Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
88. Perenungan


__ADS_3

"Ke mana Nu?"


Tanya Bibi Sundari, saat melihat anaknya tampak rapi dan sedikit terburu-buru.


"Anisa minta Wisnu datang Bu."


Kata Wisnu.


Bibi Sundari menghampiri Wisnu.


"Ada apa lagi? Apa ada masalah?"


Tanya Bibi Sundari.


Wisnu memang sudah memberitahu Bibi Sundari tentang keberadaan Anisa di rumah lama mereka.


Bibi Sundari pun begitu mengetahui hal itu langsung datang ke tempat Pak Haji Syamsul tentang Anisa yang pingsan di jalan dan akhirnya di bawa pulang oleh Wisnu.


Dan karena ini pulalah, Pak Haji Syamsul serta Mbak Faizah tak lagi ramai panik mencari Anisa, karena selain Anisa ternyata di tempat yang dijamin aman, Bibi Sundari juga banyak mengatakan hal yang cukup membuat pak Haji Syamsul malu.


"Sejatinya anak itu amanah Pak Haji, kita sebagai orang tua tidak bisa merasa berhak seutuhnya atas mereka hingga memaksakan apapun sesuai keinginan kita."


"Anak juga manusia, mereka punya keinginan, punya pikiran, punya harapan, punya perasaan suka dan tidak suka. Mereka mungkin diciptakan menjadi bagian dari diri kita, tapi mereka tetap milik Allah, mereka tetap bukan hak kita seutuhnya, kita ini hanya punya kewajiban untuk menyayangi mereka, menjaga mereka, melindungi mereka, mengasihi mereka, mengarahkan mereka pada hal yang Allah sukai, bukan apa yang kita sukai."


"Anisa sudah mengatakan dengan terus terang pada saya bahwa ia tidak mau dijodohkan karena untuk kesepakatan bisnis, saya rasa itu tentu adalah wajar untuk gadis baik seperti Anisa. Gadis baik tentu ingin menikah karena untuk meraih bahagia dunia dan akhirat bersama pasangannya, bukan untuk mengambil keuntungan satu sama lain. Di mananya yang salah?"


Banyak hal yang disampaikan Bibi Sundari kepada Pak Haji Syamsul, dan Pak Haji tampak sangat malu saat itu.

__ADS_1


Ia terus tertunduk, apalagi Mbak Faizah, ia sampai tak berani bersuara sama sekali.


Ya, nyatanya orang sok kaya hanya takut pada orang kaya yang benar-benar kaya, mereka tak akan berani berkata apapun lagi, selain mengangguk dan menunduk.


Tak berani mendongakkan wajah dengan sombong, apalagi menantang dan mendebat.


"Wisnu pergi nggih Bu."


Wisnu meraih tangan Bibi Sundari untuk bersalaman dan mencium tangannya.


"Yang sabar dengan Anisa, bagaimanapun dia sedang merasa sendirian dan tidak ada yang mau mengerti dengan perasaannya. Jangan biarkan ia rapuh dan berputus asa atas kehidupannya, yang sebetulnya masih banyak yang bisa ia syukuri."


Bibi Sundari berpesan pada Wisnu sambil mengantar Wisnu keluar dari rumah.


"InshaAllah kondisi Anisa sudah lebih baik kok Bu sekarang,"


Ujar Wisnu, dan itu tentu saja membuat Bibi Sundari merasa lega.


"Nu, bisa ke rumah lama sebentar? Aku ada penting."


Begitu pesan audio Anisa tadi siang selepas Dzuhur yang baru saja dibuka Wisnu begitu akan sholat Asar karena Wisnu sibuk mengawasi para pegawai di bengkel perhiasan Orangtuanya.


**----------------**


Di rumah lama Wisnu, di kamar, Anisa duduk di tepi tempat tidur sambil memegangi hp nya menunggu Wisnu menghubunginya kembali.


Wisnu hanya mengirim pesan singkat agar Anisa menunggu, hanya itu saja.

__ADS_1


Anisa menatap paper bag berisi beberapa baju salin yang dibelikan Wisnu untuknya selama ia tinggal di sana.


Ya...


Anisa sejak kemarin sore bicara banyak dengan Wisnu akhirnya menghabiskan waktu sejak semalam untuk merenung.


Semua perkataan Wisnu tentang sabar dan syukur menggoyahkan hatinya dan tiba-tiba saja membuat Anisa ingin pulang ke rumah.


Sudah cukup rasanya Anisa lari dari kenyataan bahwa dan kini ia harus menghadapi semuanya dengan lebih tenang.


Mungkin, benar kata Wisnu, bahwa sebetulnya kunci Anisa hanyalah tinggal belajar sabar dan syukur.


Wisnu...


Ya laki-laki itu, yang ternyata hanyalah anak adopsi Bibi Sundari karena Wisnu menjadi yatim piatu manakala kedua orangtuanya meninggal dalam sebuah tragedi kecelakaan.


Wisnu yang dalam takdir hidupnya penuh kepahitan, namun akhirnya bisa menemukan titik di mana ia bisa tetao menikmati hidup dalam syukur yang tak pernah ada batasnya.


Wisnu juga pada akhirnya bisa tetap tumbuh menjadi anak yang berbakti karena cintanya pada kedua orangtua tumbuh atas dasar syukurnya dengan kebaikan kedua orangtua angkatnya.


Anisa menghela nafas,


Bagi Anisa sekarang, jika Wisnu saja bisa, kenapa aku tidak? Begitulah kira-kira apa yang dipikirkan Anisa sekarang.


Sekitar hampir pukul setengah lima sore, saat kemudian terdengar si Mbok mengetuk pintu kamar Anisa dan kemudian terdengar suara si mbok yang memberitahukan bahwa Tuan mudanya datang ke rumah lama.


Anisa yang mendengar suara si mbok memberitahu akan kedatangan Wisnu tentu saja langsung antusias.

__ADS_1


Gadis cantik itu lantas segera berdiri dan keluar dari kamar untuk menyambut kedatangan Wisnu.


**--------------**


__ADS_2