Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
82. Penasaran


__ADS_3

"Pulangnya jangan lama-lama Ning,"


Kata Ibu berpesan, tampak Ibu berjalan dari arah dapur membawa gelas besar wedang teh yang masih mengepul panas.


"Nggih Bu, cuma antar keripik saja, sekalian mau mampir ke rumah Bu Bejo, beli tempe buat besok nyoba bikin keripik tempe juga, banyak yang tanya soalnya."


Kata Mbak Wening.


"Lha iyo, itu singkong kan juga banyak di kebun, kamu olah sekalian saja untuk keripik."


Nanti kalau Ridwan sudah pulang Bu, biar ada yang bantu ambil singkongnya."


Ujar Mbak Wening.


Ibu tampak menganggukkan kepalanya,


Mbak Wening pun mengambil dua tas kresek besar berisi bungkusan-bungkusan keripik pesanan para pelanggannya.


Sore ini ada tiga orang yang minta diantar ke rumah dan Mbak Wening lega sekali semuanya bisa selesai sesuai waktu yang dipesan.


Mbak Wening menggantung kedua kresek besar di sepedanya, lalu menuntun sepedanya keluar dari rumah.


Ajeng yang baru pulang main dengan teman-temannya tampak lari-lari begitu melihat Ibunya akan pergi.


"Ibu ndereeek tooo..."


Pinta Ajeng merengek,


"Ealah baru pulang main minta ikut, lha yo mandi dulu,"


"Nanti ditinggal."


Ajeng tambah merengek,


"Ibu pergi sebentar nanti balik lagi."


Kata Mbak Wening,


"Janji yo Bu..."


Ajeng jingkrak-jingkrak,


"Iyo... wis sana mandi,"


Kata Mbak Wening seraya naik ke atas sepeda ontelnya.


Sepeda ontel peninggalan almarhum suaminya, satu-satunya harta warisan yang ditinggalkan dalam rumah tangga bahagia yang penuh kesederhanaan.


Mbak Wening lantas mengayuh sepedanya meninggalkan halaman rumahnya, beberapa tetangga yang akan pergi ke pengajian dan berpapasan dengan Mbak Wening menyapa,


"Kemana Mama Ajeng?"


"Ngantar pesanan keripik Ibu-ibu."


Sahut Mbak Wening sambil menghentikan laju sepedanya sebentar.


"Keripik tempe lho Ning, nanti kita pada pesan buat lauk."


"Nggih Bu, inshaAllah nanti mau buat keripik tempe juga."


Kata mbak Wening,

__ADS_1


"Nah asik itu berarti."


Mbak Wening jadi senyum-senyum senang.


Ah benarlah memang jalan rejeki sudah diatur sedemikian indahnya oleh Allah asal kita mau berusaha, nyatanya sekarang pelan tapi pasti usaha Mbak Wening yang semula hanya sampingan, begitu sungguh-sungguh digeluti langsung laris manis banyak pelanggan berdatangan.


"Monggo Ibu-ibu, saya duluan."


Kata Mbak Wening pamit,


"Iyo Ning, ati-ati..."


Kompak mereka, lalu seperti biasa saat satu orang pergi, maka yang pergi itu yang jadi bahan pembicaraan,


"Masih muda dan cantik ya padahal, tapi katanya tidak mau nikah lagi."


"Yo mungkin masih ingat sama suaminya."


"Bedanya perempuan sama laki kan begitu, kalau perempuan tidak bisa langsung menikah, kalau laki-laki, isteri baru meninggal saja sudah sibuk cari ganti lho."


"Tidak semuanya begitu to Bu."


"Lha ya kebanyakan begitu kok, sudah terbukti."


"Walah apalagi jaman sekarang, masih ada isterinya saja pada mau kawin lagi."


"Iyo itu kayak sinetron, catatan hati seorang isteri."


"Lah iyo itu, gara-gara helo kiti."


"Pelakor lho."


Dan mereka pun sibuk membahas pelakor vs helokiti.


**------------**


Anisa keluar dari kamar setelah berganti pakaian.


Meski tak bersolek, Anisa yang pada dasarnya sudah cantik alami tetap sudah tampak cantik tanpa riasan wajah.


Anisa tampak berjalan keluar rumah di mana ia mendengar Wisnu tengah berbincang dengan penjaga rumah di sana.


"Nah itu mba Anisa,"


Kata penjaga rumah yang lebih dulu menyadari keluarnya Anisa dari dalam.


Mendengarnya, Wisnu yang semula berdiri membelakangi pintu akhirnya menoleh, yang kini terlihat Anisa berjalan ke arahnya.


"Oh sudah siap Nis?"


Tanya Wisnu,


"Ya, sudah."


Jawab Anisa sembari menganggukkan kepalanya.


Wisnu pun mengajak Anisa berjalan menuju mobilnya.


Dibukakannya pintu mobil untuk Anisa lebih dulu, setelah Anisa masuk mobil dan duduk dengan nyaman, barulah Wisnu menyusul masuk ke dalam mobil juga.


Wisnu tampak duduk di belakang kemudi, menyalakan mesin mobilnya lalu bersiap melajukan mobil meninggalkan pelataran rumah lamanya.

__ADS_1


"Sering ke pantai kan Nis?"


Tanya Wisnu.


Anisa menggeleng,


"Pernah ke pantai, tapi tidak sering."


Ujar Anisa.


"Tidak suka?"


Tanya Wisnu lagi,


Anisa tersenyum sekilas,


"Aku suka pantai, apalagi jika membayangkan melukis di sana, tapi aku tidak sering ke sana karena tak ada yang bisa aku ajak main."


"Ah yah, kamu suka melukis, aku ingat dulu aku pernah melihatmu melukis di halaman samping rumah, yang agak ke belakang, dekat dengan gudang."


Tutur Wisnu,


"Oh yah?"


Anisa terperangah tak percaya, tak menyangka jika Wisnu pernah melihatnya melukis juga.


"Sekarang masih suka melukis?"


Tanya Wisnu.


Anisa menggeleng,


"Kenapa? Bagus lho melukis kan bisa juga menjadi media lain mengekspresikan diri."


Ujar Wisnu,


Anisa menghela nafas.


"Aku berhenti melukis sejak akan kuliah tidak diperbolehkan oleh Abah dan Mbak Faizah mengambil jurusan seni."


"Sayang sekali."


Gumam Wisnu,


"Itu sebabnya, aku tadi menanyakan tentang kegiatanmu mengurus usaha orangtua, apakah itu tidak menjadi beban untukmu sementara itu bukan bidang yang kamu suka."


Ujar Anisa.


Bersamaan dengan itu mereka sampai di pertigaan di mana lampu lalu lintas menyala merah.


Banyak kendaraan berhenti, termasuk mobil Wisnu dan juga sebuah sepeda ontel yang ikut taat rambu lalu lintas, berhenti di lampu merah di samping mobil Wisnu.


Wisnu membuka kaca mobil, dan tampak Mbak Wening yang sempat melihat ada Anisa di samping Wisnu jadi penasaran.


Cepat Wisnu menutup kaca mobilnya, yang bersamaan dengan itu lampu lalu lintas hijau menyala.


"Bukankah perempuan yang duduk itu Mbak Nisa?"


Gumam Mbak Wening yang masih penasaran memandangi mobil Wisnu yang menjauh mendahuluinya.


**-------------**

__ADS_1


__ADS_2