
Pak Karto tampak celingak-celinguk memandangi lobi Alpha Centauri Hotel yang mewah dan cetar.
Untuk Pak Karto yang masuk losmen saja jarang, tentu masuk hotel bintang lima rasanya seperti mimpi.
"Ini kita menginap di sini bayarnya bagaimana Pak Haji?"
Tanya Pak Karto polos, takut dia harus bayar sendiri, sementara melihat penampakan lobinya saja sudah sedemikian mewah.
Ridwan sendiri juga sebetulnya sedang bertanya-tanya tentang hal serupa, berapa kira-kira yang harus dikeluarkan untuk membayar.
"Sepertinya soal pembayaran urusan Pak Bagas kok Pak Karto, jangan khawatir."
Kata Pak Haji Imron seraya sedikit terkekeh.
"Hehe... Ya takut saja Pak Haji, kalau sampai nanti tidak bisa bayar."
Pak Karto cengar-cengir.
Pak Haji Imron pun tambah terkekeh-kekeh,
Tak lama berselang, serombongan orang yang tadi sempat berpapasan saat baru keluar dari lift tampak lewat lagi, laki-laki muda yang tampan terlihat sepintas lalu menoleh ke arah Pak Haji Imron dan Ridwan yang duduk di salah satu set sofa di lobi.
Laki-laki muda yang diiringi beberapa laki-laki yang sepertinya para staf hotel dan juga pengawalnya itu tersenyum ramah, meski hanya sekilas, tapi jelas sekali ia adalah orang yang baik.
Ridwan yang merasa juga diajak tersenyum membalas senyuman laki-laki muda tersebut.
Tampak para pegawai hotel membungkuk memberi salam pada laki-laki muda itu, sudah jelas jika laki-laki muda tersebut bukan orang sembarangan.
"Dia sepertinya pemilik hotel atau apa ya?"
Lirih Pak Karto.
Pak Haji Imron dan Ridwan mengamati dari tempat mereka, bersamaan dengan itu di pintu utama hotel di mana laki-laki muda itu bersama rombongan akan keluar, tampak dua laki-laki masuk dan memberikan salam.
Kedua laki-laki tersebut juga sempat bersalaman dan berbicara dengan laki-laki muda yang menjadi perhatian Pak Haji Imron dan Ridwan.
"Ya sepertinya dia pemilik hotel ini."
Kata Pak Haji Imron,
Ridwan diam-diam mengagumi sosok laki-laki muda tersebut.
Ya, jika dia seorang pemilik hotel sebesar ini, tentu dia bukanlah orang sembarangan. Bukan seperti orang kaya di kampung, dia pasti adalah pengusaha kelas atas yang bahkan mungkin cukup diperhitungkan di luar negeri juga.
__ADS_1
"Selamat siang, ini dengan Pak Haji Imron kan?"
Dua laki-laki yang baru datang itu akhirnya mendekat dan berdiri di depan Pak Haji Imron serta Ridwan.
Pak Haji Imron dan Ridwan berdiri, lalu bersalaman dengan dua laki-laki yang menemui mereka yang sepertinya adalah asisten Pak Bagas.
"Nggih Tuan-tuan, saya Pak Imron, dan ini Pak Ustadz Ridwan."
Pak Haji Imron tak menyebut dirinya haji, dan lebih memilih menyebut Ridwan sebagai Ustadz.
Kedua laki-laki itu mengangguk dan tersenyum, lalu mempersilahkan Pak Haji Imron dan Ridwan untuk kembali duduk.
Pak Karto memilih duduk di set sofa lain.
"Itu Tuan Zion, cucu pendiri perusahaan raksasa Alpha Centauri."
Kata salah satu asisten Pak Bagas pada Pak Haji Imron dan Ridwan seolah menjelaskan sosok yang memang cukup menarik perhatian keduanya.
Pak Haji Imron dan Ridwan pun mantuk-mantuk, sungguh Ridwan pun semakin kagum atas laki-laki muda yang ternyata bernama Tuan Zion itu.
Tak Ridwan sangka, jika ada orang kaya yang sepertinya tidak sombong di Ibu kota.
Ah benarlah, anak-anak Pak Sahudi yang sukses dan kaya raya itupun sepertinya tak meremehkan Ridwan, bahkan mereka sangat hati-hati dan menghargai.
Jadi, sebetulnya orang-orang kaya seperti Pak Haji Syamsul tidaklah banyak jumlahnya, hanya saja kebetulan saja kadang sikap arogan mereka memang jadi membuat banyak orang yang baru kaya ikut-ikutan, hingga akhirnya jumlah orang sombong terkesan jadi banyak.
"Ini nanti mohon di baca dan dipelajari semuanya Pak Ustadz, besok sekitar jam satu siang, pihak Notaris akan menyediakan tempat mereka untuk proses penandatanganan seluruh surat-surat dan akta yang diperlukan."
Mendengar penjelasan asisten Pak Bagas tampak Ridwan yang tampak mengambil berkas yang diberikan itu mengangguk mengerti.
"Besok jam satu pihak Notaris bersedia menyediakan tempat dan waktu karena beliau teman baik Pak Bagas, jadi mohon kiranya di jam itu memang seluruhnya sudah siap dan dipahami."
Kata asisten Pak Bagas lagi.
Ridwan pun menganggukkan kepalanya.
"InshaAllah saya akan pelajari dengan sebaik mungkin agar besok saat harus proses penandatanganan tidak ada kendala yang berarti."
Ujar Ridwan.
Asisten Pak Bagas mengangguk dan tersenyum,
"Soalnya besok harusnya hari libur, tapi karena mengingat Pak Haji Imron dan Pak Ustadz Ridwan yang terkendala dengan waktu, akhirnya memang jadwal penandatanganan di hari besok, tapi pihak notaris akan memberikan tanggal di hari Seninnya, dan nanti ada surat pernyataan untuk itu ya Pak Ustadz."
__ADS_1
Ridwan mengangguk mengerti.
Setelah itu mereka berbincang sebentar tentang beberapa hal, termasuk juga asisten Pak Bagas mengajak Pak Haji Imron, Ridwan dan Pak Karto makan siang di restoran hotel bintang lima Alpha Centauri Hotel tersebut.
Sungguh jamuan yang sangat mewah bagi Ridwan dan Pak Karto tentu saja, bahkan untuk sekelas Pak Haji Imron pun tetap merasa jamuan makan siang dari Pak Bagas di restoran tersebut juga tidak biasa.
Setelah menjamu tamu makan siang, asisten Pak Bagas kemudian mempersilahkan Pak Haji Imron, Ridwan dan Pak Karto menuju kamar yang telah dipesankan untuk mereka istirahat.
"Kami akan menjemput besok sekitar jam dua belas siang, untuk kita nanti bisa pergi ke tempat Notaris."
Kata asisten Pak Bagas sebelum pamit pada Pak Haji Imron dan Ridwan.
"Untuk makan malam dan pagi nanti ada sarapan yang diantar ke kamar, tapi jika menunya tidak cocok, silahkan diganti dengan yang lain."
Kata Asisten Pak Bagas pula.
Pak Haji Imron dan Ridwan kembali mengangguk.
Setelah menjelaskan beberapa hal, akhirnya kedua laki-laki asisten Pak Bagas pamit.
Pak Haji Imron dan Ridwan masuk ke dalam kamar masing-masing yang bersebelahan persis, sementara Pak Karto yang kamarnya di depan kamar Ridwan juga terlihat masuk meskipun kemudian keluar lagi karena bingung menyalakan lampunya.
Pak Karto pergi ke kamar Ridwan, ketok-ketok pintu kamar Ridwan.
Ridwan yang baru akan mandi, akhirnya terpaksa keluar dan mendapati Pak Karto nyengir ke arahnya.
"Mas Ridwan, itu, lampunya kok tidak ada saklarnya."
Kata Pak Karto.
Ridwan mengerutkan kening, ia lalu melihat ke dalam kamarnya yang lampunya sudah menyala.
Ridwan ingat tadi lampu di kamarnya dinyalakan oleh asisten Pak Bagas.
"Wah, apa iya sih Pak Karto,"
"Lha kamar Mas itu menyala to."
"Iya tadi asisten Pak Bagas yang masuk pertama, lampu langsung menyala."
"Wah saya kok cuma dibukakan saja."
Kata Pak Karto bingung.
__ADS_1
Ridwan pun akhirnya ke kamar Pak Karto, meskipun ia sendiri tak yakin akan bisa membantu sebetulnya, tapi tidak apa coba saja dulu, hihihi...
**-------------**