
"Saya terima nikah dan kawinnya..."
Acara akad nikah di rumah Iis yang digelar sederhana itu tampak berlangsung hikmat.
Suara Ridwan di depan penghulu dan wali nikah serta kedua saksi terdengar begitu mantap meskipun ada getaran karena rasa haru yang memenuhi dadanya.
Hingga kemudian pak penghulu bertanya pada segenap hadirin,
"Syah?"
Semua yang ada di sana pun serempak menjawab,
"Syah..."
"Syah..."
"Syah..."
Dan seketika disambut ucapan hamdalah pak penghulu, Ridwan dan juga para saksi serta Ibu masing-masing mempelai.
Sementara Iis yang mendengarkan proses Ridwan mengucap ijab qobul di ruang depan rumahnya dari dalam kamar terlihat menangis haru,
"Alhamdulillah Nak Iis, akad sudah selesai, mari keluar Nak."
Ibu perias pengantin yang masih saudara dengan Ayahnya Iis tampak membantu Iis berdiri dari duduknya di dalam kamar.
Berbalut kebaya putih mutiara, dengan hijab warna senada dan riasan cantik luar biasa, membuat Iis benar-benar manglingi,
__ADS_1
Ia berjalan pelan dari arah kamar dengan dituntun sang perias menuju di mana Ridwan kini duduk di depan pak penghulu,
Ridwan terlihat berdiri menyambut kedatangan isterinya, lalu membantunya duduk di depan pak penghulu untukmu kemudian melakukan proses penandatanganan surat nikah dan juga Ridwan membaca Sighat Taklik.
Doa-doa tak lupa pula dibaca begitu khusuk oleh penghulu, Paman dari pihak Bapak yang sebagai Wali nikah Iis meneteskan air mata.
Pak Haji Imron yang datang sebagai saksi juga jadi tak kalah terharu dengan proses pernikahan Ridwan dan Iis.
Tentu saja, bagi Pak Haji Imron, melihat kedua muda mudi itu menjadi pasangan halal rasanya membuat Pak Haji Imron seolah ikut memiliki harapan jika kelak dari keduanya akan terlahir anak-anak yang sholeh dan sholehah.
Anak-anak yang akan menjadi penerus kedua orangtua mereka mengajarkan ilmu agama juga sejarah negara, membuat keduanya bisa seimbang sejalan.
Menjadikan cinta mereka atas tanah air adalah dengan mengenal sosok-sosok di balik berdirinya negara ini, sekaligus juga mencinta agama ini dengan menjadi umat yang baik dan benar.
Sungguhlah, bisa jadi kita boleh berharap, dengan menikahnya pasangan seperti Ridwan dan Iis, akan terlahir kembali generasi sholeh yang cerdas dan berjiwa nasionalis seperti Bung Hatta, seperti Agus Salim, seperti Jendral Soedirman, seperti Wahid Hasyim, seperti Tjokroaminoto, dan masih banyak lagi tokoh Nasional yang sholeh luar biasa.
Saat sungkem keduanya tampak berlinang air mata, pun juga Ibu mereka juga sama menangis tersedu karena haru luar biasa.
Doa mereka panjatkan sembari mengusap kepala putra putri nya, doa terbaik dari para Ibu yang tentu saja langsung naik ke langit.
Begitu acara sungkeman selesai, mereka lantas mendapat ucapan selamat langsung dari Mbak Wening, dan Mas Amin.
Setelah itu barulah dari tamu yang lain,
"Selamat ya Bu Iis..."
"Selamat ya Pak Ridwan..."
__ADS_1
Ucapan selamat mulai disampaikan dari semua orang yang memiliki kesempatan hadir,
Dari sesama Guru di tempat mereka mengajar, juga dari keluarga yayasan di mana mereka mengabdi.
Ridwan dan Iis tampak menyunggingkan senyuman manis pada para tamu dan mengucap terimakasih atas kehadiran mereka dan juga doa baik yang disampaikan dengan tulus.
Ya Allah, syukur Alhamdulillah, untuk semua nikmat yang Engkau berikan, jadikan kami tak terlena dengan semua kebahagiaan ini Ya Allah, namun sebaliknya, jadikan kami sebagai hamba-hamba yang semakin banyak bersyukur dan dekat dengan Mu.
Aamiin.
Batin Ridwan.
Bersamaan dengan itu, seorang kurir datang membawakan rangkaian bunga ucapan selamat atas pernikahan Ridwan dan Iis,
Mbak Wening yang melihat kedatangan kurir tersebut menyambut ramah,
Ucapan selamat dengan rangkaian bunga mawar merah dan putih yang indah, dari Anisa dan Wisnu.
...T A M A T...
NOTE :
MIMPI USTADZ RIDWAN BERAKHIR DI BAB INI YA GAES... TERIMAKASIH SUDAH MENGIKUTI SEJAUH INI, NANTI KITA LANJUTKAN DI KISAH RIDWAN BERIKUTNYA SETELAH IA DAN IIS MENIKAH,
DI NOVEL...
"SHOLEHAH BERSAMAMU"
__ADS_1
See uuuuu...