Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
141. Tamu Tiba-tiba


__ADS_3

Hujan di luar sana masih turun deras, Iis di dapur tampak selesai memasak mie rebus komplit dengan telur dan irisan cabe.


Aroma mie instan rebus rasa ayam bawang yang khas tercium mengundang selera.


Iis membawa mangkuk mie rebusnya ke ruang makan, diletakkan di meja makan lalu menarik toples kerupuk bundar putih kesukaannya merk dua saudara.


Iis sejenak ke kamar Ibunya, disingkapnya tirai pintu kamar Ibunya sebentar, memastikan Ibu sudah bangun atau belum.


Di kamar Ibu masih terlihat tidur nyenyak, karena Iis ingat Ibu belum sholat Asar, maka Iis pun masuk ke dalam kamar Ibunya sebentar untuk membangunkan.


"Sholat dulu Bu."


Kata Iis begitu Ibunya membuka matanya pelahan saat dibangunkan.


"Oh, jam berapa ini?"


Tanya Ibu sembari bangun dari posisinya.


"Jam empat lewat lima menit."


Jawab Iis.


"Eh lah, sudah sore."


Ibu pun segera duduk, lalu kakinya mencari sandal jepit dalam rumah.


Iis pun membungkuk sebentar, mengambilkan sandal Ibunya yang agak masuk ke kolong karena Ibu mungkin tadi agak terburu naik ke tempat tidur.


Diletakkannya sepasang sandal jepit itu di dekat kaki sang Ibu oleh Iis agar Ibu bisa langsung memakainya.


"Iis masak mie rebus, Ibu mau dibuatkan juga?"


Tanya Iis.


Suasana hujan deras begini jelas Ibu langsung mengangguk setuju.

__ADS_1


Iis tersenyum,


"Nanti setelah Ibu sholat, Iis buatkan nggih."


Kata Iis.


"Iyo, ini Ibu mau mandi dulu."


"Pakai air hangat saja Bu, perlu Iis tuangkan nopo air panas dari tremosnya?"


Tanya Iis.


Ibu cepat menggeleng.


"Tidak usah Is, kamu katanya habis masak mie rebus, sudah sana dimakan, nanti tidak enak kalau dingin."


Ujar Ibu.


Iis pun mengangguk, lalu keluar kamar untuk kemudian ke ruang makan di mana mie rebusnya telah menunggu untuk disantap.


Ibu sendiri keluar kamar untuk kemudian langsung menuju dapur, mengambil tremos air panas, lalu dibawa ke kamar mandi agar bisa mandi air hangat.


Iis bersiap menikmati mie rebusnya, saat didengarnya hp miliknya yang sedang di chas di kamar seperti ada panggilan masuk.


Entah siapa yang menelfonnya sore hari seperti ini di saat hari sedang hujan dan jadwal les Iis geser besok sore karena tidak ingin anak-anak yang les di tempatnya akan kehujanan saat pulang lalu akhirnya jatuh sakit.


Iis pun karena merasa tanggung sedang menikmati makan mie rebusnya akhirnya memilih mengabaikan panggilan masuk yang sebetulnya ia dengar.


Sesuap demi sesuap, mie rebus di dalam mangkuk keramik gambar ayam jago itupun habis dilahap Iis dengan ditemani kerupuk bundar warna putih merk dua saudara.


Saat yang sama, Ibunya Iis seleksi mandi dan melintas di ruang makan untuk menuju kamar tidurnya.


"Ibu mau mie rebus atau mie goreng Bu?"


Tanya Iis.

__ADS_1


"Mie rebus saja, enaknya kalau hujan begini yo makan mie rebus."


Kata Ibu,


Iis pun mengangguk setuju sambil berdiri untuk membawa mangkuk bekas makan mie rebusnya.


"Tapi cabenya jangan banyak-banyak, Ibu sudah tidak kuat kalau terlalu pedes."


Ujar Ibu.


"Nggih Bu, nanti cabenya satu saja kalau Ibu."


Ibu pun mengangguk setuju, lalu masuk ke dalam kamar untuk sholat Asar.


Iis yang akan membuatkan mie rebus untuk Ibunya berjalan ke arah dapur, namun belum lagi sampai pintu dapur, tiba-tiba Iis mendengar suara pintu diketuk dari luar.


Iis pun menghentikan langkahnya sejenak, memastikan jika pendengarannya tidak salah.


Tok tok tok...


Benar terdengar suara ketukan di pintu rumah Iis, yang disusul kemudian suara orang mengucap salam.


Suaranya memang tak begitu jelas karena riuh suara air hujan yang jatuh di atas atap dapur yang sebagiannya menggunakan atap spandek galfalum.


"Assalamualaikum..."


Terdengar lagi orang di luar sana mengucap salam, Iis pun akhirnya mengalah pergi menuju pintu depan rumahnya.


"Assalamualaikum..."


Salam ketiga pun terdengar, yang disusul suara ketukan di pintu juga...


Tok tok tok...


"Waalaikumsalam..."

__ADS_1


Jawab Iis, yang kemudian membuka pintu depan rumah, dan...


**-------------**


__ADS_2