Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
153. Mampir Besan


__ADS_3

Ridwan jalan-jalan pagi dengan Pak Karto, supir Pak Haji Imron yang hari ini kebetulan menginap di rumah Pak Haji.


"Jadi pondok untuk anak yatim dan duafa juga sudah bisa berjalan ya Mas?"


Tanya Pak Karto pada Ridwan sambil berjalan-jalan menyusuri jalanan kampung tembusan belakang masjid yang nantinya akan sampai di pertigaan dekat tikungan di mana Ajeng jatuh.


Beberapa Ibu yang berpapasan menyapa Ridwan dengan ramah, sementara ada beberapa anak kecil yang setiap sore mengaji di tempat Pak Haji Imron tampak berlarian berebut salim dengan Ridwan.


"Mampir pak Ustadz,"


Seorang Ibu bahkan ada yang dengan ramah mempersilahkan Ridwan mampir, Ridwan tampak tersenyum dan menolak dengan sopan.


"Panjenengan ini Mas, tinggal milih anak gadis mana yang ingin dipinang, tampaknya semua orangtua akan langsung ACC."


Ujar Pak Karto,


Ridwan yang mendengarnya jadi tertawa kecil.


"Kata siapa Pak... Pak..."


"Lho iyo, wong lihat saja, sepanjang jalan, setiap ketemu Ibu-ibu selalu pads menyapa dengan ramah, setiap ketemu anak-anak pada berlarian minta salim, setiap ketemu anak gadis pada curi-curi pandang tapi malu-malu kucing."


Kata Pak Karto, yang membuat Ridwan tambah tergelak.


Keduanya terus berjalan menyusuri jalanan sempit di antara dua kebun yang sepi untuk nantinya bisa sampai dekat tempat Ajeng jatuh.


"Mas,


Panggil pak Karto,


"Oh nggih Pak."


"Kira-kira itu kalau masuk pondok yang khusuk anak yatim dan duafa dipungut biaya apa tidak ya Mas?"


Tanya Pak Karto, dan segera dijawab oleh Ridwan sebuah gelengan kecil.


"Mboten to Pak Karto, kalau dipungut biaya namanya sama saja saya bisnis.'


Ujar Ridwan.


"lho, jadi semua gratis Mas?"


Tanya Pak Karto lagi memastikan.


Ridwan mengangguk,


"Leres Pak Karto."

__ADS_1


Ridwan dan Pak Karto pun meneruskan jalan-jalan mereka melewati jembatan kecil untuk kemudian sampai di jalan kampung yang menuju rumah Ridwan.


Tak jauh dari sana ada tikungan yang Ajeng jatuh, mereka pun melewatinya.


Ridwan dan Pak Karto terus berjalan seraya mengobrol soal yayasan yang akan segera aktif, termasuk kegiatan rumah tahfiz yang akan mulai diselenggarakan Jumat lusa.


"Semoga lancar nggih Mas, setidaknya dengan begitu, akan makin banyak anak-anak bisa belajar agama, dan akhirnya generasi yang akan datang adalah generasi yang sholeh dan sholihah, begitu kalau Pak Haji selalu bilang."


Ujar Pak Karto, yang mana tentu saja langsung diaminkan oleh Ridwan.


"Mampir ke rumah Pak Karto, sarapan di rumah saya."


Kata Ridwan saat mereka mulai memasuki pemukiman lagi, tepatnya sekitar delapan rumah lagi dari rumah Ridwan.


"Waduh, maturnuwun Mas, maturnuwun, tapi saya belum manasi mobil, tidak enak sama Pak Haji, padahal tidur di rumah, tapi kok malah tidak sekalian kerjain tugas dari pagi."


Kata Pak Karto.


Tampak Ridwan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Ridwan dan Pak Karto pun terus melanjutkan langkah mereka, sampai tiba-tiba Ridwan tanpa sengaja melihat ke arah warung Bu Hindun yang ada di belokan pertigaan sebelah kiri jalan dari arah Ridwan dan Pak Karto jalan kaki.


Tampak seorang Ibu berjalan dari arah warung menenteng tiga kresek belanjaan cukup besar dan sepertinya cukup berat.


Ridwan yang tidak asing dengan sosoknya, akhirnya memutuskan berhenti.


Kata Ridwan pada Pak Karto.


"Nopo Mas?"


Tanya Pak Karto yang jadi ikut berhenti.


"Niku, Ibune Bu Guru Iis."


Ujar Ridwan yang lantas melangkah ke arah Ibunya Bu Guru Iis.


Pak Karto pun mengikutinya.


"Bu'e..."


Sapa Ridwan, mengejutkan Ibunya Iis yang terlihat agak kesusahan membawa barang belanjanya.


"Eh Nak Ridwan,"


Ibunya Iis menghentikan langkahnya sejenak, Ridwan tersenyum seraya membungkuk memberi salam.


"Nuwun sewu, sepertinya berat bawaane Ibu, tek bantu bawa saja Bu."

__ADS_1


Ujar Ridwan menawarkan diri membawakan kresek belanjaan Ibunya Iis.


"Oh tidak apa-apa Nak, ini tadinya cuma ingin belanja sayur, tapi malah lihat ada beras raja lele, jadi Ibu sekalian beli saja, makanya agak berat. Tapi tidak apa-apa,"


Kata Ibunya Iis takut merepotkan Ridwan.


"Ibu pulangnya agak jauh dari sini Bu, mboten nopo-nopo Ridwan antar saja Bu, monggo,"


Ridwan lantas mengambil alih kresek belanjaan di tangan Ibunya Iis.


Pak Karto juga membantu membawakan satu.


"Mampir dulu ke rumah saya Bu, nanti sekalian saya ambil motor."


Ujar Ridwan pula.


"Aduh... Aduh... bagaimana ini, kok Ibu malah jadi merepotkan Nak Ridwan."


Kata Ibunya Iis.


"Tidak apa Bu, ini Mas Ridwan memang tidak bisa kalau melihat orangtua kesulitan,"


Ujar Pak Karto.


Ibunya Iis tersenyum,


"Iya lho, Nak Ridwan ini kok yo jadi orang baik sekali."


Puji Ibunya Iis.


"Mboten Bu, mboten... Aduh jangan memuji seperti itu, segala puji hanya milik Allah, saya hanya mengikuti apa yang diajarkan Nabi saja."


Kata Ridwan.


"MasyaAllah."


Ibunya Iis makin terkagum-kagum dengan sosok pemuda di hadapannya itu.


"Monggo Bu, rumah Ridwan sudah dekat kok,"


Kata Ridwan mengajak Ibunya Iis mampir sebentar agar Ridwan bisa mengantar menggunakan sepeda motornya.


Ibunya Iis pun akhirnya menurut, tentu saja, Ibunya Iis juga jadi ingin ke rumah Ridwan dan bertemu Ibunya Ridwan.


Bertemu sosok Ibu yang luar biasa, yang bisa mendidik anak laki-lakinya menjadi sosok sesholeh Ridwan. Dia jelas bukan Ibu sembarangan, sosok Ibu yang jelas berhasil mendidik anaknya adalah sosok Ibu sukses dalam arti yang sebenernya.


Begitulah menurut Ibunya Iis.

__ADS_1


**-------------**


__ADS_2