Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
142. Terkejut


__ADS_3

Iis menatap Ridwan yang berdiri di depan pintu rumah Iis di saat hari tengah turun hujan.


"Pa.. Pak Ridwan?"


Iis jelas cukup terkejut melihat ada Ridwan yang kini berdiri di depannya dengan masih mengenakan jas hujan.


"Maaf Bu... Sa... Saya... sengaja mampir karena tadi saya hubungi panjenengan tidak ada respon, sa... sa..."


Iis memperhatikan Ridwan yang tampak seperti gugup sekaligus juga kedinginan, tak tega Iis pun segera mempersilahkan Ridwan masuk.


"Masuk dulu Pak, bicara di dalam saja."


Kata Iis.


Ridwan yang melihat kondisi rumah seperti sepi tampak ragu, lalu...


"Tidak apa-apa Bu, di... di sini saja."


Kata Ridwan sedikit menggigil.


Iis yang sepertinya mengerti dengan apa yang dikhawatirkan Ridwan akhirnya menunjuk ke arah kamar ke dua dari ruang tamu.


"Ada Ibu saya kok Pak lagi sholat, tidak apa, monggo masuk."


Kata Iis pula,


"Tidak pantas juga hujan deras begini tamu berdiri di depan pintu."


Tambah Iis lagi.


Ridwan yang mendengar kata-kata Iis dan merasa memang ada benarnya akhirnya memutuskan untuk menurut masuk.


Dibukanya jas hujannya lebih dulu, Iis menunjuk ke besi jemuran yang ada di samping teras rumah, untuk Ridwan bisa meletakkan jas hujannya di sana.

__ADS_1


"Sopo Is?"


Tanya Ibu pada Iis sambil melongok dari kamar dan mendapati anak gadisnya tengah berdiri di pintu utama rumah.


Iis sejenak menoleh karena mendengar Ibunya bertanya,


"Ada Pak Ridwan, Bu."


Ujar Iis.


"Lho, suruh masuk Is, hujan deras begini kok."


Ibu lekas keluar dari kamarnya, masih dengan memakai mukenah bagian atasan.


"Enggih Bu, itu Pak Ridwan lagi naruh jas hujannya di jemuran."


Kata Iis.


"Oh iyo... iyo bener."


"Wis, nanti Ibu buatkan teh dulu, sekalian sini mangkuknya, Ibu saja yang bawa. Tidak sopan to yo, nemuin Pak Ridwan kok bawa mangkuk kotor."


Kata Ibu seraya mengambil mangkuk kotor yang masih dipegang Iis.


Mangkuk bekas makan mie instan rebus.


"Tidak apa Bu, nanti Iis saja."


Iis berusaha menolak, tapi Ibu tetap menarik mangkuk itu dari tangan Iis.


"Wis, ojo berisik."


Kata Ibu pula, yang mana membawa mangkuk bekas mie Iis ke arah dapur.

__ADS_1


Ibu membuka mukenanya di dapur juga, lalu meletakkannya di rak jemuran handuk.


Di luar Ridwan sudah terlihat kembali ke pintu utama rumah Iis dan tersenyum canggung.


Iis mempersilahkan Ridwan masuk dengan ramah dan hangat.


"Maaf, kalau saya jadi mengganggu Bu."


Kata Ridwan seolah tak enak saat mengikuti Iis masuk ke rumah dan kemudian duduk di kursi ruang tamu.


"Tidak apa Pak Ridwan, pasti ada penting sekali sampai Pak Ridwan menyempatkan diri mampir meskipun hujan turun deras sekali."


Ujar Iis.


Ridwan tampak mengangguk lalu tersenyum,


"Enggih Bu, memang ini penting."


Ujar Ridwan.


Ridwan dan Iis duduk di kursi yang dibatasi satu meja persegi panjang dengan taplak warna kuning dengan sulaman bunga mawar buatan Ibunya Iis sendiri.


Satu vas bunga krisan yang cantik dari plastik, dan juga tiga toples cemilan untuk suguhan tamu tampak juga di sana, termasuk wadah minuman mineral gelas yang terisi penuh.


"Saya tadinya mau mampir nanti malam saja, tapi takutnya hujan akan turun sampai malam dan Bu Guru Iis juga mungkin sudah istirahat."


Kata Ridwan.


Iis tersenyum,


"Tidak apa kok Pak,"


Jawab Iis.

__ADS_1


**-------------**


__ADS_2