."


Ibu mengingat salah satu temannya yang sekarang sudah tak pernah datang lagi karena sudah hidup enak sejak anaknya jadi Pegawai.


"Nah iya itu, Bu Kulsum, yang Ajeng tanya kenapa giginya maju."


Kata Mbak Wening, dan malau jadi kena tabok Ibu.


"Lho Bu, kenapa malah Wening yang ditabok to."


Ajeng yang melihat Ibunya ditabok jadi cekikikan senang.


Sementara Ridwan hanya tersenyum, Iis malah karena menahan tawa jadi hampir tersedak.


Buru-buru Iis pun cepat minum air putih,


"Nah kan itu Bu Guru Iis jadi tersedak, kamu ini lho,"


Omel Ibu.

__ADS_1


"Ya Allah, wong Wening lagi cerita itu dulu Ajeng sejak kecil suka tanya-tanya asal tanya pada orang, segala gigi ditanyakan, sudah begitu sama orangnya lho ya Allah, aku masih ingat Bu Kulsum sampai wajahnya merah karena malu lho Bu, kan pas itu mampir ke sini juga banyak yang beli."


Mbak Wening mengenang, yang membuat Ajeng malah makin terpingkal, dan Iis benar-benar tersedak lagi akhirnya.


"Minum lagi Bu, ya Allah sudah Mbak, kasihan Bu Iis."


Ujar Ridwan pada Mbak Wening.


"Hehehe... Maaf Bu Guru, maaf ini acara mengenang Ajeng kecil itu memang agak antik."


Kata Mbak Wening.


Iis menganggukkan kepalanya sambil tersenyum,


Lalu minum air putih lagi.


Sungguh ia bahkan tak menyangka bahwa makan siang di rumah Ridwan bersama keluarganya akan semenyenangkan ini.


Sampai kemudian acara makan siang mereka selesai, dan Iis duduk lagi di ruang tamu sebentar ditemani Ridwan.


Ajeng sendiri seperti biasa jika habis makan siang diharuskan oleh Mbak Wening agar membaca ulang beberapa catatan yang dari sekolah.


Setelah itu Ajeng akan tidur siang dan bangun saat asar, mandi, sholat lalu les, kalau tidak ada jadwal les, maka Ajeng akan mengaji di tempat Pak Haji Imron di mana Ridwan sang Paman yang sekarang mengajar.


Ibu yang usianya sudah tak lagi muda juga memilih tidur siang di ranjang ruang tengah yang dekat TV, sementara Mbak Wening yang menjadikan hidupnya punya prinsip time is money itupun mengisi jam siangnya dengan mulai mengirisi tempe untuk diolah jadi keripik lagi.


Tentu saja, mumpung banyak pesanan, Mbak Wening harus semangat membara.


Kata Ridwan.


Iis mengangguk dan tersenyum, pipinya tampak bersemu merah, meskipun tak terlalu ketara karena kulit Iis yang memang tak seputih Anisa.


"Oh ya Bu,"


Ridwan lantas mencoba mengajak Iis berbincang agar tak terlalu kaku.


"Nggih Pak."


Iis mengangguk,


"Terus terang sejak saya mengajar, saya sebetulnya ingin sekali menanyakan ini Bu,"


Ujar Ridwan,


Iis di tempatnya langsung deg-degan.


Bertanya?


Bertanya soal apa?


Apakah bertanya soal status Iis yang sudah punya calon atau belum?


Apakah bertanya soal kriteria laki-laki yang disukai Iis?

__ADS_1


Atau apakah akan bertanya soal apa?


Iis benar-benar begitu deg-degan.


"Begini Bu..."


Tampak kemudian Ridwan wajah nya yang tampan terlihat serius.


Iis berusaha setenang mungkin di tempatnya,


"Saya penasaran, bagaimana caranya Bu Iis bisa membuat anak-anak jadi begitu suka dengan sejarah. Bukan hanya suka dengan pelajarannya, tapi juga mereka suka dengan para tokoh-tokoh dalam sejarah yang mereka pelajari."


Iis yang mendengar Ridwan justeru malah membahas kegiatan belajar mengajar akhirnya jadi ingin tertawa sendiri.


Bukan apa-apa, Iis seketika merasa begitu bodoh karena terlalu banyak berharap jika Ridwan akan menanyakan masalah pribadi.


"Anak-anak menyebut nama-nama setiap tokoh dengan baik, mereka terlihat bangga sekali ketika menyebutkan nama tokoh-tokoh yang mereka sukai, ini menunjukkan anda sebagai Guru sangat berhasil membuat mereka jatuh cinta sepenuhnya dengan tokoh bangsa kita Bu."


Ujar Ridwan memuji.


"Alhamdulillah kalau dirasa demikian Pak Ridwan,"


Iis akhirnya membuka suara.


"Ini hanya pengalaman saya sendiri Pak,"


Kata Iis.


"Dulu saat Almarhum Kakek saya masih hidup, saat liburan saya sering datang ke sana, saya sering dengar beliau bercerita bagaimana dulu jaman awal Indonesia merdeka."


Ridwan tampak antusias mendengarkan penuturan Iis, tatapannya ke arah Iis begitu serius,


Ini jelas berbeda dengan saat Ridwan menatap Anisa yang memunculkan debar di dadanya, dan juga membuat angannya kadang jadi ke mana-mana.


Menatap Iis adalah lebih kepada menyimak apa yang disampaikan lawan bicaranya, apalagi bagi Ridwan, banyak sekali hal yang bisa ia pelajari dari sosok Iis, terutama bagaimana cara Ibu Guru yang satu ini bisa dan mampu membuat anak-anak didiknya yang notabene hidup di jaman sekarang tak melupakan sejarah meskipun hiburan serta game luar berseliweran dengan luar biasa.


"Sejak saya sering mendengarkan cerita almarhum kakek, juga orang-orang jaman dulu yang saat bercerita tentang masa perang, masa kemerdekaan, lalu bercerita tentang para tokoh besar jaman dulu, saya akhirnya lama-lama jadi suka dengan sejarah."


"Di sekolah saya sering mengamati Guru yang mengajar sejarah, mereka seringkali menjelaskan isi buku dengan cara seperti membacakannya dan itu membuat kami mengantuk, maka akhirnya saya berpikir untuk suatu hari jika saya punya kesempatan menjadi Guru, saya ingin menjadi guru sejarah dan akan membuat pelajaran sejarah terasa seperti mereka mendengarkan orang jaman dulu sedang bercerita, saya juga mengajak mereka berinteraksi untuk menilai siapa yang sungguh-sungguh mempelajari sejarah itu."


"Dan tampaknya itu sangat berhasil Bu."


Kata Ridwan.


Iis tersenyum,


"Ya, saya benar-benar ingin generasi yang akan datang, cintanya pada bangsa ini tidak hanya sebatas menyanyi bendera merah putih dan Indonesia raya. Dan untuk sungguh jatuh cinta adalah dengan membuat mereka kenal dengan baik, faham dengan baik. Saya cerita bagaimana Majapahit dulu memiliki kapal induk perang terbesar di dunia, bagaimana armada lautnya ditakuti oleh negeri lain. Bagaimana Sriwijaya negeri yang begitu kaya, yang bahkan para perempuannya senang membuat bunga dari emas untuk ke kuil. Belum lagi kerajaan Islam yang tak kalah hebatnya. Sampai di era modern kita juga punya banyak tokoh islam cerdas dan luar biasa."


Iis akhirnya malah jadi tampak begitu bersemangat membahas soal metode mengajar yang sedikit berbeda.


Ridwan pun mendengarkan dengan tak kalah semangat, hingga tanpa sadar mereka jadi larut dalam perbincangan yang panjang sampai tak terasa Adzan Asar berkumandang.


**-------------**

__ADS_1


__ADS_2