
Sekitar pukul dua siang, saat Ridwan akhirnya sampai di rumah Iis yang tampak sepi.
Hanya motor Iis saja tampak di luar rumah dan juga jemuran dari besi yang tampak ada seprei dan mukenah serta beberapa baju yang dijemur berkibar-kibar tertiup angin.
Ridwan menghentikan motonya dekat pagar bambu rumah Iis dan juga dekat plang rumah les milik Iis.
Tampak pemuda itupun turun, saat bersamaan Mbak Tiwi keluar dari rumahnya sambil menggendong satu kucingnya dengan gendongan bayi.
Kucingnya sangat menurut, lucu macam ia sedang membawa boneka saja.
"Mas,"
Sapa Mbak Tiwi ramah, Ridwan mengangguk seraya tersenyum ramah pula.
Ridwan berjalan ke arah pintu utama rumah Iis untuk kemudian mengetuk pintunya sambil tentu saja mengucap salam.
Tak lama, terdengar suara langkah mendekati pintu, dan kemudian pintu pun terbuka.
"Waalaikumsalam..."
Ibunya Iis menjawab salam sambil mengajak pintu. Tampak ia berdiri di tengah bingkai pintu seraya tersenyum ke arah Ridwan.
"Bu,"
Ridwan menyalami Ibunya Iis dengan sopan.
"Masuk nak."
Kata Ibunya Iis mempersilahkan,
Ridwan menurut masuk, tangannya membawa dua kantong kresek berisi oleh-oleh.
"Mau ketemu Iis?"
__ADS_1
Tanya Ibu basa-basi, Ridwan mengangguk sambil tersenyum sedikit malu sebetulnya.
Entahlah...
Hatinya menuntunnya sampai ke tempat ini, karena ia memang sungguh khawatir dengan kondisi Iis.
"Iis masih demam Nak Ridwan, jadi masih Ibu suruh tiduran saja."
Kata Ibu.
Ridwan lantas meletakkan oleh-oleh yang ia bawa di atas kursi ruang tamu,
"Ini untuk Ibu dan Iis nggih Bu."
Kata Ridwan.
"Laah, kok yo repot-repot to nak Ridwan, kalau mau datang yo datang saja, tidak usah bawa-bawa begini."
Ujar Ibu.
Kata Ridwan berbohong.
Ibu yang paham Ridwan hanya mencoba memberi alasan saja tampak tersenyum,
"Yo wis, maturnuwun Nak,"
Kata Ibu.
Setelah itu Ibunya Iis mengajak Ridwan untuk menjenguk Iis sebentar di kamar.
Tapi...
"Tidak apa-apa Bu, tidak usah, kalau memang Iis sedang istirahat saya pamit langsung saja,"
__ADS_1
Kata Ridwan yang tentu saja tidak enak jika ada acara masuk kamar seorang gadis segala, tapi manalah Ibunya Iis mengijinkan Ridwan pulang begitu saja.
Ibunya Iis tentu saja melarang Ridwan pulang, dan meminta Ridwan duduk saja jika memang tak mau masuk kamar biar Ibu bangunkan Iis saja.
Ridwan yang jadi merasa simalakama akhirnya memilih mengikuti Ibu menjenguk Iis saja di dalam kamar, daripada membangunkan Iis yang sedang sakit dan harusnya butuh istirahat lebih.
"Dia baru minum obat dari Bu Bidan, tadi ke sini pas mau dzuhur, semoga nanti demamnya turun."
Kata Ibu dengan suara lirih pada Ridwan manakala mereka masuk ke dalam kamar Iis dan mendapati Iis tidur lelap.
Ridwan yang baru pertama kali melihat gadis tertidur langsung memutuskan menunduk untuk menjaga pandangannya, apalagi Iis kini tidak memakai jilbab, Ridwan tentu saja merasa sangat berdosa telah menikmati kemolekan sosok seorang gadis di saat ia tertidur sementara jelas-jelas ia belum berhak.
Ridwan tampak gugup permisi keluar dari kamar, ia kemudian memilih duduk di kursi ruang tamu dan berusaha menenangkan diri.
Ibunya Iis keluar dari kamar dan menyusul Ridwan yang kini duduk di ruang tamu rumahnya.
"Ibu buatkan teh saja ya, sebentar."
Kata Ibu yang kemudian berbalik masuk ke ruang dalam.
Ridwan belum sempat menjawab apapun, Ibunya Iis sudah masuk saja.
Ridwan mengusap dadanya sebentar yang berdebar-debar tak menentu.
Bayangan Iis tertidur di atas tempat tidur rasanya kini begitu mengganggunya.
Ya...
Ridwan sadar bahwa dirinya laki-laki normal yang mungkin memang sudah saatnya menikah.
Menikah...
Ya menikah.
__ADS_1
**------------**