
"Gilaaaa... Semua gilaaaaa... semua gilaaaaaa!!"
Anisa menjerit-jerit masuk ke dalam kamarnya.
Sementara itu Mbak Wening diruang keluarga masih berdiri menghadapi Pak Haji Syamsul dan Mbak Faizah yang sombongnya sundul langit.
"Ya bagaimana kami tidak curiga? Semua di seting sedemikian rupa, seolah kalian sengaja merencanakan semuanya karena kalian pasti tahu bahwa toko mas itu adalah warisan yang pastinya sangat berharga."
Kata Mbak Faizah.
"Ya Allah, sungguh buat kami, hidup dalam keberkahan dari Allah Subhanahu wata'ala sudah sangat kami syukuri. Kami bukanlah orang-orang yang tamak akan harta!"
Tegas Mbak Wening.
"Orang selalu berkedok agama untuk terlihat baik, sudah banyak yang seperti itu."
Kata pak Haji Syamsul lirih tapi kalimatnya sangat menyakitkan.
Mbak Wening sampai meneteskan air mata.
Sungguh ia tak menyangka jika seorang Pak Haji masih bisa bicara dengan takaran pemikirannya yang sempit dan hanya berpatokan pada dunia saja.
"Lulusan pesantren, pastinya dia butuh isteri kaya agar bisa mendirikan pondok dan baru bisa dapat banyak uang."
Kata pak Haji Syamsul lagi.
Mbak Wening dadanya kini rasanya ingin meledak, saking tak tahannya Mbak Wening sampai menggebrak meja.
Brak!!
Dan sikap itu jelas membuat mbak Faizah terlihat sedikit menciut.
"Bisa-bisanya anda begitu merendahkan orang lulusan pesantren!!"
Mbak Wening sungguh emosi sekarang, andai boleh pun, pasti ia sudah melempar meja itu ke arah wajah Pak Haji Syamsul dan Mbak Faizah.
Sungguh, jika di zaman dulu ada kisah Firaun yang begitu sombong, ternyata hari ini Mbak Wening merasa bertemu dengan remahan-remahan Firaun, hihihi...
Mbak Wening jelas tak habis pikir, bagaimana bisa ada orang sesombong itu, padahal di dunia ini bukan hanya mereka yang jadi orang kaya.
Apa mereka tidak pernah lihat TV?
Tidak pernah melihat orang-orang kaya di TV sangat banyak? Apa mereka saking kudetnya atau memang bodoh stadium lanjut?
Mbak Wening tangannya mengepal dengan tubuh yang gemeteran ia berusaha menghadapi kedua majikannya.
"Asal Pak Haji dan mbak Faizah tahu, Ridwan itu di pesantren juga sekolah, dia juga sekarang memiliki gelar Sarjana Pendidikan Islam. Dia sekarang jadi Guru di sekolah yang sama dengan Bu Guru Iis."
Kata Mbak Wening.
"Asal Pak Haji dan Mbak Faizah tahu juga, sejak Ridwan kembali ke rumah, saya dan Ibu sudah mendorongnya untuk bersama Bu Guru Iis. Tidak ada satupun dari kami yang tahu Ridwan memiliki hubungan dengan Mbak Anisa. Jika Ridwan memang serius dengan Mbak Anisa, pasti dia sudah cerita pada kami."
__ADS_1
Tambah Mbak Wening.
"Kami memang orang miskin, tapi kami memiliki harga diri, kami tidak terlahir dan dididik oleh orangtua menjadi pemuja harta, kami lebih mencintai ilmu dan kami hidup adalah untuk mencari ridho Allah."
Mbak Wening bicara sambil berlinang air mata.
"Terimakasih atas semua penghinaan yang terus terang ini, saya jadi tidak ragu lagi untuk berhenti bekerja sejak sekarang, saya tidak mau bekerja pada orang yang bahkan menghina lulusan pesantren yang harusnya justeru jika anda seorang muslim sangat mencintai orang-orang pesantren yang di mana di sana adalah tempat untuk menimba ilmu agama!"
Mbak Wening terlihat masih emosi.
"Dan terimakasih juga Pak Haji dan Mbak Faizah begitu terang-terangan menghina adik saya di depan saya, dengan begini, saya akan meyakinkan Ibu dan juga adik saya untuk tidak akan pernah menyukai mbak Anisa apapun alasannya!!!"
"Sekalipun jika Ridwan kelak bisa jadi orang sukses, saya akan pastikan tidak akan mengijinkannya bersama Mbak Anisa!!"
Mbak Wening lalu menyambar kertas surat Ridwan untuk Anisa jaman dulu yang ada di atas meja,
"Hanya karena surat yang ditulis Ridwan ini membuat kalian jadi punya pikirkan jahat, padahal harusnya jika kalian logis, itu hanya surat anak-anak, cinta monyet, cinta yang hanya ada sekilas saja, kalian terlalu percaya diri rupanya, sampai pikirannya makin kotor dan lancang."
Mbak Wening setelah bicara demikian lalu iapun pamit. Ia enggan bicara apa-apa lagi.
Mbak Wening pergi ke ruang belakang di mana Mbok Rat tampak berdiri di pintu bersama supir Pak Haji, keduanya tampak begitu kepo sekaligus prihatin.
"Saya pamit Mbok, Pak, maaf jika selama saya bekerja di sini barangkali ada perilaku dan ucapan saya yang salah."
Kata Mbak Wening seraya mengusap air matanya yang ada di pipinya.
Mbok Rat memeluk Mbak Wening yang akhirnya menangis lagi,
Kata Mbak Wening.
Mbok Rat mengangguk mengerti, ia sangat bisa memahami apa yang kini dirasakan Mbak Wening.
Mbak Wening lalu melepaskan pelukan Mbok Rat dan pamit lagi.
"Saya pergi Mbok, itu Mbak Anisa lebih baik di lihat, jangan sampai ia depresi lalu melakukan hal yang mengerikan. Keluarganya tidak sehat, kasihan dia."
Kata Mbak Wening pada Mbok Rat.
Mbok Rat mengangguk.
Mbak Wening setelah itu meraih tas selempang kainnya dan segera keluar dari rumah Pak Haji Syamsul dari pintu samping rumah.
Setiap langkahnya yang ia bawa menjauh itu ia niatkan dengan sungguh-sungguh untuk tidak akan pernah menginjak pelataran rumah itu lagi.
Mereka menghinaku? Aku masih bisa maafkan.
Mereka merendahkanku? Masih bisa aku terima.
Tapi...
Ini yang mereka hina adalah Ridwan, yang mereka hina juga statusnya yang anak lulusan pesantren, bahkan bukan hanya menghina tapi berburuk sangka yang cenderung pada fitnah keji, jahat, sangat jahat.
__ADS_1
Mbak Faizah, sungguh Mbak Wening begitu membencinya sekarang.
Bisa-bisanya ia menuduh Mbak Wening berkomplot dengan Ridwan dan ketua pengajian hanya agar Ridwan bisa masuk ke dalam rumah pak Haji Syamsul lalu bisa menjadi menantu resmi dan akhirnya menikmati warisan orangtua Anisa juga.
Dasar manusia-manusia pemuja harta, tamak, sombong!
Mbak Wening rasanya ingin berteriak kencang sekencang-kencangnya agar semua orang di kampung itu tahu bagaimana sebetulnya pak Haji Syamsul dan Mbak Faizah.
Bagaimana sombongnya mereka, bagaimana jahatnya mulut mereka, bagaimana mengerikannya berhubungan dengan orang seperti mereka.
Mbak Wening membuka gerbang rumah Pak Haji Syamsul dan begitu keluar ia menutupnya dengan kasar.
Tak apa tak bisa mengamuk pada orangnya, kini ia bisa mengamuk pada pagar rumahnya lebih dulu.
Mbak Wening berjalan menuju warung yang letaknya di depan rumah Pak Haji Syamsul.
Di sana tampak ada satu ojek pangakalan yang sedang makan lontong rujak.
"Lho mau ke mana Ning? Pasar?"
Tanya si pemilik warung.
"Pulang Bu."
Jawab Mbak Wening.
"Baru jam segini udah pulang?"
Ibu pemilik warung heran,
Mbak Wening duduk di bangku kayu panjang tak jauh dari Pak ojek yang sedang menghabiskan rujaknya.
"Ceritanya panjang Bu, tapi yang jelas mulai besok saya tidak lagi bekerja di rumah Pak Haji Syamsul lagi."
"Lho, gimana to?"
Ibu pemilik warung begitu kaget,
"Saya nanti akan fokus bikin keripik, kalau yang di sini sudah habis, hubungin saya saja nggih Bu?"
Kata Mbak Wening berpesan.
Ibu pemilik warung pun mengangguk.
Mbak Wening lantas meminta pak Ojek mengantarnya pulang begitu melihat rujak lontong di piring pak ojek selesai.
"Pulang dulu Bu."
"Iya Ning,"
Mbak Wening menghela nafasnya, lalu mengikuti Pak Ojek menuju motornya yang terparkir di depan warung.
__ADS_1
**---------------**