
"Wis ben ngunu wae lho, sebentar lagi juga paling Ridwan pulang."
Kata Ibu pada Mbak Wening yang tadinya akan menutup piring-piring lauk makan malam milik Ridwan yang memang sengaja dipisahkan, karena Ridwan saat jamaah maghrib di mushola biasanya akan sampai Isya sekalian.
Lauk sayur nangka pedes dan tempe goreng tanpa tepung serta kerupuk itupun akhirnya dibiarkan oleh Mbak Wening sebagaimana yang disuruh Ibunya.
Mbak Wening pun setelah itu berjalan ke depan TV dan duduk selonjoran di atas tikar yang digelar.
TV tampak menyala memperlihatkan sinetron yang setiap hari selalu ditonton Ibu.
"Jangan keseringan nonton sinetron Bu, nanti jadi inginnya hidup mewah."
Kata Mbak Wening.
"Healaah, kenapa harus ingin, kita saja sudah mewah kok."
Sahut Ibu,
"Hmm mewah kita mah mepet sawah Bu."
Seloroh Mbak Wening, membuat Ibu jadi terkekeh-kekeh,
"Nah itu sudah tahu kok."
Kata Ibu pula di sela tawanya.
Mbak Wening kini mulai menarik satu bungkus plastik besar berisi keripik tempe yang akan ia kemas.
"Besok Wening mau pesan tulisan di Rahma Computer-Fotokopi."
Kata Mbak Wening.
"Lho, kamu kan bisa nulis, kenapa tulisan saja harus pesan?"
Tanya Ibu.
"Lah bukan tulisan tangan ceker ayam Wening lah Bu, ini tulisan yang nanti kita masukkan ke plastik Bu, supaya keripiknya Wening itu makin cetar."
Kata Mbak Wening.
"Ooh yang dikasih nama?"
Tanya Ibu, yang lantas Mbak Wening mantuk-mantuk.
"Ya bagus itu Ning, Wening keripik? Atau Keripik Mbak Wening?"
Tanya Ibu lagi, membuat Mbak Wening jadi balik terkekeh.
"AWE keripik Bu, namanya."
"Awe-awe?"
Mendengar selorohan Ibunya, tampak Mbak Wening jadi tertawa.
"Ajeng Wening to Bu, malah awe awe lho nanti jadinya kalong wewe."
Kata Mbak Wening.
"Eh lah, ngomong kalong wewe jadi ingat anakmu ke mana tadi diajak pergi belajar kelompok dari habis maghrib kok belum pulang?"
Ibu menabok lengan Mbak Wening begitu mengingat keberadaan cucu satu-satunya.
"Lho kan tadi Ajeng sudah bilang pulangnya sekalian sama Pamannya, itukan Ridwan kalau pulang juga lewat depan rumah si Nurul, Bu."
Ujar Mbak Wening.
"Yo namanya jaga-jaga, jaman sekarang kok."
Kata Ibu,
"Ya wong tadi mau Wening ajari tidak mau, diajari nulis hanacaraka katanya Ibu nulis biasa saja sering salah,."
__ADS_1
"Lho yo genahan, memang begitulah nyatanya."
Ibu jadi terkekeh lagi.
Mbak Wening menghela nafas, tampak ia pasrah dikatai terus oleh Ibunya.
Mbak Wening lantas mulai memindahkan keripik tempe dari plastik besar ke dalam plastik-plastik kemasan untuk keripik tempe berat setengah kilo gram.
"Tadi Bu guru Iis dikasih keripik tempenya tidak?"
Tanya Ibu.
Mendengar pertanyaan Ibu, tampak Mbak Wening jadi kaget,
"Oalah iyaya Bu, kok Wening lupa ya."
Kata Mbak Wening.
"Lha kamu ngomong sendiri malah lupa sendiri,"
Ibu yang membantu Mbak Wening merekatkan plastik keripik tempe dengan api dari lilin terlihat geleng-geleng.
"Ya soalnya tadi kok bolak balik ke depan, lihat Ridwan sama Bu Guru Iis ngobrol tidak enak mau menyela Bu, lagipula kan kita itu memang harusnya tidak sampai ganggu mereka yang sedang dalam tahap pendekatan."
Ujar Mbak Wening,
"Kamu ini, ujungnya selalu ke sana, wong Ridwan itu sama Bu Guru Iis kan teman sesama guru di sekolah, yo wajar kalau mereka sekarang dekat, jangan mikir macam-macam dulu, kita juga tidak tahu perasaannya Ridwan, Ning."
Kata Ibu mengingatkan.
"Lho Ibu ini, kan kita sudah sepakat kalau Ridwan itu jangan sampai tenggelam dalam lautan cintanya pada Anisa lagi."
"Eh lah, kamu malah nyumpahi adikmu tenggelam di lautan."
Ibu pun sontak menabok lengan Mbak Wening lagi.
"Ya Allah Ibu, kalau ngantuk tidur saja wis."
"Lho itu tadi kamu bilang Ridwan tenggelam ke dalam lautan kok."
"Duuuh, itu asbak Bu... asbak... kayak syair, itu lho yang kayak Arya Dwipangga."
Ujar Mbak Wening lagi.
Ibu tampak mengerutkan kening, ia merasa ada yang aneh, kenapa asbak kayak syair? Bukannya asbak itu yang ada di meja untuk tempat abu dan puntung rokok?
"Wening juga tadi pas ambil uang dan antar keripik punya Bu Warung depan rumah Pak Haji Syamsul lihat Anisa kok."
Kata Mbak Wening akhirnya,
"Lha kan itu rumahnya depannya yo mesti lihat."
Sahut Ibu.
"Bukan begitu Bu, aku lihat Anisa itu pergi lho sama laki-laki pakai mobil. Ini kali kedua Wening lihat mereka Bu, pasti mereka punya hubungan istimewa Bu, makanya yo mending Ridwan tidak usah berharap apapun lagi dengan Anisa itu lagi."
Mbak Wening berapi-api.
Ibu jadi menatap ke arahnya,
"Pokoknya Wening merasa Ridwan hanya cocok dengan Bu Guru Iis, Bu. Cari anak gadis macam Bu Guru Iis itu sekarang susah lho Bu, mau cari di mana lagi coba Bu... Wis itu saja, mumpung ada di depan mata. Bila perlu nanti Wening yang bilang ke Ibunya Bu Guru Iis biar anak gadisnya kita pesan buat Rid..."
"Assalamualaikum..."
Tiba-tiba terdengar suara Ajeng yang bersamaan dengan derit pintu depan yang terbuka.
Ibu langsung menabok paha Mbak Wening agar tidak membahas soal Bu Guru Iis dan Anisa lagi.
"Ibuuuu, Mbaaaah... Ajeng beli es krim dong."
Ajeng pamer es krim di tangannya.
__ADS_1
"Pasti malak Paman?"
Mbak Wening geleng-geleng menatap anaknya yang kini menghampirinya dan menyalami serta mencium tangannya bergantian dengan tangan si Mbah.
"Ikh Ibu sukanya menfitnah, kan Ajeng dibelikan Paman karena Paman kasihan sama Bapak penjual es krim yang kelilingan itu tadi papasan di jalan mau pulang."
Kata Ajeng.
"Teman-teman juga dibelikan."
Tambah Ajeng pula.
Mbak Wening akan komentar, saat terdengar suara Ridwan mengucap salam kemudian.
"Assalamualaikum,..."
"Waalaikumsalam..."
Jawab semuanya,
Ridwan mendekati Ibu dan Mbak Wening untuk salaman juga, baru setelah itu mengusap kepala Ajeng sambil lalu menuju kamarnya.
Ibu dan Mbak Wening sejenak saling berpandangan, mereka langsung dipenuhi tanda tanya.
Kenapa Ridwan?
Kenapa ia tampak murung?
Apa ada masalah?
Soal apa?
Ibu jadi khawatir, begitupun juga dengan Mbak Wening.
"Ini pasti karena suaramu yang macam terompet tahun baru Ning..."
Kata Ibu,
"Lho, kenapa sama suaraku sih Bu?"
Mbak Wening protes.
"Itu tadi kamu ngomong macam-macam mungkin Ridwan bisa dengar."
Kata Ibu.
Mbak Wening menghela nafas,
"Tidak mungkin to Bu, wong Ridwan juga masuk rumah setelah Ajeng kok."
kata Mbak Wening membela diri.
"Coba tadi Ajeng bisa dengar Ibu bilang apa?"
Tanya Mbak Wening.
"Bilang apa Bu?"
Ajeng balik tanya bingung sambil menikmati es krimnya.
"Itu tadi."
Kata Mbak Wening.
"Ooh... yang Tidak mungkin to Bu, wong Ridwan juga masuk rumah setelah Ajeng kok?"
Tebak Ajeng yang bersamaan dengan Ridwan keluar lagi dari dalam kamar.
"Piye Mbak?"
Tanya Ridwan pada sang kakak.
__ADS_1
**----------------**