Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
132. Tersadar


__ADS_3

Keluarga Wisnu sampai di rumah Anisa, mereka membawa hantaran yang sudah jelas tidak biasa.


Tiga rombongan mobil, di mana sekitar sepuluh orang pengiring, membawakan hantaran dari Wisnu dan orang tua untuk Anisa.


Wisnu hari ini terlihat tampan dan gagah dengan atasan batik coklat muda dan celana kain hitam.


Dengan diapit kedua orangtuanya, Wisnu memasuki tempat acara di mana Pak Haji Syamsul yang didampingi keluarga besar, termasuk Mbak Faizah pastinya sebagai putri sulung menyambut dengan senyuman lebar.


Wisnu menghatur salam, sementara Pak Hasan yang selaku wakil dari keluarga untuk bicara tampak maju ke depan menyampaikan sedikit basa basi.


Wakil dari keluarga Pak Haji Syamsul pun juga maju ke depan, mewakili keluarga besar sang tuan rumah untuk memberikan sambutan sebagai bagian ramah tamah.


Setelah semuanya duduk dan terdengar wakil dari keluarga Wisnu lantas kembali menjelaskan maksud dan tujuan mereka datang selain bersilaturahmi, juga ingin meminang secara resmi Anisa Larasati untuk Wisnu, maka Anisa diminta untuk hadir.


Anisa yang malam itu sangat cantik terlihat memasuki tempat acara dan tentu saja langsung menjadi pusat perhatian dari seluruh yang hadir.


Laksana widadari yang turun dari kahyangan, ia berjalan dengan anggun dan pandangan mata tertunduk santun.


Anisa kemudian diminta duduk di samping Pak Haji Syamsul dan juga Mbak Faizah.


Wisnu tak henti menatap Anisa di hadapannya, sungguh ini seperti mimpi untuk Wisnu, karena tiba-tiba saja keinginannya untuk menjadikan Anisa sebagai isterinya menjadi kenyataan.


Iis di tempatnya duduk bersama Ibu tampak berkaca-kaca mengikuti setiap proses lamaran Wisnu dan Anisa.


Meski terkadang ada momen-momen lucu dari keduanya dan membuat yang hadir jadi ikut tertawa.


Seperti salah satunya ketika Wisnu akan memasukkan cincin di jari tangan Anisa, cincinnya malah lepas dan menggelinding ke arah Pak Haji Syamsul.


Iis menghela nafas,


"Semoga setelah ini Anisa bisa tersenyum terus ya Bu,"


Kata Iis lirih.

__ADS_1


Ibunya yang duduk di sebelahnya mengangguk,


"Aamiin."


Kata Ibu mengaminkan.


Acara lamaran Anisa dan Wisnu berlangsung hingga pukul setengah sembilan malam, dan sisanya adalah jamuan makan dan lain-lain.


Iis sendiri dengan Ibu pamit pada Mbak Faizah untuk pulang setelah acara lamaran selesai dan tidak ikut jamuan makan, mereka membawa nasi berkat ke rumah dan juga berapa kue yang Mbak Faizah minta pada pembantunya untuk dibungkuskan khusus untuk Iis dan Ibunya.


Tentu saja, Mbak Faizah bukan orang yang mudah memberi, jika ia sampai memberikan sesuatu, itu jelas karena ia merasa kenal atau suka dengan orangnya.


Meskipun sejatinya, Mbak Faizah juga tidak dalam taraf suka pada Iis, karena pernah mengomelinya soal Anisa, tapi, secara hubungan baik dengan keluarga Iis, memang keluarga Pak Haji Syamsul sebetulnya sudah berhubungan baik sejak Ayah Iis masih hidup.


Anisa sendiri tak sempat menemui Iis lagi begitu acara dimulai, karena ia akhirnya sibuk berbincang dengan Bibi Sundari dan juga keluarga besar Bibi sundari yang ikut mengiring.


Dari situ, Anisa bisa menyimpulkan betapa Wisnu memang di sayangi banyak sekali orang.


Selain memang keluarga besar mereka benar orang-orang baik yang memperlakukan anak yatim dengan istimewa, tapi Wisnu sebagai anak juga jelasnya sangat manut dan manis, hingga tak ada alasan baginya dicela oleh keluarga.


Ya...


**--------------**


"Wan... Ridwan..."


Mbak Wening memanggil Ridwan yang terlihat di kamar masih sibuk membaca laporan perencanaan kegiatan yayasan yang ia pimpin nanti.


Mendengar panggilan Mbak Wening, Ridwan pun beranjak dari tempatnya duduk di depan meja belajar kamarnya, dan segera keluar dari kamar menemui kakaknya.


"Ada apa Mbak?"


Tanya Ridwan.

__ADS_1


"Wan, motormu belum di masukkan ke rumah."


Kata Mbak Wening,


"Ya Allah, iya Mbak... aku lupa,"


Kata Ridwan yang tampaknya memang benar-benar lupa,


Ya...


Tadi Ridwan memang sempat keluar rumah selepas Isya untuk beli obat sakit kepala ke warung, lalu ia tidak langsung memasukkan motornya lagi, dan malah setelah minum obat masuk kamar dan menyibukkan diri membaca laporan dari wakil ketuanya di yayasan.


"Kamu ini, untung Mbak lihat ke depan dulu saat mau ngunci pintu."


Ujar Mbak Wening geleng-geleng kepala.


Ridwan tampak tersenyum tipis saja, ia yakin jika Mbak Wening pasti sudah tahu kenapa Ridwan malam ini tidak fokus hingga lupa kebiasannya memasukkan motor lebih dulu sebelum masuk kamar.


Ridwan keluar rumah, dilihatnya motor pemberian Pak Haji Imron benar masih teronggok di sana.


Ciut hati Ridwan rasanya ketika mendekati motor pemberian Pak Haji Imron tersebut.


Rasanya, Ridwan tiba-tiba jadi semakin merasa kecil dibandingkan Wisnu, yang di usianya yang hanya selisih satu tahun dengannya tapi telah sukses dan memiliki semuanya, sedangkan Ridwan, motor saja dapat dari pemberian.


Ridwan menghela nafas,


Tapi, ia buru-buru ingat ayat dari surah Ar Rahman...


"Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?"


Maka, beristighfar lah Ridwan, merasa begitu berdosa karena telah merasa cemburu atas rezeki orang lain, sedangkan dirinya sebetulnya tak kurang suatu apapun.


Bahkan Allah memberikan kemudahan padanya dalam segala hal, termasuk juga karunia Ilmu serta kepercayaan orang lain padanya.

__ADS_1


Ridwan lantas menuntun motornya ke dalam rumah, hatinya terus berusaha beristighfar karena ketakutannya menjadi manusia yang kufur atas karunia Allah Subhanahu Wata'ala.


**---------------**


__ADS_2