Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
206. Wejangan Mbak Yu


__ADS_3

Ibu memandangi semua yang dibawa Ridwan pagi ini dari rumah pak Haji Imron.


Matanya berkaca-kaca, entah apa yang harus ia lakukan saat ini sebagai Ibu dari anak yang tengah mulai dikaruniai banyak sekali nikmat, tapi juga pastinya ini adalah amanah serta ujian yang semakin berat.


"Haruskah saya menerima semuanya Bu? Lagi-lagi entah kenapa saya jadi takut nantinya semua kenikmatan dunia ini menjadikan Ridwan jauh dari Allah,"


Kata Ridwan dengan suara tergetar.


Mbak Wening yang berjalan dari arah dapur tampak mendekat membawa satu piring dadar telur dan satu piring mie telor goreng.


Tampak ia melihat banyak fotokopi sertifikat tanah dan juga beberapa kunci dan kartu ATM serta BPKB dan STNK.


"Apa itu Wan?"


Tanya Mbak Wening,


Ridwan menoleh ke arah Kakaknya.


"Hadiah dari keluarga Pak Sahudi, Mbak."


Jawab Ridwan.


Mbak Wening meletakkan dua piring lauk sarapan mereka, ia tampak ternganga melihat semuanya.


"Ini maksudnya semua buat hadiah kamu Wan?"


Tanya Mbak Wening,


Ridwan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"MasyaAllah, kamu mimpi apa? Kejatuhan emas monas?"


Tanya Mbak Wening malah bercanda.


Ridwan jadi mengurut kening, meskipun tak bisa untuk tidak tersenyum,


"Kamu ini, adikmu lagi bingung harus menerima semua hadiah ini atau tidak, malah kamu becandai."


Kata ibu.


"Lho kenapa bingung, kamu itu lho apa-apa selalu bingung."


Ujar Mbak Wening sembari duduk di samping Ridwan.


"Bukan begitu Mbak, ini soalnya saya takut kalau nantinya membuat saya lalai dan malah jadi jauh dari Allah."


Kata Ridwan.


Kata Mbak Wening berapi-api.


"Kamu harus punya semangat untuk bisa menggantikan Pak Haji Imron dong Wan, ini namanya Allah sudah kasih kamu kepercayaan, jadi kalau kamu sia-siakan ya sama saja kamu tidak menerima kepercayaan dari Allah."


Ujar Mbak Wening.


"Nyatanya Wan, untuk membantu orang lain itu, kalau kita punya harta bakal lebih mudah, kalau kita ingin mendirikan tempat-tempat yang positif seperti rumah quran, atau panti, pondok dan sebagainya kalau kita punya uang juga mudah, apalagi kamu itu sudah punya kedudukan di masyarakat, kamu juga punya ilmu, sekolah pun tinggi, kamu harus jadi manusia yang bermanfaat bukan hanya untuk dirimu sendiri."


Ujar Mbak Wening begitu semangat.


Ya...

__ADS_1


Meskipun Ridwan mengakui memang apa yang dikatakan Mbak Wening rasanya semua adalah realistis dan memang niatnya adalah baik.


"Terima saja, toh kamu itu juga tak ada bakat sombong, ketemu orang siapa saja senyum, ketemu anak kucing juga kamu kan senyum-senyum."


Kata Mbak Wening,


Ibu mendengarnya jadi terkekeh,


"Kamu ini lho kalau ngomong, wong kamu saja setiap hari bicara sama ayam dan suka marah-marah sama semut."


Kata Ibu.


"Lah soalnya itu ayam-ayam kasihan Bu kalau tidak diajak ngomong, takutnya jadi kurang semangat kukuruyuk."


Kata mbak Wening memberikan alasan.


Ya begitulah, Mbak Wening memang sejak masih jadi orok sudah berbeda dengan Ridwan.


Satu petakilan, dan satu kalem luar biasa.


"Jadi, bismillah saja ya Mbak?"


Tanya Ridwan.


Mbak Wening mengangguk,


"Ya tentu."


Kata Mbak Wening pula.

__ADS_1


**------------**


__ADS_2