Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
152. Curiga


__ADS_3

Aku dari belanja untuk nanti acara pernikahan Is.


Kalau ada waktu, nanti aku ke rumahmu ya Is.


Sekalian antar aku milih baju pengantin ya Is di rumah rias Mbak Siti.


Aku dan Wisnu udah sepakat kamu nanti jadi penerima tamu untuk acara resepsi ya Is.


Iis membaca sejumlah pesan dari Anisa.


Pesan yang Anisa ternyata kirim sejak semalam, dan pastinya Iis sudah tidur karena menunggu balasan Anisa yang tak kunjung datang dan akhirnya membuat Iis memilih membaca buku.


Iis yang baru bangun untuk Sholat Subuh dan mendapati pesan masuk dari Anisa saat ia akan melihat jam di hp nya itu akhirnya memutuskan mengetik balasan sebentar.


Sori Nis, aku semalam ketiduran setelah baca buku.


Aku bahkan melewatkan bangun malam.


Sori banget.


Oke Nis, kasih tahu saja kapan mau ke rumah ya.


Iis mengirim balasan untuk Anisa.


Setelah mengirimkan balasan, barulah Iis meletakkan kembali hp nya di atas meja, lalu memakai sandal jepit dalam rumahnya, untuk kemudian keluar dari kamar.


Keluar dari kamar, tampak Ibunya sudah menyapu ruang tengah dan sedang menuju ruang depan.


"Ibu sudah nyapu saja."


Kata Iis jadi malu karena kesiangan bangun.


Mungkin bagi banyak orang, bangun jam lima pagi masih terhitung bangun pagi, tapi bagi Iis yang biasanya bangun malam lalu lanjut sampai subuh tentu bangun jam lima adalah kesiangan.


"Tidak apa-apa, semalam Ibu sempat lihat ke kamarmu, kamu tidur pulas sekali."


Kata Ibu.


Iis jadi semakin malu mendengarnya, benar-benar sudah seperti gadis pemalas saja yang bangun tidur lalu mendapati Ibunya yang justeru sibuk menyapu.

__ADS_1


"Habis nyiram bunga, Ibu mau jalan-jalan sekalian beli sayur ya Is."


Kata Ibu pada Iis yang aman ke kamar mandi.


"Oh nggih Bu."


Jawab Iis, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


Ibu pun meneruskan acara menyapunya, sampai ke luar rumah dan selanjutnya menyapu halaman.


Melihat tanaman di halaman yang masih basah karena turun hujan semalam akhirnya membuat Ibu mengurungkan niatnya untuk menyiram bunga.


Ibu tampaknya semalam juga tidak begitu sadar hujan turun lagi, karena pastinya sudah lebih dulu tidur lelap, dan bangun-bangun hujan telah reda.


Di dalam rumah, Iis keluar dari kamar mandi dan buru-buru ke kamar.


Ia tak mandi lebih dulu karena takut kehabisan waktu subuhnya.


Iis cepat-cepat melaksanakan kewajibannya lebih dahulu, yang meski hanya dua rokaat, tapi banyak sekali orang tak sanggup melaksanakannya.


Hingga Iis selesai mengucap salam, terdengar suara Ibu di luar kamar,


Kata Ibu.


"Oh nggih Bu..."


Sahut Iis yang lantas berdiri dan melepas mukenahnya, melipatnya dan juga melipat sajadahnya untuk lantas di letakkan di rak kamarnya.


Iis membuka tirai jendela kamar, dan membuka jendela kamarnya pula. Membiarkan udara pagi yang segar masuk ke dalam kamar untuk menggantikan udara semalam.


Setelah itu, gadis itupun merapikan seprei tempat tidur, lalu membersihkannya dengan sapu lidi khusus untuk tempat tidurnya.


Melihat semua sudah rapi, barulah Iis ke meja kamarnya lagi, untuk menyiapkan beberapa buku yang akan ia bawa ke sekolahan.


Saat Iis sibuk menyiapkan buku untuk di bawa ke sekolahan, tampak hp nya ada pesan masuk lagi.


Iis meraih hp nya, di mana kini tampak di layar tertulis pesan baru dari Anisa.


Iis pun segera membukanya untuk membacanya.

__ADS_1


Nanti sore ya Is.


Tulis Anisa dalam balasan pesannya.


Iis terkesiap.


Nanti sore?


Ah tidak bisa, nanti sore Iis sudah ada acara dengan Ridwan untuk ke tempat pembina yayasan.


Lalu Iis akhirnya membalas,


Kalau besok saja bagaimana Nis?


Tak lama setelah Iis mengirim pertanyaan, Anisa kembali mengirimkan pesan.


Kenapa?


Ada acara ya?


Sama siapa is?


Katanya kamu sudah ada pacar?


Kenapa tidak cerita?


Siapa orangnya?


Apa aku kenal?


Iis tertegun dengan pesan-pesan dari Anisa.


Kenapa dia?


Apa dia sedang mencurigai sesuatu?


Batin Iis.


Tapi...

__ADS_1


**------------**


__ADS_2