
Malam telah larut, hujan mengguyur setelah habis maghrib gerimis sempat turun rintik-rintik meski hanya sebentar.
Ridwan di kamarnya terlihat masih terjaga, duduk di depan meja kayu kamarnya dan membaca satu buku karya Buya Hamka.
Sebetulnya, telah lama Ridwan ingin meluangkan waktu untuk membaca buku salah satu ulama yang ia kagumi itu, namun saat kali ini ia punya kesempatan membaca, ternyata malah Ridwan tak bisa fokus sepenuhnya dengan buku yang tengah ia baca.
Ridwan menghela nafasnya.
Tentu saja ia tak bisa fokus, karena yang terus terlintas di kepalanya saat ini adalah perbincangannya bersama Pak Haji Imron dan Wisnu.
Ya Wisnu...
Pemuda itu.
Seorang pemuda sukses, cerdas, kharismatik dan juga rendah hati.
Untuk Ridwan, yang sesama laki-laki saja, rasanya melihat sosok Wisnu tentulah seorang calon suami yang sempurna.
Tak banyak laki-laki diciptakan dengan kelebihan selengkap itu, dan Wisnu tentu saja adalah salah satu laki-laki yang beruntung karena memiliki kelebihan begitu banyak.
"Jadi, saya harus lebih mengikuti perintah Ibu?"
Tanya Wisnu tadi, ketika perbincangan mereka belum selesai di serambi masjid.
"Nggih sebaiknya memang begitu Mas Wisnu, karena kewajiban panjenengan yang utama itu kan manut sama Ibu, betul kan nak Ridwan?"
Pak Haji Imron menoleh ke arah Ridwan yang tampak terkesiap.
Ridwan yang sejak Wisnu menyebut nama Anisa itu memang langsung gagal fokus, yang dimana pikiran serta perasaannya langsung kacau seperti baru saja ada balon hijau meletus.
"Oh... Eh... Ya... Oh... Nggih, bagaimana Pak Haji?"
Ridwan gelagapan.
Pak Haji Imron yang sebelumnya tidak pernah melihat Ridwan demikian tentu saja jadi heran.
Namun, Pak Haji Imron tentu saja tak akan membahas kenapa Ridwan seolah sedang gagal fokus.
__ADS_1
Bagi Pak Haji Imron, tentu Ridwan sedang banyak pikiran saat ini adalah lumrah, karena ia tengah menghadapi beban tanggungjawab cukup berat untuk mengemban amanah besar keluarga almarhum Haji Sahudi.
"Ini nak Ridwan, Mas Wisnu ingin diberi saran untuk sikap yang harus ia ambil menghadapi dua pilihan yang sulit. Di mana ia ingin menolong perempuan yang ia cintai tanpa harus memaksa menikah dengannya tapi tak diijinkan Ibunya, jika memang tetap ingin menolong ya seharusnya mereka menikah."
Kata Pak Haji Imron mengulang, lalu...
"Tapi jika tidak ditolong, perempuan itu bisa jadi akan pergi entah ke mana, karena perempuan itu sudah tidak mau pulang ke rumahnya sendiri."
Ujar Pak Haji Imron pula.
Ridwan terdiam sejenak, ia menatap Wisnu.
Tampak Wisnu yang telah lebih dulu menatap Ridwan karena menunggu kata-kata bijak dari Pak ustadz muda itu kini tersenyum, hal ini membuat Ridwan merasa benar-benar frustasi.
Di lain sisi, jelaslah bahwa Anisa kini tengah dalam keadaan yang sama sekali tidak aman dan hanya Wisnu yang sejatinya bisa melakukan sesuatu untuknya.
Sosok Wisnu dengan segala kelebihannya, jelaslah tak akan ada orangtua yang memiliki anak gadis bisa menolak Wisnu sebagai calon menantu.
Apalagi, Ridwan melihat dengan jelas bagaimana kedua mata Wisnu yang memancarkan kasih begitu besar saat menceritakan semua masalah yang dihadapi Anisa.
Ridwan yang juga lama mencintai Anisa, dan juga pernah bermimpi serta berharap bisa menjadi suaminya pun sepertinya belum sampai ke tingkat perasaan seperti yang dirasakan Wisnu pada Anisa.
Ya...
Ridwan belum sampai ke titik itu.
Cinta mungkin ya, Ridwan jatuh cinta sepenuhnya pada gadis cantik itu, tapi mengasihinya begitu dalam, ternyata Ridwan belum sampai di sana.
Tapi...
Ridwan menghela nafas,
Tapi kenapa untuk mengatakan Wisnu lebih baik menikahi Anisa rasanya begitu berat? Kenapa? Batin Ridwan sesak.
"Apa Pak Ustadz juga berpendapat sama dengan Pak Haji? Bahwa lebih baik saya menikahi Anisa karena hanya dengan cara demikian saya bisa melindungi dan menolongnya dengan dukungan orangtua?"
Tanya Wisnu akhirnya,
__ADS_1
Ridwan yang sejak tadi terdiam, akhirnya dengan sangat berat memutuskan untuk mengangguk.
Ya mengangguk, satu sikap yang mungkin akan Ridwan sesali sepanjang hidupnya kelak.
Wisnu tampak mengangguk mengerti, lalu...
"Kalau begitu, apa saya boleh meminta tolong pada pak Ustadz?"
Tanya Wisnu santun,
"Ya Mas Wisnu, minta... tolong soal apa?"
Tanya Ridwan ketar-ketir, takut permintaan tolong yang terlalu berat ia lalukan.
Meskipun akhirnya memang...
"Besok, bisakah saya dan Anisa bertemu dengan Pak Ustadz. Maksudnya saya ingin Pak Ustadz yang menjelaskan kenapa saya harus menikahi Anisa lebih dulu, supaya dia tidak berpikir macam-macam dan tidak nyaman jika harus menikah dengan saya."
"Tap...Tapi..."
Ridwan terlihat ragu,
Pak Haji Imron menatap Ridwan yang terlihat semakin kelimpungan, dan tiba-tiba Pak haji Imron baru ingat bahwa tempo hari Pak Haji Syamsul datang ke masjid hanya untuk memaki-maki Ridwan karena anak gadisnya pergi dan menuduh Ridwan yang membawanya pergi.
Ah...
Mungkinkah?
Pak Haji Imron baru akan bicara pada Ridwan untuk tak perlu memaksakan diri jika memang tidak bisa,
Tapi ..
Ridwan tiba-tiba bicara lagi mendahului,
"Ya, besok akan saya sempatkan datang saja ke tempat panjenengan, berikan saja saya alamatnya."
Putus Ridwan.
__ADS_1
Keputusan yang entah karena apa ia nekat mengambilnya, namun apapun itu, yang jelas sekarang Ridwan merasa sedih sepanjang malam.
**--------------**