Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
80. Pertentangan Batin


__ADS_3

"Pak Karto lebih baik mandi, lalu wudhu trus sholat, baca surah pendek, An-Nas, Al-falaq, sama Ayat qursi, tiupkan ke telapak tangan lalu diusap ke seluruh tubuh, itu ruqyah mandiri Pak Karto, untuk antisipasi supaya Pak Karto tidak diganggu lebih jauh. Itu tadi mungkin Karto karena setengah melamun, atau bisa jadi Pak Karto aslinya lelah tapi dipaksa jalan, dan Pak Karto lupa baca doa saat keluar."


Kata Ridwan.


Pak Karto mantuk-mantuk,


"Wah enggih leres Mas Ridwan, saya memang lelah sekali badannya, rasanya seperti kurang fit."


Ridwan mantuk-mantuk,


"Enggih Pak, tidak perlu takut pada mereka karena mereka juga mahluk Allah, tapi tidak takutnya kita itu jangan menantang atau meremehkan atau juga mengabaikan yang diajarkan Nabi untuk kita berlindung pada Allah atas gangguan dari mereka yang tak kasat mata."


Tampak Pak Karto mengangguk mengerti.


"Berarti Mas Ridwan percaya kan nggih?"


Tanya Pak Karto kemudian,

__ADS_1


"Oh nggih Pak Karto, saya percaya jika mereka bangsa mahluk tak kasat mata dari bangsa jin memang ada, karena sudah dijelaskan jika Allah menciptakan manusia dan juga jin melainkan semata-mata untuk ibadah. Jadi mereka memang diciptakan, dan itu berarti memang ada, kita wajib percaya atau mengimani adanya mereka sebagai ciptaan Allah juga. Hanya saja percaya pada apa yang mereka katakan, apalagi bersekutu dengan mereka, itu yang tidak boleh."


Ujar Ridwan menjelaskan, Pak Karto pun mantuk-mantuk.


"Jadi soal tadi saya melihat banyak sekali mobil terparkir dan mobil kita tidak ada itu saya kenapa ya Mas?"


Pak Karto merinding karena mengingat kejadian barusan.


Untunglah ia seperti diingatkan agar istighfar hingga akhirnya bisa kembali ke alam nyata.


"Wallahu alam Pak Karto, hanya Allah yang benar-benar tahu apa yang terjadi, mungkin Pak Karto masuk ke alam jin, atau juga Pak Karto sedikit berimajinasi karena lelah kadang juga membuat kita tidak bisa fokus. Yang penting sekarang Pak Karto sudah kembali, lebih baik sekarang mandi, sholat lalu ruqyah mandiri."


Pak Karto akhirnya menurut, ia cepat meraih handuk dan segera menuju kamar mandi.


Ridwan tampak menghela nafas, ia memandangi seluruh sisi kamar hotel tempat ia menginap yang terlihat jelas jika menginap di sana butuh merogoh saku yang sangat dalam.


Tapi...

__ADS_1


Tentu saja, alam para jin berdampingan dengan manusia di manapun berada, meskipun itu adalah di gedung mewah sebagaimana gedung Alpha Centauri Hotel ini.


**---------------**


"Oh jadi Pak Ridwan itu sekarang di Jakarta untuk serah terima dengan keluarga almarhum Pak Sahudi?


Tanya Ibunya Iis begitu anak gadisnya pulang dari rumah Mbak Wening dan langsung menceritakan beberapa hal, di mana diantaranya adalah pesanan keripik akan langsung di garap dan juga tentang Ridwan yang ternyata akan jadi pengelola yayasan dan juga beberapa sawah yang kelak akan jadi sarana pendukung pembiayaan Yayasan.


"Luar biasa ya ustadz muda itu, Ibu rasanya semakin kagum dan berharap ia akan jadi jodohmu kelak Is."


Kata Ibu pula, membuat Iis kali ini jadi tersipu malu, meski diam-diam dalam hatinya mengaminkan kata-kata Ibunya,


Tapi...


Astaghfirullah, Iis... Iis, dia milik sahabatmu Is, sadarlah, jangan tamak. Iis mengingatkan dirinya agar jangan sampai ia jadi sahabat yang tega menikung sahabatnya sendiri.


Bukankah sahabat juga termasuk saudara? Batin Iis yang terus menerus selalu ada pertentangan.

__ADS_1


**------------**


__ADS_2