Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
57. Rencana Allah


__ADS_3

Ridwan hari ini mengawali tugasnya mengajar di kelas tiga dan enam, lalu ia pun mendapat jadwal mengajar pula untuk setiap minggunya.


Ridwan cukup senang dan lega, karena ternyata mengajar di sekolah jauh lebih ringan dibandingkan hanya mengajar ngaji Al-Qur'an yang benar-benar harus sangat teliti ketika melihat anak didiknya mengucap setiap huruf yang ada.


Sekitar pukul sebelas, saat jam pelajaran agama di kelas enam berakhir dan Ridwan keluar dari kelas nyaris bersamaan dengan Bu Guru Iis yang keluar dari kelas lima yang bersebelahan dengan kelas enam.


"Bu, ketemu lagi."


Kata Ridwan menyapa,


Bu Guru Iis yang terlihat berjalan sambil mendekap dua buah buku sejarah untuk kelas lima SD itu tersenyum.


"Jam terakhir pak?"


Tanya Bu Guru Iis.


Ridwan menganggukkan kepalanya.


"Nggih Bu, kebetulan ini hari pertama mengajar langsung dapat dua jadwal, tapi Alhamdulillah sudah selesai semua."


Kata Ridwan,


"Alhamdulillah... Allah memudahkan semua urusan nggih?"


Ridwan tersenyum,


"Iya Bu, Alhamdulillah..."


Ridwan dan Bu Guru Iis berjalan beriringan sambil membicarakan soal bangunan sekolah mereka yang kini memang sedang ada pembangunan satu ruang cukup besar.


Konon itu adalah ruangan khusus untuk anak-anak nanti belajar banyak kesenian tradisional.


Masih hanya sebatas ekstrakulikuler yang akan diwajibkan diikuti siswa seperti pramuka, namun belum akan masuk jadwal pelajaran.


"Jadi nanti ada apa saja yang diajarkan pada anak-anak?"


Tanya Ridwan.


"Kalau tidak salah, nanti ada seni tari, gamelan, ketoprak, karawitan, masih banyak Pak."


"Ooh..."


Ridwan mantuk-mantuk.


"Ya, Pak Kepala Sekolah ingin kita itu juga harus ikut nguri-nguri budaya, karena bagaimanapun ini juga merupakan aset, merupakan warisan leluhur yang sebetulnya menjadi kebanggaan kita sebagai bangsa."


Kata Bu Guru Iis.

__ADS_1


"Saya saja selalu meminta anak-anak untuk lebih mulai mempelajari semua yang berhubungan Negaranya di masa lalu dengan penuh cinta. Saya itu kalau sedang mengajar sejarah, akan mengajak anak-anak ikut masuk ke dalam cerita dulu, saya akan minta beberapa anak memerankan tokoh-tokoh yang kita bahas."


"Anda sepertinya belajarnya sejarah karena anda mencintai sejarah itu sendiri nggih Bu?"


Tanya Ridwan.


Tampak Bu Guru Iis mengangguk,


"Saya jatuh cinta dengan sejarah bangsa kita Pak, saya juga ingin anak-anak minimal merasakan cinta itu juga pada Bangsanya."


"Masya Allah..."


Ridwan tersenyum mendengar jawaban Bu Guru Iis.


Dan, sekali lagi, Ridwan merasa kagum dengan sosok perempuan yang kini ada di dekatnya itu, yang berjalan dengan tenang menuju kantor Guru.


Benar kata orang, cantik wajah itu relatif, namun kecerdasan dan pribadi yang baik, begitu memancar pada seorang perempuan yang sebetulnya wajahnya biasa saja, membuat mereka menarik sekaligus mengagumkan.


Dan itu yang Ridwan rasakan manakala melihat sosok Bu Guru Iis.


**------------**


Anisa di kamarnya yang menangis sampai tertidur tampak terbangun dalam kondisi lemah, ia berjalan sempoyongan keluar kamar.


Anisa berjalan tak tentu arah, rumah terlihat sepi, ia keluar dari rumah melewati pintu utama rumah, berjalan terus keluar dari gerbang seperti orang linglung.


Ia ingin bahagia dengan caranya sendiri, tapi kenapa sepertinya itu haram untuknya?


Gadis itu terus berjalan menyusuri jalanan kampung yang panas.


Hari ini jalanan terlihat sepi, Anisa terus berjalan dan terus saja berjalan, hingga ia sampai ke jalan raya pun ia terus berjalan mengikuti arah kaki melangkah.


Pikirannya sungguh telah kosong, hatinya juga pun begitu.


Tak ada lagi yang benar-benar ingin ia raih saat ini selain kematian, ia sudah muak dengan hidupnya, hidup yang bukan sepenuhnya miliknya.


Anisa menatap nanar jalan raya yang kini tampak kendaraan berlalu lalang tiada henti.


Beberapa supir angkutan menyapa menanyakan tujuan Anisa tapi Anisa malas menjawab.


Sungguh, Anisa tidak menyangka jika Mbak Faizah dan Abahnya akan melakukan semuanya pada dirinya, dan apa yang mereka lakukan pada Mbak Wening sangatlah jahat.


Hancur sudah semuanya, hancur sudah segalanya, hancur sudah semua yang diharapkan Anisa akan jadi titik balik hidupnya berubah menjadi lebih baik.


Tak ada lagi yang bisa Anisa lakukan sekarang, tak ada lagi yang bisa Anisa mimpikan sekarang. Semuanya sudah hancur, rasanya bertemu Ridwan pun Anisa sudah tidak akan sanggup lagi bicara dengannya, apalagi menatap matanya.


Anisa berlinang air mata, sedih yang luar biasa membuat ia kehilangan energi.

__ADS_1


Jalannya tanpa terasa semakin lama semakin sempoyongan, matanya kunang-kunang dan kepalanya seolah berputar-putar.


Anisa yang mulai merasa pandangan matanya kemudian gelap mencoba mencari pegangan, namun ia tampaknya memang sudah tak bisa bertahan, hingga akhirnya ambruk ke jalan.


Sebuah mobil yang kebetulan melintas dari arah yang berlawanan melihat Anisa ambruk langsung berhenti.


Beberapa orang yang ada di sekitar jalan tersebut juga bergerak cepat melakukan pertolongan.


"Maaf... Maaf... Ini saudara saya..."


Orang yang turun dari mobil menahan beberapa orang laki-laki yang akan mengangkat tubuh Anisa.


"Anda tahu siapa dia?"


Tanya mereka.


Laki-laki itu mengangguk,


"Ya."


Laki-laki itu lantas meminta orang membantu membukakan pintu mobilnya saja, agar ia bisa membawa masuk Anisa ke dalam mobil.


Laki-laki yang tak lain adalah Wisnu itu lantas mengucap terimakasih kepada orang-orang yang ikut serta menolong tersebut.


Ya tentu saja, Wisnu yang tadi dari jauh sudah melihat ke arah Anisa yang berjalan sempoyongan seorang diri, tentu saja tak mungkin bersikap tak peduli dan tak menolong.


Apalagi Wisnu melihat dengan matanya bagaimana Anisa jatuh ambruk begitu saja ke jalanan.


Gadis itu seperti dalam keadaan depresi berat, tak bisa dibayangkan jika Wisnu tak tepat melintas di sana.


Wisnu cepat membawa Anisa ke klinik terdekat agar bisa segera mendapatkan pertolongan.


Wajah Anisa yang pucat membuat Wisnu benar-benar khawatir.


Gadis itu, gadis yang berhasil mencuri hatinya sejak lama.


Gadis itu yang baru saja menolaknya kemarin malam, yang harusnya ia bisa membuktikan ia bisa bahagia dengan pilihannya, kini justeru jatuh di jalanan seorang diri.


Sampai di klinik, Anisa langsung oleh petugas dan ditangani dokter jaga.


Tepat saat masuk klinik, Anisa juga untungnya sadarkan diri, setidaknya dengan begitu Wisnu tak perlu terlalu khawatir lagi.


Wisnu duduk di ruang tunggu, menimbang perlukah ia menelfon keluarga Anisa, atau nanti saja menunggu Anisa selesai diperiksa.


Anisa sendiri di ruangan tampak menangis lagi, ia rasanya ingin mati saja dan menyesal kenapa ia masih bisa bangun dan akhirnya masih bisa melihat dunia yang hanya membuatnya muak.


**-------------**

__ADS_1


__ADS_2