Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
101. Belanja


__ADS_3

Siang pulang mengajar, Ridwan setelah mampir ATM, ia juga mampir dulu ke warung dekat rumah Pak Haji Imron, warung kecil yang menjual sembako dan beberapa kebutuhan rumah lainnya yang meski warungnya kecil tapi cukup komplit.


Ridwan pagi tadi saat akan merendam baju, melihat sabun cuci dan pewangi serta sabun mandi dan peralatan mandi lainnya mulai banyak yang hampir habis.


Sementara di dapur juga Ridwan melihat minyak, dan stok mie instan serta telur pun habis.


Ridwan yang kebetulan kemarin ke Jakarta mendapat rezeki lebih dari Pak Bagas, akhirnya berniat membelanjakan keperluan untuk di rumah.


Memang, di sebelah sekolahan tempat Ridwan mengajar sebetulnya juga ada minimarket yang ia bisa belanja apa saja di sana.


Tapi, Ridwan pikir, jika kita punya tetangga yang punya usaha sembako dan segala macam kebutuhan rumah tangga di rumah, pastinya akan lebih baik kita belanja di tempat tetangga.


Tidak masalah misal ada selisih harga dua ribu sampai tiga ribu rupiah, apalagi jika hanya selisih lima ratus rupiah, yang penting mereka usahanya bisa kita bantu tetap berjalan, apalagi misal mereka memiliki anak-anak yang masih ditanggung karena masih sekolah.


Tapi...


Tak apa juga misal sesekali belanja di minimarket, meskipun misalnya itu milik orang manapun, atau agama apapun, atau milik pengusaha besar sekalipun.


Karena...


Dengan adanya usaha mereka jugalah negara kita dibantu dalam menyediakan lapangan kerja, oleh sebab itu, tentu sangat membantu banyak lulusan-lulusan yang setiap tahun terus bertambah.


"Assalamualaikum..."


Ridwan terdengar mengucap salam, di depan warung yang kini tampak sepi.


"Assalamualaikum..."


Kembali Ridwan pun mengucap salam,


Tak lama setelah itu, terdengar seseorang dari dalam menjawab,


"Waalaikumsalam..."


Dan kemudian muncul seorang perempuan paruh baya yang terlihat keluar dari ruang dalam membawa satu baskom kecil berisi bakwan sayur yang sepertinya baru matang.


Bakwan sayur itu berukuran cukup besar dan terlihat garing serta renyah, sangat menggiurkan.


"Bu, tumbas."


Kata Ridwan.

__ADS_1


"Oh nggih monggo... monggo."


Kata si Ibu pemilik warung yang sambil mengamati sosok Ridwan yang sepertinya tidak asing,


"Tumbas sabun cair yang warna biru yang ukuran sedeng ada nggih Bu?"


"Ooh ada... ada."


Si Ibu lantas membuka etalase warungnya, di mana di sana ada beberapa sabun mandi batangan dan beberapa biji sabun cair isi ulang.


"Eeh tapi tidak ada yang botolan ini, adanya yang buat isi ulang."


Kata si Ibu.


"Oh nggih Bu, tidak apa-apa, seadanya saja."


Sahut Ridwan.


"Ini odolnya yang apa?"


Tanya si Ibu.


Setelah semua disediakan, Ridwan juga tak lupa membelikan jajan untuk Ajeng, dua bungkus keripik kentang ukuran sedang, dan satu batang coklat ukuran kecil.


"Mau bakwan juga tidak Mas? Mumpung masih anget."


Kata si Ibu pemilik warung pula.


Ridwan yang melihat bakwan di dalam baskom yang memang tampak sangat menggiurkan itupun akhirnya mengangguk.


"Nggih Bu, boleh saya minta dibungkuskan sepuluh ribu rupiah."


Ujar Ridwan.


Ibu pemilik warung pun tentu saja senang mendengarnya. Cepat ia langsung mengambil bungkus kertas untuk kemudian memasukkan beberapa bakwan yang masih hangat dan tampak garing tersebut.


"Jadi semua berapa Bu?"


Tanya Ridwan.


Ibu pemilik warung mengambil sobekan wadah rokok, dan pulpen yang diikat dengan tali ke gantungan warungnya.

__ADS_1


Ia mulai menulis untuk membuat nota manual ala warung-warung di kampung.


Setelah menjumlah seluruhnya dan memberikan nota manual itu kepada Ridwan, tampak kemudian Ridwan mengambil dua lembar seratus ribuan.


Diberikannya dua lembar uang seratus ribuan itu pada Si Ibu pemilik warung.


"Sama dua amplop kecil nggih Bu."


Kata Ridwan lagi,


"Oh nggih Mas."


Kata si Ibu yang lantas meraih kotak isi amplop, untuk mengambil dua lembar dan diberikan pada Ridwan.


Setelah itu si Ibu membuka laci meja tempat ia menyimpan uang di dalam warung untuk mencari uang kembalian.


"Salam nggih buat Ibunya Mas Ridwan."


Kata si Ibu pemilik warung begitu memberikan uang kembalian pada Ridwan.


Ridwan yang terkejut karena si pemilik warung ternyata masih mengenalinya dengan baik, membuat Ridwan jadi tersenyum.


"Masih kenal saya to Bu? Masya Allah, sehat-sehat Ibu."


Si Ibu pemilik warung pun jadi terkekeh.


"Lho ya pasti masih ingat, wong pas kecil kan sering disuruh Ibu ke warung."


Ridwan jadi ikut tertawa kecil.


"Nggih mangke disampekaken Bu, maturnuwun, assalamu'alaikum."


Kata Ridwan.


"Waalaikumsalam..."


si Ibu pemilik warung menjawab salam Ridwan.


Ridwan berjalan tenang, sambil membawa barang belanjaannya menuju motornya yang ia parkir di halaman depan warung.


**---------------------**

__ADS_1


__ADS_2