
Iis di depan rumah terlihat gelisah, Ibunya pergi tidak membawa hp dan sekarang sudah hampir setengah tujuh belum juga pulang.
Ke mana Ibu?
Jangan-jangan ada apa-apa?
Ah tidak!
Jangan.
Apa perlu jemput saja ke warung Bu Hindun?
Tapi, bagaimana kalau ternyata Ibu malah ke pasar dan begitu Iis pergi, Ibu malah pulang.
Ah Iis mondar-mandir macam setrika bingung, matanya bolak-balik melihat ke ujung jalan.
Jika ada suara motor mendekat, Iis berharap itu adalah ojek dan ia pun berharap Ibu yang membonceng, atau jika becak motor yang lewat, Iis berharap Ibu yang jadi penumpangnya.
Tapi, nyatanya hingga setengah tujuh lewat, Ibu tak kunjung terlihat juga, cemas hati Iis bertambah-tambah pula rasanya.
Maka, karena sudah terlalu lama, Iis akhirnya memutuskan untuk menyusul ke warung Ibu Hindun saja, jika nanti ternyata Ibu tidak ada di sana, Iis akan langsung ke pasar.
Iis masuk ke dalam rumah lagi, ia akan mengambil switer, tas, hp, kunci motor dan helm.
Saat kemudian Iis sudah berada di kamar memakai switer, tiba-tiba terdengar suara motor memasuki halaman rumah, suara motor yang tak begitu asing untuk Iis.
Bersamaan dengan berhentinya suara mesin motor di depan rumah Iis, terdengar pula kemudian suara Ibu yang berbicara dengan seseorang.
Iis yang tentu saja lega mendengar suara Ibunya, lantas cepat keluar dari kamar untuk kemudian menuju pintu utama rumah, yang saat Iis akan membukanya, dari luar juga seperti ada yang akan membuka.
Posisi pintu yang jika dibuka arahnya adalah ke dalam, membuat Iis akhirnya yang terpaksa mengalah.
Iis mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang daun pintu rumahnya terbuka.
Dan...
"Assalamualaikum..."
Suara Ridwan pun terdengar nyaris kompak dengan Ibunya Iis yang kini keduanya terlihat berdiri di teras depan.
Iis tentu saja memandang keduanya dengan heran, karena bisa-bisanya tiba-tiba mereka kini muncul bersama.
"Ada orang salam malah bengong."
Kata Ibu akhirnya mengagetkan Iis, yang tentu saja membuat Iis terkesiap dan malu sekali melihat ke arah Ridwan yang tersenyum ke arahnya.
"Wa... Waalaikumsalam..."
__ADS_1
Kata Iis akhirnya,
Ibu ikut tersenyum seperti Ridwan.
Ridwan membawakan tiga kresek belanjaan Ibunya Iis ke dalam rumah, Iis akan membantu, tapi Ridwan menolak.
"Tidak usah Bu, saya saja, ditaruh di mana?"
Tanya Ridwan kemudian, Iis yang jadi gugup malah menunjuk ke arah kamarnya.
"Eh lah, itu kan kamarmu Is."
Kata Ibu yang melihat Iis salah tunjuk.
"Oh maaf, maaf..."
Iis benar-benar makin gugup.
Ridwan tersenyum lagi.
"Di ruang makan saja wis Nak Ridwan, masuk saja itu lurus, nanti ada meja makan ditaruh di situ."
Kata Ibunya Iis akhirnya, karena Iis tidak fokus sama sekali.
"Ibu, kok malah suruh-suruh Pak Ridwan."
Ridwan menoleh sebentar sebelum masuk ke ruang dalam.
"Katanya Pak dan Bu kalau di sekolahan saja."
Seloroh Ridwan yang tampaknya sekarang sudah mulai berani bercanda dengan Iis.
Ibunya Iis jadi terkekeh mendengar selorohan Ridwan.
"Betul itu Nak, harusnya panggilnya Mas."
Ujar Ibu malah menambahkan, membuat Iis wajahnya langsung jadi seperti tomat.
Apalagi Ridwan juga tampak mengangguk, membuat ibunya Iis jadi makin bertambah-tambah tertawa.
Ridwan mengulum senyum, dan melanjutkan langkahnya masuk ke ruang dalam.
Meletakkan tiga kantung kresek belanjaan Ibunya Iis di sana.
"Ibu kenapa jadi merepotkan Mas Ridwan? Kalau mau belanja sebanyak itu harusnya tadi Ibu bilang sama Iis."
Kata Iis pada Ibunya dengan suara lirih saat Ridwan telah masuk ruang dalam, dan Iis sengaja menahan langkah Ibunya dengan memegangi lengan Ibu.
__ADS_1
"Lho, memangnya siapa yang sengaja merepotkan, wong Ibu ketemu Nak Ridwan ini tidak sengaja, cuma karena Nak Ridwan ini perhatian dan pengertian sekali pada orangtua, jadinya ya Ibu dibantu bawa belanjaan itu."
"Ya Allah, Ibu, malu Iis jadinya."
Kata Iis tak enak,
"Lah kenapa malu?"
Ibunya Iis menatap anaknya dengan heran.
"Ya Iis malu Ibu sampai diantar segala ya Allah."
Kata Iis.
Ibunya Iis malah cekikikan,
"Yo ben to, sama calon mantu kenapa malu,"
Ujar Ibu, membuat Iis langsung membulatkan matanya,
"Ibuuu..."
Iis menahan suaranya, sambil menarik baju Ibunya, membuat Ibu terkekeh.
Ridwan keluar dari ruang dalam dan langsung permisi untuk sekalian berangkat ke sekolah.
"Berangkat bareng saja apa Is? Nanti pulangnya kan ke tempat Pak Haji Imron juga, sekalian tek antar lagi."
Kata Ridwan pada Iis.
Iis tampak gelagapan, tidak tahu harus menjawab apa, namun Ibunya yang justeru langsung menjawab,
"Iya Nak Ridwan, betul, kalau rapatnya sampai malam kan nanti susah."
Kata Ibu.
"Lho, Bu... aduh,"
Iis gugup tak jelas.
"Aku tunggu di depan,"
Kata Ridwan lagi, membuat Iis menatap Ibunya yang tersenyum sambil mengangguk setuju.
"Hanya pergi mengajar dan untuk kepentingan yayasan tidak apa-apa Is."
Kata Ibu pada Iis yang akhirnya hanya bisa menghela nafas.
__ADS_1
**-------------**