
"Assalamualaikum..."
Iis mengucap salam dengan suaranya yang lemah.
Ibu yang tengah duduk di ruang TV menoleh dan tampak terkejut melihat Iis yang baru pamit ke rumah Anisa sudah pulang lagi.
Di tambah wajah Iis yang tampak sedih, tentu saja membuat Ibu bertanya-tanya.
"Waalaikumsalam..."
Jawab Ibu.
Iis yang moodnya down ke level cukup rendah, tampak masuk ke dalam kamar, ditutupnya pintu kamarnya tanpa mengatakan apapun lagi pada Ibunya.
Ibu mengerutkan kening, tentu ini sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya.
Tapi, Ibu tak mau langsung menekan Iis untuk bercerita.
Ibu juga enggan banyak bertanya lebih dulu, biarlah paling hanya masalah anak muda biasa, atau mungkin memang Anisa sedang tidak ada makanya Iis langsung pulang.
Ibu pun kembali melanjutkan menonton acara di TV.
Acara yang sebetulnya tidak penting-penting amat, tapi saat ini, manusia di Indonesia memang sedang dalam masalah tak bisa membedakan mana yang penting dan tidak, mana yang baik dan tidak, mana yang boleh dan tidak.
Sementara itu, Iis di kamar tampak memilih naik ke atas tempat tidurnya, merebahkan diri sambil menatap langit-langit kamar yang terlihat terkena cahaya matahari dari arah jendela kaca kamar.
Kamar Iis yang berada di depan memang memudahkan cahaya matahari memenuhi kamarnya, membuat kamarnya menjadi terang saat siang hari tanpa harus menyalakan lampu.
Iis tampak tangannya diletakkan di dada kirinya, yang terasa sesak dan sakit.
Sungguh ia takut perasaan itu akan terus menenggelamkannya, lalu akan membuatnya menjadi iri dan dengki.
Ya...
Cinta,
Iis bahkan tidak tahu pasti kapan rasa itu mulai ada pada dirinya.
Iis mencoba menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan nya pelahan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Hingga tiba-tiba...
Iis mendengar nada getar hp nya, Iis sejenak melirik dompet miliknya yang tergeletak di sebelahnya.
Iis menghela nafas, tangannya mencoba meraih dompet itu dengan malas.
Diambilnya hp miliknya itu, lalu dilihatnya, siapa gerangan yang menghubungi dirinya.
Dan...
Iis pun kembali harus menghela nafas, saat dilihatnya sebuah panggilan tak terjawab dari Anisa.
__ADS_1
Tak biasanya, Iis terlihat ragu untuk balik menghubungi Anisa.
Ada rasa berat dalam hati, padahal sebelum-sebelumnya ia tentu tak perlu berpikir lebih dulu untuk balik menghubungi sahabatnya itu.
Ya Allah, perasaan apa ini sebetulnya?
Kenapa rasanya begitu membakar?
"Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah."
Iis mengucap istighfar, mencoba membuat hatinya menjadi lebih tenang dan sejuk.
Tak lama Iis akhirnya memutuskan duduk, mengatur nafasnya lagi, lalu turun dari tempat tidurnya.
Iis berjalan pelahan keluar dari kamar, lalu dibawanya langkahnya menuju kamar mandi.
Iis mengambil air wudhu, sungguh hanya itu cara yang paling baik saat emosi asing merasuk dalam diri.
Setelah berwudhu, Iis keluar dari kamar mandi dan berdoa, meminta agar hatinya jangan dijadikan gelap dan hitam hanya karena cemburu.
Ridwan bukanlah suaminya, bukan pula siapa-siapanya.
Tak berhak ia menyimpan kecemburuan berlebih, apalagi jika sampai membuat hubungannya dengan Anisa yang selama ini begitu baik justeru menjadi rusak.
Iis berjalan ke meja makan, mengambil gelas kosong bersih yang selalu ada di tempat gelas, ia lalu menuang air putih dari teko yang juga selalu disediakan di atas meja makan rumahnya.
Gadis itu duduk sebentar, membaca basmalah, baru kemudian meneguk air putih dari gelas.
Setelah minum, kini dadanya yang semula terbakar sedikit berkurang, apalagi sebelumnya Iis juga berwudhu.
"Siang ini biar Ibu saja yang masak, kamu seperti kurang enak badan."
Tiba-tiba Ibu melintasi ruang makan dan berjalan menuju dapur.
Iis menatap sang Ibu.
Letak dapur dan ruang makan yang berurutan membuat Iis leluasa melihat Ibu membuka kulkas dan mulai sibuk memeriksa isinya.
"Tidak apa Bu, biar nanti Iis saja."
Kata Iis seraya mendekati Ibunya.
"Wong kamu seperti sakit begitu kok, sudah kamu istirahat saja sana, mumpung sabtu, lebih baik untuk istirahat. Besok juga. Jadi senin sudah kembali fit."
Ujar Ibu.
Iis menghela nafas,
Ah Senin, mengingat hari senin besok akan jadi hari pertama Ridwan mengajar di sekolahnya, membuat hati Iis tak karuan lagi.
"Kamu mau di masakkan apa? Nanti Ibu masakkan."
__ADS_1
Kata Ibu.
Iis tersenyum, meski ia sedang tak benar-benar ingin tersenyum saat ini.
"Apa saja yang Ibu masak, Iis suka kok."
Kata Iis.
Ibu tersenyum,
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba...
"Assalamualaikum... Assalamualaikum..."
Terdengar suara orang mengucap salam,
"Waalaikumsalam..."
Ibu dan Iis hampir bersamaan menjawab salam.
"Seperti Anisa ya Is?"
Ibu seperti meyakinkan diri, karena merasa tak asing dengan suara Anisa pastinya.
Dan benar saja, begitu Iis akan beranjak ke menuju pintu rumahnya, Anisa sudah tampak tersenyum manis di ruang tamu karena baru saja ia masuk.
Tangannya menenteng paper bag milik Iis yang berisi buku-buku baru yang kemudian dibeli Iis.
"Tadi kata Mbak Wening kamu ke rumah?"
Tanya Anisa pada Iis.
"Iya."
Jawab Iis sedikit malas.
"Trus kenapa tidak masuk? Kamu biasanya memanggilku."
Kata Anisa lagi.
Iis tersenyum ala kadarnya,
"Tidak apa-apa Nis, tiba-tiba badanku tidak enak."
Jawab Iis beralasan, yang jawabannya kemudian langsung direspon Ibunya Iis,
"Iya itu Iis sedang tidak sehat Nis, tapi di suruh istirahat susah sekali, maunya bebenah saja, mumpung hari minggu biar istirahat, malah mau masak segala."
"Oh kalau begitu biar Nisa yang paksa."
Kata Anisa sambil tersenyum dan kemudian menarik tangan Iis menuju kamar.
__ADS_1
**-------------**