Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
17. Sarapan Bersama


__ADS_3

"Assalamualaikum..."


Ridwan masuk ke dalam rumah membawa satu kantung kresek berisi nasi dan gorengan untuk sarapan.


"Waalaikumsalam..."


"Waalaikumsalam..."


"Waalaikumsalam..."


Jawab Ibu dan Mbak Wening serta Ajeng hampir bersamaan.


Mbak Wening tampak sedang mengepang rambut Ajeng yang panjang, sementara Ibu sedang menonton acara pengajian pagi di salah satu TV.


Ridwan meletakkan kresek berisi nasi megono dan gorengan tahu isi serta pisang goreng di atas meja makan.


"Baru saja aku mau susul Wan, soalnya Bu Wirjo kalau beli nunggu sepi ya pasti nanti keburu siang."


Kata Mbak Wening.


"Iya Mbak, laris sekali, Masya Allah, luar biasa."


"Nah sudah, bantu Pamanmu ambil piring dan sendok Ajeng, Ibu tek bikin teh dulu."


Mbak Wening selesai mengepang rambut Ajeng, perempuan itu kemudian berdiri.


Ajeng menurut berlari ke belakang menuju dapur, untuk mengambil piring dan sendok.


"Zuh... zuh..."


Seekor ayam peliharaan Mbak Wening tampak nangkring di atas pintu dapur yang hanya dibuka bagian atasnya.


Pintu dapur yang menuju halaman belakang itu memang adalah pintu model atas bawah, yang jika pagi, mereka cukup membuka bagian atasnya agar udara tetap bisa masuk, namun bagian bawahnya tetap ditutup rapat menghindari ada ular atau semacamnya masuk rumah.


Ayam di atas pintu kabur ke halaman belakang lagi.


Kok kok betook... kok kok betoook...


Begitulah suara Ayam ngedumel, di mana belum ada translate nya.


Ajeng mengambil empat piring kosong dan empat sendok dari rak piring, baru setelah itu kembali ke ruang makan.


Ajeng memberikan piring-piring itu pada Pamannya.


"Berarti untung bertemu Bu Guru Iis."


Kata Mbak Wening yang membuka jendela di ruang makan tersebut, di mana dari sana terlihat Nanas yang di tanam mulai berbuah.


"Iya, Alhamdulillah tadi ada Bu Iis, kalau tidak ada mungkin baru selesai dilayani jam tujuh lebih."


"Ajeng tidak sarapan dong."


Kata Ajeng nimbrung, membuat Ridwan tertawa kecil.


Mbak Wening berjalan ke arah dapur untuk menyeduhkan air teh.


Di TV pengajian masih berlangsung, Ridwan memberikan nasi uduk untuk Ajeng.


"Maturnuwun Paman."


Kata Ajeng.


"Sami-sami Ajeng."


Kata Ridwan tersenyum.

__ADS_1


Ajeng lalu mencomot pisang gorengnya, ia akan langsung memakannya, saat Ridwan kemudian melihat.


"Hayo, baca doa dulu..."


Kata Ridwan mengingatkan.


"Hehe... iya lupa."


Ajeng cekikikan.


"Allaahumma baarik laana fiimaa rozaqtana wa qinaa 'adzaa bannar"


Ajeng kemudian memakan pisang gorengnya.


"Ajeng tahu kenapa mau makan kita harus doa dulu?"


Tanya Ridwan.


Ajeng mengangguk.


"Karena kata Bu Guru, supaya syetan tidak ikut makan apa yang kita makan."


Kata Ajeng.


Ridwan tersenyum.


"Itu salah satunya, alasan lainnya adalah, doa itu artinya adalah Ya Allah, berikanlah keberkahan atas apa yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka. Lho kok mau makan berlindung dari siksa api neraka? Nah, karena kita tidak tahu, bisa jadi uang yang kita belikan makanan yang kita makan mungkin di dapat dari cara yang kurang benar, misalnya berdagang tapi terlalu banyak mengambil keuntungan, dan banyak lagi contohnya, nanti kalau Ajeng sudah besar Paman kasih contoh lainnya."


Ajeng mendengarkan Pamannya,


"Nah, kita juga bisa masuk neraka sabab kita makan kenyang sendirian, misal, tetangga kita atau saudara kita hari ini tidak ada makanan, kita tidak bagi dengan mereka, sementara kita tidak tahu karena mungkin kita kurang peduli, sementara Allah maha tahu. Kita kenyang sendirian, bahkan sampai buang makanan, kita akan berdoa sebab makanan yang kita makan membuat diri kita kenyang sendirian."


Ajeng mantuk-mantuk, lalu...


Ajeng bercerita, bersamaan dengan itu Mbak Wening tampak menghampiri meja makan membawa nampan dengan empat gelas wedang teh.


"Iya Ajeng, dulu Rosulullah selalu mengajarkan kita tidak hidup berlebihan dan selalu memikirkan sesama, Ajeng tahu, Rosulullah sangat halus hatinya, beliau bahkan rela memberikan makanan pada seorang pengemis yang kelaparan, padahal hanya itu satu-satunya makanan yang beliau miliki."


Ajeng menghabiskan pisang goreng di tangannya sambil mantuk-mantuk,


"Apa Ajeng bisa ketemu Rosulullah, Paman?"


Tanya Ajeng,


"Ajeng ingin salim dengan beliau."


Kata Ajeng pula.


Ridwan tersenyum,


"Ajeng sering baca sholawat, saat belajar misalnya, daripada sambil nyanyi, lebih baik baca sholawat."


"Ajeng tapi suka nyanyi Paman, tapi nyanyi lagi Nasional, berkibarlah benderaku... Lambang suci gagah perwira..."


Ajeng malah jadi nyanyi.


Mbak Wening menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya.


Ridwan pun jadi tertawa kecil.


"Ya tidak apa-apa, lagu Nasional juga bagus biar Ajeng cinta tanah air."


Kata Ridwan.


Ajeng tersenyum.

__ADS_1


"Oh, Mbak, ada plastik tidak Mbak?"


Tanya Ridwan.


"Plastik apa?


Mbak Wening balik tanya.


"Plastik bening yang kecil.


"Ooh, ada, sebentar Mbak ambilkan, buat apa to?"


"Ini, tadi di warung ada kertas penggalan ayat suci mau buat bungkus gorengan."


Kata Ridwan.


"Wah sering itu Wan begitu,"


Ujar Mbak Wening.


"Kalau lihat yang begitu langsung diminta Mbak, itu kan nanti setelah gorengan habis, pasti kertasnya dibuang, kita jadi berlaku tidak memuliakan ayat suci, itu salah satu adab kita sebagai muslim yang sering diabaikan."


Mbak Wening mengangguk.


"Iyo, nanti Mbak ingat-ingat mulai sekarang."


Kata Mbak Wening.


"Ajeng juga ya, kalau jajan lihat bungkusnya ada tulisan ayat Al-Qur'an atau tidak.


Pesan Ridwan,


Ajeng mengangguk,


Mbak Wening pergi ke dapur untuk mengambil plastik yang diminta Ridwan, lalu memberikannya pada sang adik.


Ridwan memasukkan kertas yang ia tadi ambil dari warung Bu Wirjo, untuk nantinya ia simpan di antara buku-bukunya.


"Kalau misal banyak buku-buku bekas, lebih baik kalau mau diloakkan di lihat dulu juga Mbak, misal yang ada tulisa ayat sucinya itu disobek, pisahkan, jangan dicampur."


"Iya Wan."


Mbak Wening mantuk-mantuk lagi,


Mbak Wening meletakkan tiga gelas wedang teh di atas meja, lalu mengganti piring berisi nasi megono ke atas nampan.


Dua gorengan tahu isi dan dua pisang goreng tak lupa di letakkan di atas piring juga di samping bungkusan nasi megono.


Mbak Wening kemudian meletakkan nampan itu di samping Ibunya yang menonton TV.


"Sarapan Bu."


Kata Mbak Wening, tampak Ibu mengangguk.


Setelah itu Mbak Wening kembali ke meja makan,


"Oh Wan, nanti kamu antar Ajeng berangkat sekolah ya, sama mulai hari ini Mbak juga kamu antar jemput saja pakai sepeda, biar nanti sepedanya bisa kamu pakai kalau ada perlu keluar rumah."


Kata Mbak Wening.


"Ooh, enggih Mbak."


Ridwan menganggukkan kepalanya, kebetulan memang dia berencana ke pasar akan beli kemeja untuk nanti gonta ganti mengajar.


**-------------**

__ADS_1


__ADS_2