Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
23. Tetap Semangat


__ADS_3

Ridwan dan Mbak Wening begitu sampai di rumah langsung bergantian ke kamar mandi.


Setelah mandi, Ridwan terlihat gelisah karena hujan masih turun deras.


"Telfon saja Pak Haji Imron, kalau ada anak satu saja yang berangkat, kamu tetap harus datang memenuhi tugasmu Wan."


Kata Ibu menghampiri Ridwan yang terlihat berdiri di pintu seraya memandangi hujan yang turun seolah tak mau berhenti.


"Nggih Bu, coba Ridwan telfon Pak Haji."


Ridwan lantas pergi ke kamarnya, mengambil hp miliknya yang jarang sekali ia gunakan selain untuk melihat video pengajian, atau membaca beberapa artikel yang dirasa Ridwan penting.


Ridwan mencari kontak Pak Haji Imron, setelah ditemukannya, segera ia hubungi beliau.


"Assalamualaikum pak Ustadz,"


Terdengar langsung salam dari Pak Haji kepada Ridwan manakala beliau mengangkat telfon Ridwan.


"Waalaikumsalam warrohmatullahi wabarokatuh."


Jawab Ridwan.


"Nuwunsewu Pak Haji, ini hujan deras sekali, nopo sudah ada anak yang berangkat? Kalau sudah ada, saya juga akan berangkat sekarang Pak Haji."


Kata Ridwan.


"Oh nggih Pak Ustadz, ini ada tiga anak yang sudah datang, mereka tetap datang meskipun hujan."

__ADS_1


"Subhanallah, nggih Pak Haji, Alhamdulillah kalau ada anak-anak yang sepertinya sangat ingin menuntut ilmu seperti itu, nggih niki inshaAllah saya langsung berangkat Pak Haji, maturnuwun."


"Nggih Pak Ustadz, sami-sami."


"Assalamualaikum."


Ridwan ganti menutup telfonnya dengan salam.


"Waalaikumsalam warrohmatullahi wabarokatuh."


Ridwan lantas menutup panggilan telfonnya begitu Pak Haji Imron selesai menjawab salamnya Ridwan.


Sungguh indah ajaran agama, ketika bertemu atau akan berbicara, atau masuk ke sebuah rumah, umat muslim dianjurkan saling mengucap salam untuk saling mendoakan keselamatan.


Bahkan ucapan salam itupun berlaku bukan hanya untuk yang masih hidup, namun juga kepada para ahli kubur, yaitu saudara-saudara kita yang telah wafat manakala kita melewati atau masuk ke sebuah area pemakaman.


Ridwan tampak meraih pecinya, lantas ia pun mengambil tas selempang yang macam pegawai pos jaman dulu di mana di sana ada beberapa buku.


Ridwan keluar dari kamar, dan mencari payung di dapur.


Kebetulan Mbak Wening berada di sana tengah merebus air untuk mengisi termos karena dua termos tadi digunakan semua isinya untuk mandi mbak Wening dan Ridwan bergantian agar tak sampai masuk angin akibat hujan-hujanan dari rumah Pak Haji Syamsul.


"Mbak, pinjam payung nggih."


Kata Ridwan seraya mengambil satu payung berwarna biru tua dari gantungan dekat pintu.


"Lho, pakai saja to."

__ADS_1


Kata mbak Wening.


Ridwan tersenyum.


"Apa mau tetap mengajar Wan hujan deras begini?"


Tanya Mbak Wening mengikuti langkah Ridwan masuk ke ruang tengah,


"Ya harus mengajar kalau ada murid yang sudah datang, tidak patut seorang Guru mengabaikan tugas dan kewajibannya, tentu tidak baik mematahkan semangat anak-anak yang tetap berangkat karena saking inginnya mengaji."


Kata Ibu yang duduk di ruang tengah, di kursi depan TV meskipun tidak berani menyalakan TV di kala hari tengah hujan deras begini.


Ridwan mengangguk mengiyakan tanda setuju dengan apa yang disampaikan Ibunya.


Ridwan menyalami tangan sang Ibu untuk pamit pergi mengajar di tempat Pak Haji Imron, baru kemudian menyalami Mbak Wening.


"Ajeng, apa perlu tek bangunkan? Sepertinya dia ketiduran saat belajar dan menunggu Pamannya pulang."


kata Mbak Wening.


Ridwan menggeleng.


"Tidak usah Mbak, nanti Ajeng bisa mengaji selepas maghrib."


Kata Ridwan.


Mbak Wening pun mengangguk.

__ADS_1


**---------------**


__ADS_2