
"Assalamualaikum..."
Ridwan terdengar mengucap salam.
Ridwan baru sampai di kantor Guru, saat terdengar beberapa Bu Guru lain sedang sibuk mengobrol di meja salah satu dari mereka.
"Waalaikumsalam..."
Jawab beberapa Ibu Guru yang sedang berkumpul, dan menyempatkan diri mereka untuk sejenak memandang ke arah Ridwan yang memasuki ruangan Guru.
Pak Guru Hasan yang tampak baru saja keluar dari ruangan kepala sekolah sambil menenteng map tersenyum sekilas lalu pada Ridwan yang mengangguk ke arahnya dan berjalan ke mejanya sendiri.
Ridwan menoleh ke arah meja Iis yang tumben masih kosong.
Tidak biasa-biasanya Ibu Guru kesayangan murid-murid itu belum terlihat di sekolahan, sedangkan biasanya Iis selalu berada di sekolahan sebelum yang lain berangkat.
Ridwan meletakkan tas nya di atas meja, lalu melepas jaketnya juga.
"Bu Guru Iis sakit apa Pak?"
Tanya Pak Hasan tiba-tiba,
Ridwan mengalihkan pandangannya ke arah Pak Guru Hasan yang kini sedang menatapnya.
Ya...
Sudah jelas pertanyaan itu ditujukan pada Ridwan.
"Iya Pak, itu Bu Guru Iis sakit apa to? Tumben sampai tidak berangkat lho, biasanya Ibu Guru tauladan."
Kata salah satu Ibu Guru,
Ridwan yang sejatinya tidak tahu Iis sakit bahkan sampai ijin tidak berangkat, jelas kebingungan harus menjawab apa.
"Apa jangan-jangan Pak Ridwan juga belum nengok nih."
Seloroh salah satu Ibu Guru lagi, membuat Ridwan makin bingung harus menjawab apa.
Untungnya, bel masuk para siswa terdengar berbunyi seperti menjadi bel penyelamat.
Semua Guru pun akhirnya berganti fokus untuk menyiapkan diri masuk kelas untuk mengajar.
Ridwan di tempatnya terduduk dan menghela nafas lega.
Semua orang sepertinya benar-benar telah berfikir lebih atas hubungan Ridwan dan Iis.
Ridwan sejenak melihat ke arah meja Iis lagi yang kosong.
Ya kosong...
Ridwan tiba-tiba juga merasa demikian.
Entah kenapa ada satu sisi di dalam hatinya yang terasa kosong tidak mendapatkan Iis ada di sana sebagaimana biasanya.
Sakit apa dia?
__ADS_1
Kenapa sampai tak masuk?
Apa sakitnya cukup berat?
Batin Ridwan khawatir.
Teringat ia kemarin seharian bersama Iis yang sepertinya tidak mengeluh apa-apa. Malah Ibunya yang justeru sempat sakit saat Ridwan mengantar Iis pulang.
Ah' apakah Iis terlalu kelelahan?
Setelah seharian beraktifitas di luar rumah, lalu ia pulang mendapati Ibunya sakit akhirnya Iis tak sempat istirahat demi menjaga dan merawat Ibunya?
Ridwan pun terus memikirkan Iis.
Tak lupa ia pun mengirimkan pesan pada Ibu Guru kesayangan para murid itu.
Mengirimkan pesan yang menanyakan kondisi Iis pastinya, berharap Iis akan segera menjawabnya, tapi ternyata tidak.
Jangankan mendapat balasan, Iis online pun tidak.
Hal ini berlangsung hingga siang hari, hingga Ridwan masuk mengajar dua kelas, dan sampai menjelang seluruh jam pelajaran berakhir, Iis tak kunjung membaca pesan yang dikirimkan Ridwan padanya.
Ridwan pun semakin gelisah, kekhawatirannya akan kondisi kesehatan Iis kali ini semakin menjadi.
Ridwan pun akhirnya memutuskan untuk mampir saja ke rumah Iis, sebelum nanti ia ke kantor yayasan.
Begitu bel pulang berdentang, saat itu pulalah, Ridwan cepat pergi meninggalkan rekan-rekannya lebih dulu.
Menyempatkan diri mampir ke masjid untuk sholat dzuhur, lalu membeli buah dan juga kue untuk dibawa ke tempat Iis.
**---------------**
Pinta Anisa pada Wisnu dalam perjalanan pulang setelah akhirnya mereka nyekar ke makam kedua orangtua Wisnu.
Tampak Wisnu di belakang kemudi menganggukkan kepalanya.
Wisnu sekilas membetulkan letak kacamata hitam yang ia pakai.
Anisa duduk bersandar di kursi dekatnya, menatap jalanan di luar sana.
Musim penghujan masih berjalan, namun herannya jika siang hari, cuaca sangat terik, bahkan matahari seolah berada di atas bumi.
"Mau tambahan oleh-oleh buat di rumah lagi tidak?"
Tanya Wisnu.
Anisa menggeleng sambil menoleh ke arah Wisnu sebentar.
"Tidak usah, oleh-oleh dari Uwak sudah lebih dari cukup. Aku ingin beli buah untuk nanti kita mampir sebentar ke rumah Iis, dia sedang sakit."
Kata Anisa.
"Oh Bu Guru Iis sakit."
Wisnu menanggapi,
__ADS_1
"Iya, dia jarang sekali sakit sebetulnya, kecuali kalau benar-benar kelelahan. Aku pikir dia akan bisa menemaniku memilih baju, ternyata dia malah sakit."
Gumam Anisa.
Wisnu sekilas tersenyum ke arah Anisa, lalu kembali fokus ke jalanan lagi.
Mendengar Anisa membicarakan ingin memilih baju pengantin membuat Wisnu tampak bahagia.
Ia seperti merasa mereka memang sama-sama menginginkan pernikahan tersebut.
Mobil pun terus meluncur untuk menuju kota tempat tinggal mereka.
Ya...
Setelah ini, keduanya akan sangat sibuk menyiapkan semuanya hingga nanti di hari H, dan termasuk Anisa yang akan segera masuk ke masa pingitan.
Hari H yang tinggal beberapa hari saja itu nyatanya tinggal sebentar lagi.
Ini adalah masa-masa di mana keduanya diharuskan semakin memantapkan diri atas pilihan hidup yang akan segera dijalani bersama.
Bukan sebuah permainan yang akan kapan saja bisa berhenti, di saat pemainnya telah lelah ataupun sudah malas bermain.
Lembaran baru untuk sebuah skenario hidup baru, yang tentu saja harus dijalani dengan sepenuh hati, yang sejatinya juga harus dilandasi niat baik karena Allah saja.
Tak ada embel-embel lain selain itu, supaya pernikahan bisa sungguh-sungguh dinamakan ibadah.
"Kamu dan Iis, sudah berapa lama dekat Nisa?"
Tanya Wisnu membuka pembicaraan lagi, mencairkan kebekuan karena mereka terllau sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Lama, sudah sangat lama, mungkin tak jauh berbeda dengan aku mengenalmu. Iis dan keluarganya adalah warga pendatang, tapi karena memang mereka orang-orang yang baik, jadi tak heran langsung diterima oleh semua warga."
Tutur Anisa.
Wisnu mantuk-mantuk, ia belum mengenal jauh sosok Iis, tapi saat melihatnya datang ke rumah bersama Ridwan, rasanya hanya melihatnya sekilas saja, sudah bisa dilihat sosok Ibu Guru itu adalah memang sosok yang baik.
Bahkan...
Jika dilihat baik-baik, Iis sangat serasi dengan Ridwan.
Pembawaan mereka sama-sama tenang, mereka juga sosok yang bersahaja dan rendah hati, ini bisa dilihat dari tutur kata dan sikapnya.
"Aku senang kamu memiliki teman baik seperti Iis, memang teman tak usah terlalu banyak, karena sebetulnya memiliki sedikit teman yang bisa seperti saudara jauh lebih baik daripada memiliki banyak sekali teman tapi tak ada satupun sebetulnya dari mereka yang tulus."
Ujar Wisnu.
Anisa mengangguk,
"Iya, Iis adalah satu-satunya teman yang aku miliki, dan dia bukan hanya sebagai teman, tapi juga saudara. Saat aku down, selalu dialah yang menguatkan, saat aku butuh support lebih, dia juga yang akan selalu ada. Dia adalah saudara perempuanku."
Kata Anisa dengan senyum merekah.
Ya...
Saudara perempuan, yang seharusnya saat seorang saudara perempuan bahagia kita juga ikut bahagia bukan?
__ADS_1
Anisa tiba-tiba saja hatinya terasa aneh ketika memikirkannya.
**-------------**