Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
139. Aminkan To...


__ADS_3

Merasa malu dan aneh sendiri karena tiba-tiba saja seperti menguntit Iis, akhirnya Ridwan berdiri untuk ke meja dagang Bu Saripah.


Ia akan minta kentang gorengnya dalam kemasan saja.


Namun...


Tunggu dulu, Ridwan nyatanya merasa masih saja penasaran pada Iis dan laki-laki muda itu, yang kini malah sekilas Ridwan melihat laki-laki muda itu mengeluarkan surat motor.


Ridwan berjalan meleng, hingga...


"Pak Guru."


Suara Pak Udin tiba-tiba mengagetkan Ridwan yang langsung menoleh ke arah Pak Udin yang berdiri di depannya dan nyaris saja ia tabrak.


"Astaghfirullah, kaget saya Pak."


Lirih Ridwan.


Pak Udin mengulum senyum.


"Itu saudara Mas Trisno sedang transaksi motor dengan Bu Guru Iis, tadi saya sempat ngobrol dengan Mas Trisno."


Ujar Pak Udin seperti berbisik pada Ridwan, seolah paham apa yang tengah mengganggu Ridwan sebetulnya.


Ridwan menatap Pak Udin seolah memastikan bahwa apa yang disampaikannya itu memang benar, dan nyatanya Pak Udin memang bicara seadanya.


Belum sampai Ridwan bicara lagi, tiba-tiba kembali terdengar suara memanggil Ridwan,


"Pak Guru... Pak Guru Ridwan."


Ridwan sontak mengalihkan pandangan ke arah pintu masuk kantin karena suara panggilan itu berasal dari sana.


Di mana Mas Trisno yang kini terlihat tergopoh-gopoh membawa hp Ridwan.

__ADS_1


"Pak, ini tadi ada panggilan dari Pak Haji."


Kata Mas Trisno seraya menghampiri Ridwan dan menyerahkan hp Ridwan.


"Maturnuwun Mas."


Ucap Ridwan saat menerima hp nya yang ketinggalan di ruang Guru.


"Saya tadi dari ruang Pak Kepala Sekolah, kata Bu Asih, itu hp Pak Guru Ridwan ada panggilan dari Pak Haji berkali-kali, saya suruh bawa ke kantin karena Pak Guru Ridwan sedang ada di kantin."


Tutur Mas Trisno.


Ridwan mantuk-mantuk,


"Iya tadi saya bilang ke Bu Asih."


Ujar Ridwan, tampak Mas Trisno tersenyum sambil mengangguk, lalu permisi untuk mendekati saudaranya.


Kata Mas Trisno,


Iis kemudian mengangguk, tangannya tampak memegangi surat-surat motor.


Mas Trisno dan saudaranya kemudian keluar dari kantin setelah menyempatkan diri permisi pada Ridwan yang masih ada di sana.


Iis meraih tas nya, dan akan menyusul mengikuti Mas Trisno dan saudara Mas Trisno, ketika Iis dan Ridwan tanpa sengaja saling berpandangan.


Merasa malu, Iis segera menunduk, lalu permisi pada Ridwan untuk pergi lebih dulu.


Ridwan sendiri tak sempat mengiyakan karena sibuk dengan perasaannya.


Ya, perasaannya yang tiba-tiba saja seperti berubah, atau memang sebetulnya sudah lama hanya saja Ridwan baru menyadarinya.


Ah entahlah, tapi yang jelas...

__ADS_1


"Bu Guru Iis, perempuan satu dari seratus perempuan yang sangat layak dijadikan isteri dan juga calon Ibu untuk anak-anak, kalau anda sedang mencari pasangan, saya sarankan Bu Guru Iis saja Pak."


Ujar Pak Udin pada Ridwan yang kini menatap Iis yang menjauhi kantin menuju parkiran sekolah.


"Saya doakan berjodoh Pak Guru."


Kata Pak Udin, dan....


"Bener to Bu'e?"


Pak Udin ke arah isterinya.


"Ngopo?"


Bu Saripah yang tidak mudeng diajak bicara soal apa jadi bertanya-tanya.


"Itu... Bu Guru Iis, cocok sama Pak Ridwan."


Kata Pak Udin,


"Aduuh... saya tidak enak ini sama Bu Guru Iis nanti Pak, kalau begini."


Ridwan jadi salah tingkah, sebagai pemuda yang masih pemalu, Ridwan diledek begitu saja sudah langsung gugup setengah mati.


"Lho, sopo ngerti jodoh Pak Guru, aminkan saja wong itu perempuan baik kok, nggih to Bu'e?"


Pak Udin ke Bu Saripah lagi, yang kali ini Bu Saripah mengangguk setuju.


Bersamaan dengan itu, terdengar panggilan masuk kembali dari Pak Haji Imron.


Ridwan pun permisi pada Pak Udin untuk mengangkat panggilan dari Pak Haji Imron lebih dulu.


**------------**

__ADS_1


__ADS_2