
Pemberian hadiah dari keluarga Sahudi untuk Ridwan pun tentu saja langsung menjadi perbincangan hangat, apalagi Ridwan langsung membuat rumah kediaman Pak Sahudi yang semula hampir terbengkalai langsung di tempati santri yang memang khusus ia jadikan penghuni rumah besar tersebut terlebih dahulu.
Ya...
Rumah besar yang semula seperti tak terurus lagi itu kini terlihat kembali hidup dengan dibukanya penerimaan santri laki-laki untuk belajar agama.
Meskipun Ridwan belum berani menerima terlalu banyak, karena beberapa ruangan yang semula untuk kamar para pembantu hanya sekitar lima ruangan saja.
Masyarakat di sekitar rumah Pak Sahudi tentu saja menyambut baik hal itu, selain karena dengan begitu lingkungan mereka menjadi ramai santri, mereka juga sangat senang karena rumah yang semula dikira akan menjadi rumah angker justeru malah akan menjadi pusat mengkaji ilmu agama.
Keputusan Ridwan ini nyatanya disambut sangat baik oleh berbagai pihak, yang semakin bertambahlah kebahagiaan anak-anak Pak Sahudi, yang otomatis juga menjadi kebahagiaan Pak Haji Imron yang merasa telah membuat keputusan terbaik dengan menyerahkan amanah pak Sahudi sejak awal, dan pun juga kebahagiaan Ridwan pula yang merasa bersyukur tak membuat orang yang telah memberikan kepercayaan menjadi kecewa.
Sampai di titik di mana Ridwan sudah mengurus yayasan dan semua yang diamanatkan padanya dengan baik, maka sampailah Ridwan pada satu momen di mana ia juga merasa itu tak kalah pentingnya.
Ya tentu saja...
__ADS_1
Menikah.
Setelah semua urusan mulai selesai satu persatu, pondok mulai dipenuhi Santri, rumah tahfidz mulai berjalan maksimal, Ridwan akhirnya bersama Ibu dan Mbak Wening, serta didampingi Pak Haji Imron, datang ke rumah Iis untuk melaksanakan lamaran.
Acara lamaran yang sederhana tentu saja, yang hanya dihadiri orang-orang dari keluarga dan tetangga dekat saja.
Dari lamaran tersebut, kemudian disepakati bahwa mereka akan melaksanakan pernikahan dalam waktu kurang dari tiga Minggu lagi.
Hal ini mengingat karena Ridwan dan Iis bekerja di sekolahan yang sama dan juga di yayasan yang sama.
Kedua Ibu dari masing-masing juga merasa bahwa pernikahan Ridwan dan Iis memanglah sudah tak ada alasan untuk ditunda lagi.
Mereka sebagai Ibu sudah sangat cocok dengan calon menantu masing-masing.
Ridwan dan Iis yang notabene menjadi anak memang selalu berbakti pada orangtua, tentu saja tak merasa perlu menyanggah apalagi menentang.
__ADS_1
Meskipun Iis sempat menyinggung soal akan segera mulai aktif kuliah pasca sarjana, Ridwan dan keluarga merasa tak berkeberatan karena hal itu tentunya tak bertentangan dengan agama.
Bahkan justeru, mencari ilmu adalah sebuah anjuran juga, ilmu umum dan ilmu agama memang harus dimiliki manusia agar hidupnya bisa seimbang di dunia maupun di akhirat.
Agar pula, menjadi manusia juga bisa bermanfaat untuk umat.
Keputusan rencana pernikahan itupun akhirnya disepakati kedua belah pihak, yang setelah hari lamaran, kedua keluarga langsung sibuk mempersiapkan semuanya.
Dari pergi ke tukang rias, pesan undangan, pesan bahan makanan untuk membuat berkat, pesan tukang rewang masak, dan banyak lagi yang lain.
"Tidak usah yang terlalu mewah dan berlebihan, buat Iis pernikahan toh yang terpenting adalah ijab qobulnya, dan tentu saja niat Mas Ridwan menikahi Iis karena Allah saja. Karena, dengan alasan itulah, semoga Allah ridho atas pernikahan kita, dan dengan itu pula, kita dijauhkan dari musibah serta ujian yang terlalu berat untuk kita hadapi di dalam pernikahan."
Begitulah Iis menyampaikan isi hatinya kepada Ridwan, yang lantas membuat Ridwan semakin bertambah-tambah yakin jika Iis adalah memang pilihan yang terbaik.
"InshaAllah, saya bermaksud menikahimu karena Allah saja, Iis, untuk kita meraih ridho Allah bersama."
__ADS_1
**--------------**