Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
114. Kacau Balau


__ADS_3

Hari ini, Ridwan berangkat paling pagi dari rekan yang lain.


Entahlah, sebetulnya tentu bukan karena ia sedang rajin dan bersemangat, tapi justeru sebaliknya, Ridwan tengah merasakan kegundahan yang cukup besar, hingga ia ingin segera melarikan diri dari rumah karena terus menerus diperhatikan Ibu dan Mbak Wening.


Ridwan tentu saja tidak mau menambah beban pikiran mereka dengan bercerita tentang apa yang tengah ia rasakan.


Apalagi sejak peristiwa Mbak Wening dimarahi Pak Haji Syamsul terkait Anisa dan diri Ridwan, rasanya tak sampai hati untuk Ridwan menyinggung nama Anisa lagi di hadapan Mbak Wening serta Ibunya.


Ridwan sungguh tahu jika pastinya sangat berat bagi Mbak Wening untuk menerima penghinaan yang dilakukan Pak Haji Syamsul dan Mbak Faizah.


Ya, mungkin mereka memang benar berasal dari keluarga kurang mampu, bahkan seujung kuku kekayaan Pak Haji Syamsul saja tidak ada, tapi apa itu lantas menjadikan Pak Haji Syamsul merasa berhak melakukan kesewenang-wenangan pada Mbak Wening hanya karena Ridwan.


Ridwan menghela nafas, rasanya bahkan setiap kali mengingat hari di mana pertama kali melihat Mbak Wening bercerita sambil menangis saja Ridwan langsung merasa ingin balik membenci Anisa.


Ridwan kini tampak mengeluarkan kitab yang dulu ia dapat saat masih di pesantren, bersama dengan itu juga Ridwan meraih dua buku di meja kerjanya yang ditata rapi.


Buku dan kitab itu di letakkan di depannya, lantas Ridwan menyalakan laptop, materi yang akan ia bawakan hari ini adalah tentang sesuci, maka Ridwan ingin membuat seperti rangkuman sendiri, yang semuanya ia ambil dari kitab serta buku yang ia miliki.


"Assalamualaikum..."


Tiba-tiba terdengar suara Mas Trisno yang muncul di pintu ruang Guru, ia tampak membawa satu nampan dengan satu gelas teh tanpa gula yang masih mengepul hangat.


Di samping gelas teh tersebut juga ada satu piring getuk yang ditaburi parutan kelapa.


Mas Trisno berjalan membawa nampan itu ke arah meja kerja Ridwan.


"Barangkali belum sarapan Pak Guru, barusan kebetulan tadi dari pasar beli getuk dua bungkus, ini satu bungkus untuk pak Guru saja."


Kata Mas Trisno.


"Lho Mas, kok malah dikasihkan ke saya to? Jangan repot-repot Mas."


Ridwan tampak tidak enak hati mendapat getuk dari Mas Trisno.


"Tidak apa-apa Pak Guru, wong banyak kok isinya itu."


Ujar Mas Trisno.


"Waduh tapi ini saya jadi tidak enak malah dikasih getuk sama Mas Trisno."


Kata Ridwan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Pak Guru, saya sungguh melakukannya dengan senang hati, jangan tidak enak."


Kata Mas Trisno yang lantas meletakkan gelas wedang teh serta satu piring berisi getuk di dekat buku dan kitab milik Ridwan di atas meja.


Ridwan pun demi menghormati Mas Trisno yang telah berniat baik membuatkan teh dan membawakan getuk akhirnya memutuskan menerima pemberian Mas Trisno.


"Nggih sampun Mas Trisno, maturnuwun Mas."


Kata Ridwan akhirnya,


Mas Trisno tersenyum sambil mengangguk, lalu laki-laki yang telah lama mengabdi menjadi penjaga sekolah cukup lama itupun pamit keluar dari ruang guru,


Kebetulan Ridwan juga ada panggilan masuk di hp nya, maka Ridwan pun hanya sempat mengangguk saja.


"Assalamualaikum..."


Terdengar suara Bu Guru Iis yang masuk ke ruangan berpapasan di pintu ruang Guru dengan Mas Trisno yang akan keluar.


"Waalaikumsalam..."


Jawab Mas Trisno.


"Masih sepi nggih."


Kata Iis.


"Ada Pak Guru Ridwan kok Bu,"


Jawab Mas Trisno, yang benar saja begitu melihat ke dalam tampak Ridwan yang seperti tengah bicara serius di telfon dengan hp nya.


Sebetulnya, Iis tidak terlaku kaget melihat Ridwan sudah ada di ruang Guru karena tadi ia sudah melihat motor Ridwan di parkiran.


Tapi, Iis merasa ingin memastikan saja jika memang Ridwan lah yang sudah berangkat.


Iis baru akan berjalan ke arah mejanya, manakala Mas Trisno menawarkan Bu Guru Iis hari ini akan minum teh hijau atau teh yang biasa.


"Nngg... Teh biasa saja Mas, tapi gulanya sedikit saja."


Pesan Iis.


Mas Trisno pun mengangguk, lalu pamit keluar.

__ADS_1


Iis berjalan menuju mejanya yang bersebelahan dengan Ridwan.


Keduanya terlihat sempat saling pandang dan saling tersenyum saja, lalu Iis segera menuju tempat duduknya sendiri, meletakkan tas di atas meja, mengeluarkan laptop dan satu buku catatan.


Iis tampak menyibukkan diri dengan menata buku-buku di atas mejanya, yang tanpa sengaja juga mendengar pembicaraan Ridwan dengan si penelpon.


"Jadi Pak Ustadz nanti pulang sekitar jam satu nggih?"


Bisalah terdengar sayup-sayup suara dari seberang sana karena Ridwan .


"Jadi Pak Ustadz nanti ke rumah lama saya nanti bareng saya saja Pak Ustadz, tidak apa jika memang harus saya jemput ke tempat mengajar Pak ustadz."


Kata Suara itu.


"Wah, terimalah Mas Wisnu, terimakasih banyak, tidak apa-apa tidak usah dijemput, saya ada bawa motor sendiri kok."


Ujar Ridwan menolak.


"Oh begitu, nggih terimakasih sekali jika demikian pak Ustadz."


Lalu...


"Semoga dengan nanti Pak Ustadz datang, Anisa juga akan bisa membuat keputusan untuk hidupnya dengan lebih benar."


Suara itu terdengar lagi, membuat Ridwan lantas tampak mengangguk dengan kekacauan hati luar biasa.


Anisa?


Maksudnya Anisa?


Di tempatnya, Iis yang jadi setengah menguping pun akhirnya jadi bertanya-tanya, kenapa si penelpon menyebutkan nama Anisa.


Ya Anisa...


Apakah?


Iis menoleh sejenak ke arah Ridwan yang terlihat masih bicara dengan hp nya.


Iis menghela nafas, bayangan akan Anisa membuat perasaannya tiba-tiba jadi tak karuan.


**--------------**

__ADS_1


__ADS_2