Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
65. Pesona Istimewa


__ADS_3

Sate ayam madura, adalah olahan sate ayam yang memang sudah tak diragukan lagi kelezatannya.


Bahkan saat daging ayamnya masih dibakar saja, aromanya sangat menggoda lidah untuk segera mencicipi.


Ajeng di samping Ridwan terlihat begitu senang karena hari ini ia akan lauk sate.


"Nanti Ajeng mau maem enam tusuk boleh kan Paman?"


Tanya Ajeng pada Ridwan.


Ridwan mengelus kepala keponakannya dengan lembut,


"Tentu saja boleh, sepuluh juga tidak apa-apa, Paman beli tiga puluh tusuk."


Kata Ridwan yang tentu saja semakin membuat Ajeng bersorak senang.


Di saat yang bersamaan, seorang nenek pengemis tampak lewat sambil meminta belas kasih.


Tampak nenek itu tak memakai alas kaki, bajunya kotor, dan tangannya yang memegang plastik bekas bungkusan permen untuk wadah orang memberi sedikit rupiah untuknya tampak gemeteran.


Ajeng memegang lengan Ridwan seraya melihatnya nenek pengemis yang lewat di depan mereka.


Ridwan lantas berdiri, memanggil sang nenek pengemis agar berhenti sebentar.


Diambilnya uang dari saku celananya, lalu diberikannya selembar uang dua puluh ribuan untuk si nenek.


"Maturnuwun nggih mas... maturnuwun..."


Si nenek pengemis mengucap terimakasih berkali-kali, Ridwan mengangguk sambil tersenyum.


Nenek pengemis itu melanjutkan jalannya, begitu si nenek menjauh, penjual sate yang sudah selesai melayani pesanan Ridwan menyerahkan pesanan Ridwan.


Seorang pembeli tiba-tiba menyela,


"Itu tadi nenek pengemis cuma ekting mas, aslinya orang cukup itu, rumahnya bagus, kalau habis ngemis itu di tikungan dekat pasar dia ikut ganti di toilet umum terus naik angkot dari sana."


Kata si pembeli pada Ridwan.


Ridwan tampak tersenyum,


"Tidak apa-apa Mas, saya kan tidak tahu dia bohong, saya niatnya hanya ngasih untuk orang yang meminta-minta, soal bohong itu urusan dia dengan Allah, urusan saya adalah baik sangka jika belum tahu, dan memberi saat sedang ada pengemis sedangkan saya ada rejeki."


Penjual sate mendengar perkataan Ridwan mengangguk setuju,


"Betul Mas, saya dulu juga di kasih tahu orangtua saya, jadi orang jualan itu tidak boleh pelit, kalau ada orang lapar uangnya kurang tak apa kasih saja, kalau ada orang minta-minta kita ada ya kasih saja, kalau ada kucing lapar mereka cuma minta sisa ya kasih saja."


Ridwan tersenyum,


"Alhamdulillah, pantas Bapak dagangannya berkah sekali, sejak tadi saya datang, sampai sekarang pembeli tak mau berhenti."


"Alhamdulillah Mas, rezeki dari Allah, saya inginnya ya semua dinikmati sesuai apa yang diperintahkan Allah."


"Berkah terus nggih Pak."


Ridwan mendoakan dengan tulus, si penjual sate tersenyum,


"Aamiin..."

__ADS_1


Ridwan lantas mengajak Ajeng pulang seusai membayar pesanan satenya.


Ajeng membawa kresek berisi sate kesukaannya dengan semangat dan senyuman yang terus terkembang.


**---------


"Astaghfirullah..."


Iis tampak mengurut keningnya sambil berdiri di samping motornya yang tiba-tiba saja mogok.


Padahal seingat Iis, ia tidak pernah telat ganti oli, terakhir Iis ke bengkel juga sepertinya kata tukang bengkel langganannya motor Iis tidak ada kendala apapun.


Iis melihat jam tangannya, lalu melihat langit yang sudah begitu mendung.


Sekitar lima ratus meter dari motor Iis mogok ada bengkel motor yang masih buka, dan pastinya Iis harus menuntun motornya sampai ke sana.


Iis menghela nafas, niat hati mencari Anisa karena ia khawatir dan kasihan membayangkan Anisa di jalan bingung tidak tahu harus ke mana, malah sekarang dirinya sendiri yang bingung motornya tiba-tiba mogok.


Dengan energi yang masih lumayan tersisa, Iis pun akhirnya menuntun motornya menuju bengkel terdekat.


Sepanjang jalan, ada beberapa pengguna jalan yang berusaha menepi untuk membantu, tapi karena cara mereka bicara seperti setengah menggoda, Iis jadi terpaksa menolak.


Meskipun sebetulnya ia membutuhkan bantuan tenaga, tapi sungguh pantang baginya meladeni laki-laki yang tak punya sopan santun.


Sampai setengah perjalanan, saat sebuah motor kembali menyalip dan berhenti di depan Iis, memaksa Iis menghentikan langkahnya.


"Bu Guru Iis, motornya kenapa?"


Ajeng turun kemudian dari boncengan, Iis jadi salah tingkah.


"Kenapa Bu?"


Tanya Ridwan pula sambil mendekati Iis dan motornya,


"Entahlah, setahu saya beberapa waktu lalu dibawa ke bengkel tidak ada masalah, tapi tidak tahu kenapa sekarang malah mogok."


Kata Iis.


Ridwan akhirnya mencoba membantu mengecek kondisi motor Iis sejauh pengetahuannya saja, karena basic Ridwan bukan anak motor dan juga bukan anak mesin, maka ia tentu tak terlalu tahu banyak.


Setelah memastikan semua yang Ridwan tahu baik-baik saja tapi motornya mogok, walhasil ujungnya tetap harus ke bengkel juga.


"Harus di bawa ke bengkel ya."


Kata Ridwan.


Iis mengangguk,


"Iya di dekat Apotek Sumber Waras itu kan ada bengkel, setahuku dia buka sampai Isya."


Ujar Iis.


"Oh gitu."


"Iya."


Iis mengangguk,

__ADS_1


"Saya yang tuntun saja Bu, panjenengan bawa motor saya boncengin Ajeng."


Kata Ridwan pula.


"Lho, tapi saya... Duh ini merepotkan Pak Ridwan."


Iis tampak tak enak,


Ridwan tersenyum,


"Tidak sama sekali, hanya menuntun sebentar, monggo Bu."


Ridwan mengulurkan kunci motornya, Iis menatap kunci motor di tangan Ridwan, lalu entah kenapa ia juga menatap Ajeng di dekatnya yang nyengir ke arahnya.


"Nanti keburu maghrib Bu, saya ada jadwal pertemuan pembentukan remaja masjid soalnya."


Kata Ridwan pada Iis yang akhirnya mau tidak mau jadi menerima kunci dari tangan Ridwan.


Iis pun menuju motor Ridwan sambil menggandeng tangan Ajeng, lalu naik ke motor Ridwan berboncengan dengan Ajeng.


Ridwan sendiri menuntun motor Iis menuju bengkel yang untungnya memang benar-benar masih buka.


"Wah, ini sih mesinnya, besok sore paling cepat Mas, saya minta nomor hp nya saja, nanti saya hubungi."


Kata Pak pemilik bengkel setelah lima menit menunggunya mengecek motor Iis yang mogok.


Iis yang ikut di sana di sebelah Ridwan buru-buru akan menyebutkan nomornya, tapi Ridwan menghalangi.


"Saya saja Bu, nomor saya saja."


Kata Ridwan.


Lalu Ridwan menyebutkan nama dan nomor hp miliknya yang bisa dihubungi si pak bengkel.


Setelah merasa cukup, Ridwan pun pamit dan mengajak Iis serta Ajeng pulang.


"Saya antar saja Bu pulangnya, tapi kita lewat depan rumah saya saja nggih? Supaya Ajeng bisa turun dulu, takutnya di jalan nanti maghrib, tidak baik anak-anak berada di luar rumah, sunnah Nabi adalah anak-anak berada di dalam rumah ketika waktu Maghrib datang."


Kata Ridwan.


Iis pun mengangguk saja, ia sudah pasrah karena hari sudah terlalu sore, Ibunya pasti khawatir jika Iis tak cepat pulang.


Iis akhirnya duduk di boncengan Ridwan dengan Ajeng sebagai pembatas.


Sore yang mendung dan mulai terlihat akan segera ditinggalkan matahari nyatanya kini terlihat jadi lebih cerah dan terang bagi Iis.


"Bu Iis tahu, kenapa saya larang sebut nomor Ibu sendiri?"


Tanya Ridwan pada Iis ketika mereka sudah dalam perjalanan menuju pulang.


"Saya larang Ibu sebut nomor Ibu sendiri supaya tidak sampai ada laki-laki yang tadi ada banyak di bengkel menjadikan nomor hp Bu Iis untuk main-main, maka dari itu lebih baik pakai nomor saya."


Terang Ridwan, yang tentu itu membuat Iis jadi melongo, karena tak menyangka Ridwan akan berpikir sampai sepeduli itu.


Ya Allah, apakah beliau memang selalu semanis ini pada setiap perempuan? Bagaimana cara hati hamba mengendalikan diri agar tak sampai lebih terpesona pada sosoknya ya Allah. Lindungi saya dari jatuh cinta pada kekasih sahabat saya sendiri ya Allah... Hamba mohon. Batin Iis tak karuan.


**--------------**

__ADS_1


__ADS_2